Senin, 04 Mei 2015



 Perjalanan selama kuliah di semester 2 dengan mata kuliah tafsir BKI 
di UIN Sunan Ampel Surabaya.

Diawal cerita saya ini, terlebih dahulu saya bersyukur kepada Allah SWT. karena saya bisa melanjutkan kuliah saya pada semester dua ini. Dan Alhamdulillah berkat doa kedua orang tua saya, saya bisa bertahan di kota Surabaya ini yang kata orang kota Pahlawan.
Pada tanggal 2 maret 2015 disitu saya memulai perkuliahan untuk semester dua ini, dan ternyata pertemuan pertama pada hari itu mata kuliah Tafsir BKI yang dosennya tidak asing lagi. Dosennya itu adalah Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag. Beliau adalah seorang penulis buku yang terkenal diseluruh dunia. Beliau juga orangnya disiplin dan baik terhadap mahasiswa terutama kelas saya yaitu kelas B3. Beliau tidak pernah lepas memberikan kami motivasi, dorongan dan cerita pengalamannya diluar yang membuat kita termotivasi untuk mengikuti jejak beliau. “Semoga saya bisa seperti beliau.” bisikan dalam hatiku yang paling dalam.

Pada pertemuan pertama yaitu pada tanggal 2 maret 2015, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M, Ag langsung memberikan kami tugas kelompok yaitu mencari tafsir BKI yang dimana kita mencari pada tiga tafsir, yaitu Tafsir Al-Munir, Tafsir Ibnu Katsir, dan Tafsir Al-Azhar. Dan ketika beliau menjelaskan prosedur pembuatan buku ini. Pada semester ini beliau memberikan tugas kepada kami bukan lagi membuat makalah tapi kita disuruh untuk membuat buku. Kemudian menjelaskan juga materi sedikit tentang tafsir bki ini. Beliau menjelaskan dan memberikan gambaran tentang kewajiban berdakwah, ayat-ayat yang termasuk atau yang dianjurkan untuk berdakwah kepada masyarakat. Dan juga beliau menjelaskan tentang MUNASABAH ayat sebelumnya. Dan yang saya tangkap itu munasabah adalah penjelasan ayat sesuai pada ayat sebelumnya.
Ketika beliau menjelaskan diatas saya mengerti tapi kekurangan saya itu takut bicara depan beliau. Saya tidak tau kenapa saya bisa takut bicara depan beliau kalau dikelas. Tetapi lama kelamaan ternyata saya takut salah bicara dan malu kalau nanti bicara saya salah dan tidak nyambung dengan pembahasaan. Dan ketika itu saya hanya diam tanpa kata di kelas dan merasa takut kalau saya ditunjuk untuk bicara. Begitulah saya dikelas pada pertemuan pertama ini. Sampai-sampai saya ketiduran dikelas gara-gara tidak bisa bicara dan aktif pada diskusi pada pertemuan pertama ini. Dan ketika itu saya berpikir, “Kenapa teman-teman saya bisa, kenapa saya tidak,?” itulah suatu kalimat yang ada dipikiranku dan sampai sekrang saya belum bisa terlalu berani bicara depan umum apalagi depan teman-teman saya dikelas.
Kemudian beliau membagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok 1 membuat buku tentang ayat-ayat Bimbingan Konseling Islam dan mencari di tafsir al-munir. Kelompok 2 membuat buku tentang ayat-ayat Bimbingan Konseling Islam dan mencarinya di tafsir ibnu kathsir. Dan kelompok 3 membuat buku tentang ayat-ayat Bimbingan Konseling Islam dan mencarinya di tafsir al-azhar. Ketika itu saya dikelompok dua yaitu mencari ayat-ayat tentang Bimbingan konseling Islam didalam tafsir ibnu katsir. Saya mempunyai teman kelompok sebanyak 10 orang, diantaranya Muhammad Mizan, Ahmad Rifai, Rahmat Hidayat, Syarif Hidayatullah, Murni Janwar, Iva Umi Agustina, Nadia Nafisah, Rifki Muhammad Nur, dan Zahra Nisaul Azizah. Dan beliau mengatakan,”Minggu depan sudah selesai dan bisa di diskusikan juga”. Disitu saya merasa cepatt sekali tapi beliau memberikan saya dan teman saya motivasi dan dorongan dan akhirnya saya mengatakan didalam hati,”Saya pasti bisa membuat itu”       
Dan akhirnya semuanya tepuk tangan dan ketika itu juga pertemuan pertama telah selesai karena jam menunjukkan pukul 11.20 pertanda kalau mata kuliah prof telah selesai. Tetapi kelompok kami yaitu kelompok dua belum balik dulu karena ketua kelompok saya yaitu Muh.mizan mau membagi tugas-tugas per-anak. Setelah dibagi dan juga saya sudah mengetahui tugas saya dan akhirnya saya balik di asrama tercinta saya, didalam hati saya ketawa,”hehee”.
Keesokan harinya kelompok saya berkumpul diperpustakan UIN Sunan Ampel Surabaya untuk mencari buku atau tafsir ibnu katsir. Berjam-jam saya diperpustakan bersama teman kelompok saya dan akhirnya buku atau tafsir yang kami cari itu sudah dikumpulkan dan ketika itu kami mencari tempat untuk rapat sebentar lagi. Dirapat itu teteh Zahra menjelaskan sedikit tentang cara pembuatan buku ini dan lama kelamaan teteh Zahra memberikan dedline sampai hari rabu semuanya sudah selesai. Dan disitu saya berbicara karena cepat sekali kumpulnya dan juga waktu itu saya yang paling banyak mendapatkan tugas,” teteh Zahra yang cantik, kenapa cepat sekali kamu tidak kasian lihat saya yang banyak sekali ayat yang saya dapatkan,?” lalu teteh Zahra menjawab, “Itu tidak cepat kurniawan, ingat kata prof, Jangan mengeluh kalau kita mendapatkan tugas, cintailah tugas itu sebagaimana kamu cinta kepada orang tua kamu”. Lalu saya berkata lagi,”oke saya pasti bisa ko teteh tapi tidak lepas juga bantuan teman yahh,” dan teman-teman saya serentak bicara,”kami siap ko bantu kamu kurniawan”. Disitulah saya merasa terharu dan bangga mempunyai teman seperti kalian.
Setelah itu saya pulang sama teman-teman saya kembali ke asrama sambil membawa buku dan tafsir ibnu katsir. Ketika sampai dikamar saya istirahat baring di kasur sampai ketiduran bersama teman-teman kelompok saya.
Pada jam 18.05 saya bangun dari tidur saya dan langsung ambil alat mandi lalu mandi. Setelah mandi saya solat magrib berjamaah sama muazib teman kamar mizan. Setelah shalat magrib saya langsung kerja tugas yang diberikan oleh dosen tafsir BKI Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag. Saya kerja tugas itu sampai jam 9 malam dan setelah itu tidur.
Hari demi hari kulalui dan akhirnya selesai juga tugas saya. Ketika itu kalau tidak salah malam kamis kelompok saya kumpul dimasjid untuk melihat sejauh mana dikerjakan tugas ini. Dan Alhamdulillah punya saya sudah selesai meskipun masih banyak yang kurang dan harus saya perbaiki lagi atau revisi lagi.
Pada tanggal 9 maret 2015 pertemuan kedua bersama beliau berlangsung. Disitu kami memulai diskusi tentang ayat-ayat tafsir bimbingan konseling islam yang diambil dalam 3 tafsir, yaitu tafsir al-munir, tafsir ibnu katsir, dan tafsir al-azhar. Kemudian setelah itu masing-masing perwakilan kelompok membacakan tugasnya yang dikerjakan kemarin. Dimulai dari kelompok tafsir al-munir membacakan ayatnya munasabahnya dan kesimpulannya. Kalau tidak salah yang membcacakan tugasnya dari tafsir al-munir itu Muhammad Algifari. Setelah algi membacakan yang dia kerjakan Prof Ali menambahkan dan mengoreksi sedikit.
Setelah itu beliau menunjuk lagi dari kelompok saya yaitu tafsir ibnu katsir. Perwakilan kelompok saya yaitu Ahmad Rifai. Dan rifai membacakan ayatnya, munasabahnya, dan kesimpulannya. Setelah rifai membacakan yang dia kerjakan prof Ali menyuruh Rifai membacakan ulang karena mungkin prof Ali belum menangkap yang rifai sampaikan. Akhirnya rifai membaca lagi yang ia bacakan tadi. Ketika rifai selesai membacanya lagi Prof Ali belum juga menangkap yang dibacakan oleh Rifai. Akhirnya prof Ali memberikan kesempatan yang lain untuk menjelaskan kembali punya rifai. Lama kelamaan ada seorang yang mengangkat tangan dan dia adalah teteh Zahra yang mengangkat tangan. Dan teteh Zahra menjelaskan kembali munasabah yang dia dapat dari rifai. Ketika teteh Zahra selesai menjelaskan munasabah yang rifai baca tadi, Prof Ali langsung menangkap apa yang dijelaskan oleh teteh Zahra tadi.
Kemudian Prof Ali menyuruh lagi dari kelompok tafsir al-azhar untuk menjelaskan ayat-ayatnya, munasabahnya, dan kesimpulannya. Kalau tidak salah perwakilan dari kelompok tafsir al-azhar itu Nurfaega. Setelah nurfaega membacakannya temannya lag yaitu nanang supratna menambahkan sedikit apa yang nurfaega sampaikan. Ketika nanang selesai menambahkan sedikit apa yang nurfaega sampaikan dan moderator mengembalikan kepada Prof Ali untuk menjekaskan lebih lanjut. Prof Ali menjelaskan kembali apa yang benar atau apa yang tepat untuk munasabah pada ayat yang tadi dibacakan oleh perwakilan setiap kelompok. Setelah lama bercerita dan menjelaskan Prof Ali lagi-lagi memberikan kami motivasi dan dorongan. Tetapi waktu itu saya hanya diam lagi tanpa bicara apapun. Saya mau bertanya tetapi saya takut lagi bicara, entah kenapa penyakit atau rasa takut itu datang lagi. Saya belum bisa berani bicara depan umum karena saya masih ada rasa takut salah yang tidak bisa saya lawan.
Kemudian lama kelamaan jam menunjukkan pukul 10.20 lah. Perut saya bersuara dan selalu bersuara. Ternyata itu pertanda bahwa saya lapar. Saya berkata dalam hati, “Kapan yaah selesainya ini,lamaa sekali perut juga sakit mau makan hmmm”. Sambil menunggu mata kuliah ini selesai kami mengajak sebentar Prof Ali bercerita-cerita, bercanda-tawa tapi meskipun begitu rasa lapar saya tidak berubah alias tambah lapar karena selalu ketawa-ketiwi. Setelah itu Prof Ali melanjutkan penjelasan demi penjelasan ayat tentang kewajiban berdakwah. Tetapi kali ini saya tidak bisa tahan lagi rasa lapar saya ini dan akhinya saya berkata dalam hati,”Mendingan saya tidur saja kalau begini supaya rasa lapar ini tidak terasa”. Dan akhinya saya tertidur di belakang rahmat hidayat supaya Prof Ali tidak melihat saya.
Lama kelamaan Mizan membangunkan saya karena jam menunjukkan pukul 11.15, itu pertanda bahwa mata kuliah Tafsir Bimbingan Konseling Islam yang dosennya Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag akan berakhir. Dan saya bangun dari tidur saya sambil mengatakan dalam hati,”Alhamdulillah akhinyaa selesai juga”. Sambil saya ketawa dalam hati. Setelah itu saya pulang dan langsung keluar makan karena saya lapar sekali. Kemudian setelah itu saya pulang kepesma karena panas sekali dan juga kepala saya pusing sekali.
Ketika saya sampai di pesma saya langsung kekamar mandi untuk ambil air wudhu kemudian shalat dhuhur. Setelah selesai shalat, saya istirahat dikamar, sambil mendengarkan music sampai-sampai saya ketiduran.
Hari demi hari telah saya lewati bersama teman-teman saya, akhinya hari senin tiba lagi dan pertemuan ketiga berlangsung lagi. Seperti biasa ketika Prof Ali masuk kami serentak berdoa dulu sebelum belajar. Setelah selesai berdoa Prof Ali memberikan motivasi, dorongan untuk bangkit lagi dan memberikan nasehat kepada kami supaya kami bisa mengikuti jejak beliau. Amien...
Setelah itu prof menyuruh kita untuk membagi kelompok seperti biasanya. Kemudian membacakan tugas tafsir masing-masing seperti biasa. Tapi sebelum itu, beliau bercerita bahwa sahnya minggu depan beliau tidak masuk karena beliau mau pergi ke Hongkong. Beliau kesana karena dia dipanggil untuk menjadi pemateri didepan professor-profesor yang handal. Diskusi pun dimulai. Pembacaan ayat, munasabah dan kesimpulan dimulai pada kelompok tafsir al-munir yang dibacakan oleh algifari. Setelah itu dilanjutkan lagi kelompok tafsir ibnu katsir yang dibacakan oleh rifai sinaga. Pada jam 11.00 diskusipun selesai dan siap-siap untuk kembali ke pesma dan pesmi.
Hari demi hari saya lalui dan akhirnya tibalah hari menunjukkan hari sabtu. Saya bangun dari tempat tidur kemudian pergi ke wc untuk bab dan setelah itu whudu kemudian kembali dikamar untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh saya tidur lagi sampai jam 7 lewat 15 menitlah. Ketika saya bangun dari tidur, saya melihat hp saya dan ada whats up masuk. Kemudian setelah itu saya membaca pesan itu. Setelah saya baca pesan itu ternyata kelompok tafsir ibnu katsir disuruh kumpul di teras fakultas syariah yang tempatnya itu pas depan pesmi pada jam 9 pagi. Ketika saya selesai membaca pesan itu, saya dipanggil Mizan untuk sarapan pagi dikamar jadul. Sekedar informasi kalau kami ada komunitas makan yang beranggotakan 6 orang, yaitu Jajang, fikri, mizan, rifai, jadul dan saya sendiri kurniawan. Kami perbulan menyetor uang tiap bulannya itu 180.000 per orang.
Kemudian setelah itu, saya kembali dikamar lagi untuk siap-siap kumpul di teras syariah. Setelah itu saya pun bergegas ganti baju terus mandi dan pakai baju lalu berangkat ke tempat kumpulnya tadi. Dan ketika diperjalanan saya dan rahmat yang dari pangkep Sulawesi selatan itu pergi kekantin dulu untuk membeli minuman soalnya saya haus sekali. Tapi ketika itu saya hanya membeli satu saja, lama kelamaan rahmat bilang ke saya, “ni kok kamu belinya satu saja..? beliin satu dong haus juga nih.” Dan akhirnya sayapun membelikannya satu soalnya dia katanya haus juga. Kemudian setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju ke syariah itu. Dan ketika sampai di tempat ternyata perempuannya belum datang satupun, yang datang hanya laki-laki saja. Kami pun menunggu yang perempuan datang semua. Beberapa menit kemudian satu per satu teman yang perempuan datang dan membawa minuman dan makanan seadanya. 30 menit kami menunggu dan akhirnya lengkap sudah kelompok kami. Dan diskusi pun dimulai.
Mizan asrori sebagai ketua kelompok kami membuka diskusi pada hari itu. Lama mizan bicara dan rifai juga pun ikut bicara juga sekedar penambahan. Setelah selesai bicara, disitu juga dimulai resume kami. Pertama Zahra yang membaca fotocopyannya dan yang lainnya mencocokkan apa yang Zahra katakan. Begitupun kami lakukan terus sampai jam menunjukkan pukul 13.30. ketika itu kami pun selesai diskusi kami dan siap-siap untuk balik lagi ke tempat habitatnya masing-masing.
Keesokan harinya pada hari minggu itu kami berkumpul lagi untuk melakukan resume seperti apa yang dilakukan kemarin. Waktu itu kami kumpul di teras syariah seperti kemarin. Lama kelamaan teman kelompok saya mulai berdatangan satu per satu dan akhirnya semuanya datang. Seperti biasa sebelum dimulai diskusi kami ini, teman-teman saya bercerita-certia, bercanda tawa dan juga makan-makan cemilan yang saya bawa dari kamar. Jam menunjukkan pukul 10.15 diskusi pun dimulai dan mizan sebagai ketua kelompok kami memberikan sedikit kritikan dan saran kepada kami supaya resume kali ini akan berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang bagus dari prof Ali Aziz.
Ketika jam menunjukkan pukul 13.00, kami pun selesai diskusi. Tapi sebelum berakhir diskusi kali ini, waktu itu kebetulan ada penjual bakso keliling dan teman saya yaitu murni janwar memanggil si penjual bakso itu.”mas…mas… saya mau beli”. Kata si murni dengan suara yang lantang. Akhirnya si penjual bakso itu pun dating ke tempat kami. Disitu saya bertindak sebagai mandar, minta uang teman saya satu per satu. “Ayo kumpulkan uangnya 5000” kata saya sambil tanganku minta uang pada teman saya. Lama kelamaan uangnya terkumpul dan saya pergi membeli bakso itu. Dan memesan 5 mangko dengan harga 25 ribu. Setelah itu kami makan bakso bersama-sama tapi sebelum kami foto dulu biar ada dokumentasi nanti. Dan akhirnya kami tunggu dating juga makan baksopun dimulai.
Setelah kami makan bakso, satu per satu teman saya kepedesan karena tadi saya memberi lomboknya itu terlalu banyak. Teman saya pun bergegas mengambil air minum dikamarnya, teman saya itu ada Zahra karena dia tinggal dipesmi tapi masalahnya dia lantai 5 katanya dia capek naik tangga. Tapi disitu saya bilang ke Zahra, “kan udah biasa naik turun lantai 5” dan Zahra pun menjawabnya,” enak aja lohh capek tau naik tangga sebanyak itu”. Dan akhirnya zahrapun naik mengambil air minum di kamarnya. Lama-kelamaan Zahra pun dating dan akhirnya kami pun yang dari tadi kepedesan akhirnya terobati juga rasa pedasnya itu atau dengan kata lain rasa pedasnya itu hilang. Setelah kami semua minum air, kami istirahat dulu rentangkan badan soalnya kami kekenyangan semua tapi saya malah mau nambah lagi karena saya belum kenyang. Ketika kami selesai melemaskan badan kami siap-siap untuk balik ke habitat masing-masing.
Pada malam harinya, sekitar jam 19.00, saya membuka tafsir al-azhar karena besok itu UTS dengan mata kuliah Tafsir Bimbingan Konseling Islam. Ketika itu saya membaca tafsir al-azhar yang mau di ujiankan besok. Sejam kemudian saya selesai membaca tafsir itu dan saya dipanggil makan bersama lagi seperti biasanya. Dan akhirnya saya meninggalkan dulu bacaan saya dan pergi makan malam. Setelah makan, saya kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan bacaan saya. Sekitar pukul 11 malam saya mengantuk sekali dan akhirnya saya tidur dengan memakai selimut.
Tibalah waktu yang dinanti-nanti, ujian dimulai pada jam 08.00. kami masuk pada jam 07-45, tapi sebelumnya saya masuk intensive bahasa arab bersama teman-teman saya. Ketika waktu menunjukkan pukul 07.30, saya pun keluar dari intensive bersama teman-teman saya dengan perasaan kaget dan takut karena ujian UTS kedua dengan mata kuliah Tafsir BKI dan dosenya Prof. Ali Aziz. Beliau mempunyai asisten yang sangat bagus dan baik. Namanya yaitu Ustad Ainul Yakin. Beliau lulusan Universitas Al-Azhar Khairo mesir. Jadi proses perkuliahaan ini dipimpin oleh ustad Ainul Yakin tetapi prof ali masih masuk memberikan pencerahan dan motivasi untuk kami satu kelas. Dan pro sempat menceritakan waktu beliau di Hongkong.
Kita tidak boleh mengatakan “aku lebih baik dari mereka” karena semua orang sama di hadapan Allah SWT. Kita hendaklah rendah hati karena hanya iblis yang berkata “anna khoirun minhu”, aku lebih baik dari dia (QS. 7:12).
Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya) dalam tablig akbar pendalaman terapi shalat bahagia, Sabtu (29/12), di Masjid Ammar Wan Chai, Hong Kong.
Dikatakannya,  keluhan di dalam doa kita membuat doa kita tidak didengar oleh Allah SWT. Firman-Nya, barangsiapa tidak ridho atau tidak senang atas takdir-Ku, maka hendaknya ia mencari Tuhan yang lebih baik dari-Ku. “Maka hendaklah kita menyadari apa pun yang kita hadapi, apa pun dan bagaimanapun keadaan kita, semua hanya atas ijzn Allah SWT,” tegasnya.
Prof. Ali Aziz juga menyampaikan, kita sering lalai di saat Allah memanggil kita dalam adzan yang berbunyi, “Hayya ‘alash-shalah”, marilah shalat. Di saat itulah sebenarnya Allah SWT memanggil kita untuk menghadap-Nya.
“Di dalam kehidupan, di saat kita dipanggil atasan atau malah mendapat panggilan untuk bertemu presiden, mungkin kita akan datang jauh lebih awal sebelum waktu yang telah ditentukan. Namum disaat adzan, di saat Allah memanggil, sudah bersiapkah kita?”
Ia menambahkan, Allah SWT telah menjanjikan kebahagiaan bagi siapa saja yang menjalankan kebahagiaan. “Hayya ‘alal falah”, mari menuju kebahagiaan.
Kita pasti memiliki masalah, layaknya benang yang telah kusut dan berbelit antara satu dengan yang lainya. Namun, di saat kita ikhlas dan berserah kepada-Nya, semua akan menjadi mudah. “Rabb-mu tiada meninggikan kamu (Muhammad), dan tiada (pula) benci kepadamu” (QS.93:3).
Sedikit juga sekilas profil Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. beliau lahir pada tanggal 09 bulan juni 1957 di lamongan jawa timur.setelah tamat dari pondok pesantren ihyal ulum gresik, putra abdul aziz dan Nafisah ini kuliah dan lulusan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang dulunya masih IAIN sunan ampel Surabaya sebagai lulusan tercepat dan termudah pada tahun 1982. Setelah selesai menjadi Dekan Fakultas Dakwah dan komunikasi pada tahun 2004. Ia menjadi guru besar dan mengajar studi al-quran di pasca sarjana dengan universitas yang sama. Bapak dari 7 orang anak ini, dua kali terpilih sebagai dosen teladan nasional pada tahun 2004 sampai 2007. Ia juga menjabat wakil ketua MUI di jawa timur, ketua asosiasi profesi dakwah Indonesia pada tahun 2009-2013, ketua dewan pengawas syariah bank jatim, dan konsultan yayasan pendidikan Khadijah Surabaya.        
Setelah memberikan pencerahan dan motivasi, prof kemudian keluar karena ada sesuatu yang juga penting. Jadi ustad Ainul yang memimpin dan memberikan materi kepada kami. Setelah perkenalan dan Tanya jawab tentang ustad ainul yakin disitulah dimulai ujian kedua berlangsung dan juga disitu kami kaget-kaget karena ustad yang baru membuat soal untuk ujian ini. Jam menunjukkan pukul 08.00, kami pun siap-siap untuk ujian. Soal pertama pun dibaca sampai selesai. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan dan yang memeriksa itu kami sendiri tapi punya kita ditukar dengan punya teman yang disamping. Setelah selesai diperiksa secara serentak, selanjutnya nilai yang kami semua dapatkan disebut ketika ustad menyebut nama kami masing-masing. Dan selanjutnya ustad ainul yakin memberikan materi tentang politik islam di Indonesia. Inilah yang sempat saya catat.
Setelah semuanya selesai, kami pun istirahat dengan melemaskan badan di tempat masing-masing. Ketika semuanya melakukan pelemasan badan ustad ainul yakin bercerita tentang mezir dan pengalaman-pengalaman semenjak di mezir. Kami pun termotivasi terhadap pengalaman beliau semenjak kuliah S1 di Universitas Al-Azhar Khairo. Setelah beliau menceritakan pengalaman-pengalaman yang banyak sekali, kami juga pun selesai melakukan pelemasan badan, dilanjutkanlah materi tafsir bki yang dijelaskan oleh ustad ainul yakin ayat per ayat. Setelah lama menjelaskan dan waktu juga sudah habis maka ditutuplah perkuliahan untuk pertemuan kali ini. Tetapi sebelum pulang ustad ceramah sedikit tentang para imam masjid yang bacaannya kurang bagus karena bahasa arabnya dia tidak tau. Akhirnya ustad berinisiatif membuat program belajar bahasa arab pada hari sabtu pagi. Setelah itu kami pun siap-siap untuk pulang ke habitat masing-masing.
Hari demi hari saya lewati. Banyak kegiatan-kegiatan organisasi yang saya ikuti khususnya organisasi Css MoRA UIN Sunan Ampel Surabaya. Organisasi ini wajib kepada anak pbsb. Dan juga organisasi ini di ketuai oleh kakak nuril huda yang dari Madura. Kakak nuril ini orangnya itu baik banyak orang bilang kalau kakak nuril itu ganteng juga tapi menurut saya sih biasa aja. Kata orang juga kakak nuril ini tempat tinggalnya di Madura. Di Madura itu terkenal dengan adanya jembatan Suramadu yang menghubungkan antara selat Madura dengan Surabaya. Saya pernah jalan-jalan di jembatan suramadu tersebut tepatnya ketika saya datang dari kampong saya di Sulawesi selatan tepatnya di kabupaten Bone. Waktu itu saya bersama ustad saya pinpinan pondok pesantren al-ikhlas ujung bone, teman saya juga hafizah idayu, nurfaega, rahmat hidayat, Muhammad ishar kadir, Muhammad al-ikhsan, dan saya sendiri. Ketika sampai di jembatan suramadu tersebut teman saya mengatakan kalau dia mau singgah untuk mengambil foto di tempat tersebut yaitu Jembatan Suramadu ini.
Tetapi sopirnya bilang kalau disini tidak boleh singgah mobil ataupun motor apalagi untuk turun mengambil gambar ditempat tersebut. Setelah melewati jembatan suramadu kami pun mencari tempat makanan khas Madura. Makanan khasnya itu adalah tidak asing laggi yaitu soto Madura dan sate Madura.akhinya kami mendapatkan tempatnya yang tidak jauh dari jembatan suramadu. Setelah kami makan dan perut juga terlalu kenyang kamipun balik ke kota Surabaya sendiri yang dimana saya akan tinggal selama saya menempung kuliah saya di UIN Sunan Ampel Surabaya. Itu tadi sekilas tentang jembatan suramadu dan pengalaman waktu kesana.
Pada hari rabu tepatnya ketika selesai pelajaran filsafat ilmu saya dipanggil kakak kelas angkatan 2013. Ketika sampai di depannya kakak kelas itu bilang kalau saya dengan rahmat faisal nst dipanggil untuk mengikuti kegiatan pengembangan angkatan 2013 ke kota malang tepatnya di batu. Jadi otomatis saya dan rahmat faisal NST tidak mengikuti program belajar bahasa arab pada hari sabtu itu karena kami mengikuti kegiatan pengembangan 2013. Pada hari jumat pagi saya pun siap-siap untuk berangkat ke Malang bersama kakak kelas angkatan 2013. Ketika itu pada jam 7 pagi saya dan rahmat faisal NST pun berangkat ke depan kampus karena teman saya mendapatkan sms dari kakak kelas yang bernama kakak dedeh. Akhirnya kami pun berangkat ke depan kampus dengan mengangkat barang bawaan kita yaitu tas yang berisi baju. Di malang itu saya tiga hari disana soalnya pengembangan angkatan 2013 itu 3 hari. Disana saya banyak mendapatkan materi dan pengalaman yang sangat menarik. Pada hari minggu malam setelah penutupan dan juga dilanjutkan solawatan bersama ustad agus dan teman beliau. Setelah semuanya selesai kami pun pulang ke Surabaya lagi sekitar pukul 21.11. ditengah perjalanan kami singgah di pusat ole-ole khas malang. Sebagian turun untuk membeli makanan dan minuman. 30 menit kemudian kita lanjutkan kembali perjalanan kita untuk pulang ke Surabaya. Sekitar jam 11.30 kami pun sampai di Surabaya dengan kakak angkatan 2013.

Kami pun kembali masuk di kampus uin sunan ampel Surabaya. Sedikit tentang UIN sunan ampel. Pada akhir dekade 1950, beberapa tokoh masyarakat Muslim Jawa Timur mengajukan gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi agama Islam yang bernaung di bawah Departemen Agama. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, mereka menyelenggarakan pertemuan di Jombang pada tahun 1961. Dalam pertemuan itu, Profesor Soenarjo, RektorUniversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, hadir sebagai narasumber untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran yang diperlukan sebagai landasan berdirinya Perguruan Tinggi Aagama Islam dimaksud. Dalam sesi akhir pertemuan bersejarah tersebut, forum mengesahkan beberapa keputusan penting yaitu: (1) Membentuk Panitia Pendirian IAIN, (2) Mendirikan Fakultas Syariah di Surabaya, dan (3) Mendirikan Fakultas Tarbiyah di Malang. Selanjutnya, pada tanggal 9 Oktober 1961, dibentuk Yayasan Badan Wakaf Kesejahteraan Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah yang menyusun rencana kerja sebagai berikut :
·         Mengadakan persiapan pendirian IAIN Sunan Ampel  yang terdiri dari Fakultas Syariah di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah di Malang.
·         Menyediakan tanah untuk pembangunan Kampus IAIN seluas 8 (delapan) Hektar yang terletak di Jalan A. Yani No. 117 Surabaya.
·         Menyediakan rumah dinas bagi para Guru Besar.

Pada tanggal 28 Oktober 1961, Menteri Agama menerbitkan SK No. 17/1961, untuk mengesahkan pendirian Fakultas Syariah di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah di Malang. Kemudian pada tanggal 01 Oktober 1964, Fakultas Ushuluddin di Kediri diresmikan berdasarkan SK Menteri Agama No. 66/1964.
Berawal dari 3 (tiga) fakultas tersebut, Menteri Agama memandang perlu untuk menerbitkan SK Nomor 20/1965 tentang Pendirian IAIN Sunan Ampel yang berkedudukan di Surabaya, seperti dijelaskan di atas. Sejarah mencatat bahwa tanpa membutuhkan waktu yang panjang, IAIN Sunan Ampel ternyata mampu berkembang dengan pesat. Dalam rentang waktu antara 1966-1970, IAIN Sunan Ampel telah memiliki 18 (delapan belas) fakultas yang tersebar di 3 (tiga) propinsi: Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Namun, ketika akreditasi fakultas di lingkungan IAIN diterapkan, 5 (lima) dari 18 (delapan belas) fakultas tersebut ditutup untuk digabungkan ke fakultas lain yang terakreditasi dan berdekatan lokasinya. Selanjutnya dengan adanya peraturan pemerintah nomor 33 tahun 1985, Fakultas Tarbiyah Samarinda dilepas dan diserahkan pengelolaannya ke IAIN Antasari Banjarmasin.
 Disamping itu, fakultas Tarbiyah Bojonegoro dipindahkan ke Surabaya dan statusnya berubah menjadi fakultas Tarbiyah IAIN Surabaya. Dalam pertumbuhan selanjutnya, IAIN Sunan Ampel memiliki 12 (dua belas) fakultas yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan 1 (satu) fakultas di Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Sejak pertengahan 1997, melalui Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1997, seluruh fakultas yang berada di bawah naungan IAIN Sunan Ampel yang berada di luar Surabaya lepas dari IAIN Sunan Ampel menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang otonom.  IAIN Sunan Ampel sejak saat itu pula terkonsentrasi hanya pada 5 (lima) fakultas yang semuanya berlokasi di kampus Jl. A. Yani 117 Surabaya.
Pada 28 Desember 2009, IAIN Sunan Ampel Surabaya melalui Keputusan Menkeu No. 511/KMK.05/2009 resmi berstatus sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Dalam dokumen yang ditandasahkan pada tanggal 28 Desember 2009 itu IAINSA Surabaya diberi kewenangan untuk menjalankan fleksibilitas pengelolaan keuangan sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum (PK-BLU).
Terhitung mulai tanggal 1 oktober 2013, IAIN Sunan Ampel berubah menjadi UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 65 Tahun 2013.
Sejak berdiri hingga kini (1965-2015),  UINSA Surabaya sudah dipimpin oleh 8 rektor, yakni:
·         Prof H. Tengku Ismail Ya’qub, SH, MA (1965-1972)
·         Prof KH. Syafii A. Karim (1972-1974)
·         Drs. Marsekan Fatawi (1975-1987)
·         Prof Dr H. Bisri Affandi, MA (1987-1992)
·         Drs KH. Abd. Jabbar Adlan (1992-2000)
·         Prof Dr HM. Ridlwan Nasir, MA (2000-2008)
·         Prof Dr H. Nur Syam, M.Si (2009-2012)
·         Prof Dr H. Abd A’la, M.Ag (2012-2018)
                               
Beberapa hari kemudian, saya bingung mau nulis apa lagi. Dan akhinya saya membaca artikel dari prof ali yang berjudul Berdiri Diatas Api. Ini lah artikelnya. “Sungguh, Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit, setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At Taubah [09]:117)
Ayat di atas merupakan kelanjutan dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi. Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil ‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.
Umar bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan. Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan, tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras. Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air. Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu hanya di sekitar Nabi SAW.”
Dalam perang dengan perbekalan terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan. Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi, mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
Sebelum berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana itu, ia tetap meminta ampunan Allah.
Dari mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW, yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini, terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita, “Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat, dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah yang sedikit berubah.
Setelah Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa, dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”
Ka’ab keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.
Pada hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya, karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.
Sebelum memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria, “Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.” Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan sebagain hartanya saja.
   Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi pasti manis buah yang akan dipetiknya.
Setelah saya membaca artikel itu, saya membaca artikel lagi yang berjudul bangkit dengan jarum jahit. Isinya begini. “Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat; sungguh kami kembali (bertaubat) kepada-Mu. Allah berfirman, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.” (QS. Al A’raf [7]:156)
Ayat di atas adalah kelanjutan dari doa Nabi Musa AS pada ayat sebelumnya. Jika Anda hayati doa di atas, Anda pasti menyimpulkan betapa tulus dan lembut hati nabi yang menjadi musuh Fir’aun ini. Ia terkenal paling gagah perkasa, tapi luar biasa tenggang rasanya, paling cepat marah tapi lekas meminta maaf, dan sangat sayang kepada umatnya. Dialah nabi yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an, yaitu sebanyak 135 kali.
Ketika Nabi Musa AS memohon kepada Allah SWT agar semua kebaikan ditetapkan untuknya di dunia dan akhirat, dan agar taubatnya diterima oleh-Nya, Allah SWT menjawab, “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.”
Tulisan ini difokuskan pada firman Allah yang bergaris bawah di atas, ”..dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu (warahmati wasi’at kulla syay-in)” Artinya tidak ada satupun makhluk, khususnya manusia yang tidak mendapat sentuhan kasih Allah: muslim atau bukan. Bahkan cobaan yang berat yang dihadapi manusia itupun sebenarnya bentuk kasih Allah agar ia segera kembali ke jalan yang benar. Musibah atau cobaan yang Anda alami sebenarnya sengaja diberikan Allah SWT kepada Anda agar Anda selamat dari musibah yang jauh lebih dahsyat. Jika tangan Anda ditarik oleh seseorang sampai tulang bahu Anda nyaris patah, sungguh orang itu sayang kepada Anda, sebab jika tidak, Anda pasti akan hancur tertubruk kereta api ekspres yang berada persis di belakang Anda. Berterima kasihlah kepada “pemutus” lengan yang penuh kasih itu. Siksa Allah hanya diberikan kepada orang yang benar-benar sudah keterlaluan, “…dan Kami tidak menjatuhkan siksa, melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’ [34]:17)
Dalam kaitan itu, Nabi SAW bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada sebuah catatan yang terletak di dekat arasy dan di sisi Allah, “inna rahmati taghlibu ghadlabi (sungguh, kasih-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Agar lebih jelas, perhatikan sabda Nabi berikut ini. Umar bin Khattab r.a bercerita, “Beberapa tawanan perang dihadapkan kepada Rasulullah. Tiba-tiba seorang ibu di antara tawanan itu berlari kecil mencari anaknya. Setiap ia menjumpai anak kecil di antaratawanan itu, ia mengangkat dan menetekinya. Rasulullah lalu bersabda, “Menurut pendapatmu, apakah si ibu itu akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, “Demi Allah, tidak.” Nabi SAW lalu bersabda, “Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada kasih si ibu itu terhadap anaknya.” (HR Bukhari Muslim/ Kitab Riyadhus Shalihin I: 366)
Semua ayat dan hadis Nabi yang disebut di atas menjelaskan luasnya kasih Allah kepada manusia. Allah SWT sangat mengasihi dan mengampuni orang-orang mukmin. Hampir tidak mungkin menyiksa mereka. Allah SWT hanya menyiksa mereka yang kafuur (amat keterlaluan kekafirannya). Bahkan dalam hadis di atas dijelaskan bahwa setiap kali Allah SWT murka, Ia langsung membatalkan murka-Nya.
Sebagaimana diketahui, Allah memiliki 100 kasih (rahmat). Satu rahmat untuk kehidupan di dunia, sedangkan 99 sisanya disimpan untuk kehidupan akhirat. Setelah kiamat kelak, satu kasih itu dicabut kembali dan ditambahkan pada 99 agar genap menjadi 100 rahmat untuk orang-orang yang beriman seperti Anda. Semua ayat dan hadis di atas juga memberi optimisme hidup. Allah pasti menyanangi orang yang setiap hari bersujud kepada-Nya. Tidak mungkin Ia membiarkan Anda sendirian mengatasi masalah.
Untuk menggambarkan kasih Allah kepada semua makhluk, saya akan membangkitkan keimanan Anda dengan menyampaikan firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi yang panjang. Allah SWT berfirman: (1) Wahai hamba-Ku, sungguh, Aku mengharamkan kepada diri-Ku untuk bertindak dhalim, dan Aku mengharamkannya juga kepadamu. Maka janganlah kalian saling mendhalimi. (2) Wahai hamba-Ku, kamu semua tersesat kecuali orang yang mendapat petunjuk-Ku. Maka mohonlah petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu. (3) Wahai hamba-Ku, kamu semua orang lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mohonlah makan kepada-Ku, nicsaya Aku memberimu makanan. (4) Wahai hamba-Ku, kamu semua telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku memberi pakaian kepadamu. (5) Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu melakukan dosa, malam dan siang, dan Aku adalah Pengampun semua dosa. Maka mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. (6) Wahai hamba-Ku, kamu semua tidak akan bisa melakukan apapun yang merugikan Aku, dan tidak pula bisa melakukan apapun yang menguntungkan Aku. (7) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin bertakwa seperti ketakwaan seorang (yang shaleh) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak menambah sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (8) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin berhati jahat seperti kejahatan seorang (yang rusak iman dan akhlak) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak akan mengurangi sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (9) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir berkumpul di lapangan kemudian semuanya meminta kepada-Ku dan semua permintaan itu Aku beri, maka yang demikian itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Ku, hanya seperti berkurangnya air samudera jika diambil dengan jarum (yang dicelupkan). (10) Wahai hamba-Ku, segala sesuatu tergantung pada perbuatanmu, dan semuanya Aku perhitungkan dan Aku beri balasan masing-masing. Maka barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang melakukan selain kebaikan itu, maka jangan sekali-kali menyalahkan siapapun kecuali pada dirinya sendiri.” (HR Muslim dari Jundub bin Junadah r.a)
Bangkit dan optimislah. Kasih Allah SWT untuk Anda masih tersedia secara melimpah. Semua kesuksesan atau kebahagiaan yang telah diberikan kepada sekian banyak manusia sama sekali tidak mengurangi persediaan karunia untuk Anda, seperti air yang menempel pada jarum jahit kecil yang dicelupkan ke air laut. Limpahan air laut adalah limpahan karunia yang tersedia untuk Anda. Raihlah.   
Kulangkahkan kaki menuju fakultas tempat menimba ilmu, hari ini aku harus lebih semangat karena akan bertemu orang besar yang sangat menginspirasi, utamanya dalam hal tulisan. Intensif bahasa Arab berjalan seperti biasa dan aku senang dengannya, tidak lama berselang aku keluar dari kelas dan seketika itu pula bertolak ke ruangan yang biasa kami tempati belajar bersama Prof. Ali dan asistennya yang belakangan ini sangat sering bersama beliau. Baru sampai lima meter depan pintu aku sudah berjumpa dengan pemuda alumni Al-Azhar Kairo ini. Wajah yang selalu dihiasai senyum membuat hati tenteram di pagi yang meskipun aku belum sarapan. Tapi lapar bukan alasan untuk tidak semangat. Sama seperti waktu-waktu sebelumnya beliau (ust. Ainul Yaqin) tidak pernah berkenan tangannya dicium setiap kali salaman, hal ini jauh berbeda ketika aku menyalami pak Prof beliau dengan senang hati menyerahkan tangannya untuk kami cium sebagai simbol penghormatan santri kepada gurunya.
            Namun pagi ini aku hanya mendapatkan kesempatan salaman dengan ust. Ainul Yaqin, karena biasanya pak Prof akan kami salami jika kami terlambat masuk kelas. Alhamdulillah sekarang aku yang menunggunya dan dengan perasaan senang duduk manis menanti kedatangan sosok yang begitu menawan. Hari ini kami masuk lebih awal karena hendak UTS dan supaya keluarnya lebih awal juga. Berdoa sebelum belajar menjadi rutinitas yang tak tergantikan, dengan sigap Rafael sang KOSMA memimpin doa yang berbahasa Arab-Inggris. Doa ini kami adopsi dari doa sebelum belajar di Genta Pare. Alunan lagunya menyayat hati dan membuat pendengarnya terpukau.
            Selesai berdoa tidak lama kemudian sosok yang dinanti hadir di tengah kami dengan baju rapi dan bagus, nampak bahwa beliau ingin tampil perfect di hadapan mahasiswanya. “Saya sudah pakai baju terbaik dan celana baru untuk yang mau foto nanti,” dawuhnya kepada kami sesaat sebelum ujian dimulai. Tanpa disangka ternyata ust. Ainul Yaqin salah nge-print out soal, yang beliau print soal yang tafsir Al-Munir padahal sekarang tafsir Al-Azhar, otomatis beliau harus membuat baru 40 soal yang akan diujikan kepada kami.
            Sambil menunggu soal selesai, prof. Ali mengoreksi buku tafsir BKI yang kami susun satu persatu dimulai dari tafsir A-Azhar. Setelah empat kali revisi ternyata kami mengalami banyak peningkatan, ini pengakuan beliau setelah melihat tafsir Al-Azhar sedikit sekali yang salah. Tafsir kedua yang dikoreksi adalah tafsir Ibnu Katsir yang dikerjakan oleh kelompokku. Dalam seminggu ini kami berjuang keras untuk bisa mengikuti saran Prof. Ali dengan cara direvisi bersama. Caranya semua anggota kelompok memegang laptop dan ada satu yang membacakan teks aslinya dari referensi yang diambil. Di sini kami sempat bangga karena dari sekian kelompok yang ada hanya kami yang menerapkan metode demikian. Namun waktu yang dibutuhkan agak lama dan itu wajar untuk sebuah permulaan. Tapi yang terpenting adalah beliau optimis revisi ini tidak sampai 11 kali jika cara kerjanya seperti ini.
            Di balik kesenangan itu ternyata kami terkecoh, karena beliau langsung membuka halaman belakang yang belum sempat kami koreksi. Sudah kami perkirakan memang agak banyak salah yang terungkap dan ditemukan oleh beliau karena memang kami hanya berhasil merivisi 12 halaman dan sisanya sampai halaman 38 aku sendiri yang ngoreksi dan membacanya. Tapi tak apalah ini pelajaran berharga bagiku untuk tidak meremehkan semua bagian, entah depan tengah ataupun belakang. Ini beliau lakukan karena beliau ingin kami menjadi penulis yang cermat dan teliti serta tidak percaya penuh kepada penerbit.
            Koreksi selesai ujian pun dimulai dan soal demi soal dibacakan oleh asisten dosen dengan sangat jelas dan sukar menjawab pertanyaan yang katanya mudah untuk dijawab itu. Memang benar apa yang beliau katakan bahwa insyaallah tidak ada yang meraih nilai 100, dan itu menjadi nyata ketika Febi yang sebelumnya tertinggi mendapat 90 namun masih tertinggi dan berkesempatan foto bareng lagi dengan tokoh peradaban itu. Aku sendiri hanya bisa mengumpulkan nilai 60, sungguh hari yang buruk.
            Ini mungkin sebuah akibat dari ketidakpuasan ust. Ainul ketika kami ada yang benar semua. Tapi aku suka cara seperti ini, ketimbang dikasih yang gampang namun tidak ada tantangan dan datar-datar saja kan tidak seru. UTS selesai pak Prof langsung pamit dan menyerahkan kendali kelas kepada asdosnya yang super tampan. Namun sebelum keluar beliau memerintahkan kelompokku (Ibnu Katsir) maju kedepan dan menjelaskan perihal ayat-ayat dan tafsir yang mau diujikan minggu depan, darah memuncak dan sangat tidak percaya diri karena tidak ada persiapan. Tapi mau bagaimana lagi sudah perintah Prof. Ali, di situlah kadang perasaan saya menyesal karena tidak siap setiap saat.
            Akhirnya kami maju dan berusaha tampil sebaik mungkin, dengan aku sebagai pemandu atau pemegang kendali. Diskusi pun berjalan, satu persatu kami menerangkan materi yang akan diujikan minggu depan. Pertanyaan diajukan oleh mereka yang merasa belum puas dengan keterangan yang kami sampaikan. Alhamdulillah kami bisa menjawab dan memuaskan teman-teman. Sebagai paripurna ust. Yaqin menerangkan secara gambling dan global mengenai pemahaman dari ayat yang kami bahas barusan. Tidak seberapa lama beliau menjelaskan namun sudah menunjukkan keluasan ilmu yang beliau miliki. Pembelajaran ditutup dengan doa dan kafaratul majelis, dengan harapan semua ilmu yang kami pelajari bermanfaat dunia-akhirat.
            Semangat memang akan terlahir dari diri sendiri, betapapun seringnya motivasi dari luar tapi kalau diri kita tidak mengeluarkannya semangat akan tetap terpendam. Kira-kira begitu yang aku rasakan ketika sampai di kelas intensif bahasa Arab, perasaan was-was dan kurang semangat karena belajar yang kurang dan tidak siap 100 % menjadikan langkahku terombang-ambing tak menentu. Langkah ini terasa berat, badanpun menjadi bertambah gemuk susah untuk digerakkan padahal hari ini materi UTS diambil dari tafsir kelompokku yaitu Tafsir Ibnu Katsir. Tapi berhubung aku kurang serius membaca dan mempelajarinya akhirnya aku kurang yakin akan mendapat nilai bagus, meskipun bukan itu tujuan utama. Sebagaimana yang aku tahu pak Prof. Ali Aziz tidak pernah memandang hasil tapi proses, namun melihat prosesku yang seperti ini aku semakin merasa bersalah sama beliau.
            Aku sendiri merasa selama ini kurang serius mengikuti setiap pembelajaran di kampus ini, tidak tahu apa sebabnya semangat di semester dua seperti lebih menurun daripada semester satu. Padahal materi yang diajarkan tidak terlalu susah dan aku yakin bisa memahaminya jika aku tekun. Sering sekali aku merasakan hal demikian, yang sangat susah untuk bergerak dan membuat perubahan nyata tidak hanya sekadar menyadari saja. Untuk itu pagi ini aku berangkat lebih awal dan sampai di kelas intensif sebelum dosen datang.
            Tiba di kelas langsung kusatukan pandangan dan pendengaran untuk menyimak lebih dalam keterangan dosen insturuktur intensif yang sangat handal dalam bahasa Arab, beliau tahu betul metode pembelajaran bahasa yang efektif dan efisien. Aku sendiri sangat cocok dengan metode yang beliau terapkan. Apalagi beliau sendiri masih asli orang Madura.
            Seperti biasa setelah intensif selesai aku langsung menuju ruangan tempat mata kuliah Tafsir BKI. Tidak seberapa lama aku dan teman-temanku duduk manis menunggu kedatangan Prof. Ali bersama asistennya. Ternyata asisten beliau lebih dahulu datang dan langsung memulai dengan salam seperti biasa dilanjutkan dengan doa yang dibaca serempak dan mengalun dengan sepoi-sepoi. Doa yang kami dapat dari tempat kursus kemaren menjadi doa rutin setiap hendak memulai pembelajaran di kampus ini. Karena meskipun sudah tidak lagi siswa kami masih yakin dengan kekuatan dan barokah doa yang kami baca. Doa pertama tentang permohonan ampunan untuk diri sendiri dan dua orangtua, kemudian berlanjut pada doa lapang dada atau yang lebih dikenal dengan doa Nabi Musa a.s. ketika menghadapi Fir’aun yang konon dibaca Jokowi sebelum debat capres beberapa waktu lalu dan diakhiri dengan doa allaahumma yaa Mu’allima Ibrahiim ‘allimnaa waya Mufahhima Sulaiman Fahhimna. Doa terakhir dipakai di semua kelas yang diajarkan langsung oleh Prof. Ali Aziz.
            Sesaat sebelum doa selesai dibaca orang yang kami tunggu-tunggu kedatangannya telah bergabung dan join di tengah-tengah kami dengan wajah yang seperti biasa, penuh senyum dan keceriaan. Memandang beliau mengahdirkan keteduhan dan ketenangan, ini yang membuat beliau tetap awet muda dan kuat beraktivitas super padat setiap hari. Alangkah bahagia keluarga beliau memiliki kepala keluarga sesabar dan sehebat beliau. Sambil tersenyum langkah kaki Prof. Ali mengayun menuju kursi yang telah disediakan.
            Sama dengan minggu-minggu yang telah lalu, beliau memulai pelajaran dengan memanggil salam dan menanyakan keadaan kami semua. Kamipun serempak menjawab dengan jawaban alhamdulillah. Kemudian beliau menanyakan tugas kami bagaimana perkembangannya dan apakah sudah diedit. Syukur kami sudah berkumpul dan memusyarahkannya kemaren meskipun tidak seperti minggu kemaren yang sangat intens dan memakai metode yang diajarkan beliau. Perhatian kelompokku sedikit terbagi oleh materi UTS yang diambil dari tafsir kelompokku. Sedikit beban tentunya ada, sebagai tuan rumah kami dituntut untuk menjadi yang terbaik sebisa dan semampu kami, oleh karenanya kumpul tidak terlalu diutamakan kami lebih memilih untuk mempelajari apa yang akan diujikan hari ini.
            Sebelum ujian dimulai pak Prof meminta file Tafsir masing-masing kelompok untuk dikoreksi sebentar oleh beliau. Dimulai dari tafsir Al-Munir yang pertama kali siap untuk diberikan. Sambil mengoreksi tugas kami Ust. Ainul Yaqin memulai ujian tengah semester yang telah berlangsung kurang lebih empat kali. Soal pertama dimulai dengan perintah melengkapi ayat, agak tidak terlalu terkejut aku hafal ayat ini yaitu surat Al ‘Alaq yang tergolong surat pendek dan biasa dibaca sejak masih kecil. Namun petaka itu muncul ketika perintah melengkapi ayat terulang kembali pada soal-soal selanjutnya. Aku kelimpungan dibuatnya, jujur aku tidak hafal semua ayat yang akan diujikan. Tadi malam aku hanya membaca satu kali dan tidak menghafal secara intens ayat yang diujikan. Mungkin karena anggapanku yang mengira ayat ini sudah familiar dan sering didengar. Dugaanku meleset, ayat-ayat yang pernah aku hafal semua buyar dan hilang entah ke mana. Sampai akhirnya pak Prof meminta file tafsir Ibnu Katsir yang ada di laptopku, dengan pura-pura tenang aku berikan laptop putihku kepada beliau.
            Setelah selesai menyerahkan laptop soal pun dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mengecoh. Dibutuhkan kejelian dan ketelitian untuk menjawab satu soal, meski jawaban yang tersedia hanya dua yaitu benar atau salah (B/S). Ada satu soal yang begitu menjebak dan hanya satu huruf saja yang salah, subhanallah pandai sekali asisten Prof yang membuat soal ini. Sebagai seorang calon penulis besar kami diajak untuk berfikir cermat dan hemat, cermat dalam membaca segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, karena tidak jarang soal yang dilontarkan terdapat salah di sanad saja atau di matan saja itu bagi soal yang berupa hadits. Atau hanya lebih satu huruf, dan bisa kurang satu huruf atau salah satu huruf. Pokoknya kami harus benar-benar cermat. Hemat waktu juga diperlukan, karena waktu yang disediakan hanya beberapa detik. Sehingga setiap detik menjadi sangat berharga dan bisa dibilang lebih berharga daripada emas 24 karat.
            Tercatat ada 5-6 ayat yang diperintahkan untuk disempurnakan dan aku hanya bisa menyempurnakan dengan betul satu ayat saja, selebihnya gatot (gagal total). Dari hasil ini sudah bisa ditebak berapa nilai yang akan aku dapat, ditambah kesalahan-kesalahan lain yang tidak sedikit. Aku sudah pasrah dan ikhlas menerima nilaiku apa adanya. Aku sadari prosesku seperti apa maka aku pun tidak terlalu mengharapkan hasil yang berlebihan. Kata pepatah arab al-ajru biqadri al-ta’ab (pahala/imbalan sesuai kepayahannya). Dan ternyata benar, setelah ditukar dengan kepunyaan teman di sebelah yang kebetulan milik Rafael aku mendapat nilai yang tidak pernah aku dapat sebelumnya, nilai yang aku kira menjadi nilai terendah hari ini “55”. Nilai ini menjadi nilai terendah yang pernah aku raih sejak belajar bersama pak Prof. Betapa malunya aku mendapat nilai seperti ini, hendak ditaruh di mana mukaku ini, sebagai ketua kelompok aku gagal memberikan contoh yang baik untuk anggotaku. Merah padam wajahku menahan malu, namun aku harus berusaha tegar dan tidak cemen dengan hasil ini. Apapun yang kuraih ini yang terbaik untukku, karena ini murni hasilku tanpa tolah-toleh.
            Kebahagiaan karena masih bisa menghirup udara segar di pagi hari seringkali terlupakan. Berapa yang harus kita bayar jika tidak bisa bernafas dengan normal dan harus dibantu tabung oksigen? Ini baru nafas belum nikmat lain yang tak terhitung. Untuk itu aku harus lebih banyak tersenyum daripada menangis, lebih banyak gembira daripada bersedih. Oleh karenanya hari ini aku harus ceria menjalani hai yang penuh tantangan ini. Ya dua tantangan telah menantiku di bangku kuliah. Ujian intensif bahasa Arab dan UTS Tafsir BKI. Dua ujian tersebut hampir saja membuatku tidak nyenyak tidur, bukan karena sulit tapi karena waktu yang ada tidak sempat kumanfaatkan sebaik mungkin.
            Pagi ini aku bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena tadi malam aku tidur dalam keadaan lapar dan sedikit berat pikiran karena memikirkan ujian. Aku pun berangkat menuju fakultas yang terletak di ujung timur kampus bagian utara ini. Fakultas yang berjasa besar atas alih status IAIN menjadi UINSA. Sebab FDK telah merelakan satu prodinya untuk menjadi fakultas baru yaitu Fakultas Psikologi, seperti yang dipaparkan ibu dekan di suatu kesempatan. Aku bangga menjadi bagian fakultas yang konon menelurkan banyak pendakwah yang tidak hanya jago kandang melainkan telah kesohor ke seantero jagat.
            Sambil menggendong tas yang agak berat aku memasuki pelataran fakultas yang sepertinya menjadi fakultas dengan koran yang paling disiplin dipampangkan di depannya. Setiap hari mahasiswa sibuk membaca informasi mengenai negeri yang sedang carut-marut dan semakin tidak jelas arah pertumbuhannya. Akupun sering menyempatkan diri untuk membaca opini yang dimuat di koran kebanggaan orang Jawa Timur ini. Aku belajar banyak dari para penulis tersebut, tentang cara dan gaya penulisan opini dan bagaimana trik supaya bisa dimuat. Karena aku yakin tidak lama lagi tulisanku akan dimuat juga, amiin.
            Memasuki gedung fakultas ini pikiranku melayang dan kembali ke dua tahun silam. Waktu di mana aku masih berstatus siswa dan sehari-hari memakai sandal, seringkali telat karena tidur lagi ketika selesai Subuh atau karena mengantri mandi yang begitu lama. Pernah suatu hari kepala sekolah mendapatiku terlambat setengah jam dari bel masuk, kebetulan waktu itu sedang ada proyek pembangunan perpustakaan, beliau berkata “Sudah siang begini baru datang, kamu kalah sama tukang bangunan itu? Sudah sana pulang, pulang!” Badanku seketika lemas dan tidak berdaya. Kulangkahkan kaki menuju pondok dan kembali ke rutinitas awal (tidur pagi) atau pergi ke kantin untuk sekadar mengganjal perut yang sudah sangat keroncongan. Pengalaman pahit yang sangat sulit dilupa.
            Kini aku bisa leluasa masuk kapanpun dan datang ke fakultas sesukaku tanpa ada yang menghalangi dan menyuruhku balik. Tapi di sinilah proses kedewasaanku, apakah aku masih sama seperti dulu atau benar-benar bermetamorfosis menjadi mahasiswa yang sesungguhnya yang bisa menghargai waktu sebagai bentuk syukur karena telah diberi kesempatan untuk kuliah. Tapi kenyataannya aku memang masih saja sering terlambat dan seringkali membuat dosen menunggu kedatanganku, bukankah ini su’ul adab. Aku tahu dan menyadari bahwa kebiasaan terlambat bukan hal yang baik dan berarti ini bukan masalah bagiku karena aku menyadarinya namun yang menjadi masalah sekarang adalah aku sadar tapi tidak ada gerak nyata. Sungguh kesadaran yang kurang makna, namun aku yakin kesadaranku ini sudah merupakan langkah awal untuk mengubah diri, meskipun belum bisa beranjak ke langkah kedua.
            Ujian intensif kulaluli dengan agak sedikit mudah karena materinya sudah sedikit aku pahami dan kuasai, selesai langsung kusetor kepada Ust. Gofur yang ternyata tidak semua teman tahu nama beliau. Agak lucu memang tapi ini fakta bahwa sampai perkuliahan intensif hampir selesai masih ada yang belum mengetahui nama dosennya meskipun dua kali dalam seminggu berjumpa.
            Langkah kaki kuluruskan dan kumantapkan menuju ruangan yang sudah sangat familiar dan sepertinya walaupun mata ini terpejam akan tetap sampai ke ruangan itu. Setibanya di depan pintu aku terkejut karena Ust. Ainul Yaqin sudah berada di samping kanan pintu dan duduk di atas kursi, aku takjub pada kedisipilinan beliau, berbeda jauh dengan mayoritas orang Indonesia yang terbiasa memakai jam karet dalam hampir setiap aktivitasnya. Perasaan itu yang tebersit dalam hatiku dan langsung kubuyarkan dengan menyalami beliau setelah sebelumnya uluk salam. Beliau pun bertanya, “Sehat Mizan?” sapaan dari guru yang sangat tulus mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan tanpa mengaharap ujroh sepeser pun. Aku jawab sejujurnya, “Alhamdulillah sehat Ustadz”
            Untuk selanjutnya aku balikkan punggungku dan menyelinap masuk ke dalam kelas yang ternyata sudah sedikit penuh dengan manusia-manusia perantau yang rupa wajahnya bervariasi. Begitupun dengan aktivitas yang dilakukan, mereka terlihat sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang membeli roti dari mahasiswa yang merangkap menjadi penjual roti, sebuah profesi yang jarang terlihat di zaman digital ini. Kegiatan berjualan bagi mahasiswa sangat jarang terlihat apalagi bagi mereka yang gengsinya menyamai puncak Everest yang beberapa hari lalu menelan banyak korban. Ada sedikit kebanggaan tersendiri melihat teman satu kelas (Rafael) berjualan dan menjajakan rotinya di tengah-tengah kerumunan orang-orang yang sibuk dengan tablet, android dan segala macam pernak-pernik kehidupan yang sebagian besar hanya untuk happy dan have fun. Karena dengan seperti itu dia sudah menapaki tangga kesuksesan. Ini sangat cocok dengan perkataan Brain Tracy dalam buku Struggle For Success, ia menyatakan bahwa “Capaian besar dimulai dengan tahapan-tahapan kecil yang dimulai seketika”.
            Kelas ini memang tekenal dengan sebutan kelas nusantara karena orang-orangnya yang berasal dari berbagai pulau dan daerah di kepulauan Nusantara. Ada yang dari pulau Sumatra, pulau Kalimantan, pulau jawa, pulau Sulawesi, dan pulau Maluku. Dari keluarga tidak mampu sampai keluarga ningrat berkumpul dan tumpah ruah di kelas ini, maklum PBSB tidak dikhususkan kepada orang miskin saja melainkan bagi mereka yang berprestasi ketika masih di pesantren. Di kelas yang memiliki fasilitas satu buah AC dan enam lampu yang sering nyala tiga dan tiganya lagi laa yamuutu wallaa yahyaa kami belajar dengan dua orang yang sangat luar biasa mengagumkan. Suasana agak dingin dan sejuk membuat perkuliahan terasa lebih nikmat dan fokus berbeda ketika masih semester satu yang setiap hari Senin harus mendatangkan kipas angin atau bertahan dengan kepanasan yang ada.
            Juga di kelas ini kami menerima banyak hal baru setiap minggunya, mulai dari Prof. Ali Aziz dengan pengalaman-pengalamannya yang mengesankan sampai hal-hal yang bersifat mistik dan sangat susah dinalar dengan akal. Suasana panas di luar tidak terasa dan sedikitpun tidak mengganggu ketenangan kami yang masih dalam pencarian jati diri. Kehadiran pria alumni Al-Azhar ke dalam kelas dengan pakaian rapi ditambah jas yang kelihatan necis namun tetap sederhana membuat hening, kesibukan demi kesibukan ditinggalkan oleh mereka. Duduk rapi menjadi sebuah pilihan mutlak sebelum berdoa kalau tidak ingin kejadian kemaren terulang kembali, ya kejadian ketika asdos yang ternyata masih ada hubungan keluarga dengan Prof. Ali ini meminta kami mengulang doa sampai tiga kali karena tidak khusyuk dan sibuk dengan pekerjaan lain. Akhirnya kami menjadi sadar dan setiap kali hendak dan berdoa kami tidak sibuk dengan yang lain melainkan fokus pada doa yang dibaca. Alhasil doa menjadi sangat khidmat dan sakral.
            Setelah itu prof ali datang dengan baju yang rapi dan ganteng. Ketika beliau duduk dan beliau bercerita. Beliau cerita tentang artikelnya yang berjudul mutiara dalam lumuran darah. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)
                 Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.
              Ayat yang dikutip di atas merupakan kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya. Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”
            Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini, saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang? Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”
            Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut, kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan, “Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”
            Kasus serupa terjadi pada diri saya sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut. Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya “terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012 terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari. Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu..”
            Untuk Anda yang masih meragukan firman Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggota TNI Angkatan Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun. Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya sekian tahun yang lalu.”
              Dalam hidup selalu ada siang dan malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan. Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda, ”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.
            Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya. Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.
     Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.
                 Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka. Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda segera menemukan mutiara itu.
            Malam ini saya melihat artikel-artikel prof ali aziz karena sudah tidak bahan untuk tulis apalagi jadi mala ini saya membaca artikel prof ali yang sangat unik, yaitu judulnya mengejek rempeyek. Isinya begini, Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka,  dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik dari mereka, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan. Panggilan terburuk adalah (panggilan) sesudah iman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yangdhalim” (QS. Al Hujurat [49]:11)
Ayat di atas saya pilih untuk kajian Al Qur’an kali ini, setelah pada tanggal 12 Oktober 2013, saya tinggal semalam bersama para mahasiswa, anak buah kapal, pekerja pabrik dan pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hualien, kota kecil sebelah timur Taipei. Terpaksa naik pesawat, karena saya dan rombongan dari KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) kehabisan tiket kereta api. Salah satu tujuan kunjungan ini adalah apresiasi kepada wanita Indonesia yang menjadikan tokonya untuk pusat kegiatan Islam dan perlindungan untuk semua warga Indonesia di Hualien. Anda pasti bertanya-tanya, apa hubungan Hualien dengan ayat ini.
15 tahun yang lalu, Yani (45 tahun) pembantu rumah tangga (PRT) dianggap “gila” oleh orang sekampungnya di Jawa Tengah dan teman sekerja di Taiwan. Ia menikah dengan penduduk Taiwan yang lumpuh total karena enam tulung punggungnya patah dan sistem syarafnya rusak karena sebuah kecelakaan. Ke manapun ia pergi, hanya ejekan yang diterima. Janda dengan dua anak asal Purwokerto itu benar-benar hanya ingin menyemangati orang walaupun tidak seiman, dan sama sekali tidak ada yang bisa diharapkan darinya, karena pria itu tidak hanya cacat, tapi juga amat miskin.
Sebagai istri yang setia, setelah menyuap makanan untuk suami, ia keluar untuk menjual rempeyek (kerupuk tipis) yang dititipkan di sejumlah toko. Sore hari, ia cepat-cepat pulang untuk merawat sang suami, dan keluar lagi untuk melanjutkan usahanya. Itu dilakukan bertahun-tahun untuk suami yang masuk Islam sebelum pernikahan, dengan tulus dan tanpa keluhan sama sekali.
Suatu saat, hati Yani goyah, karena seorang teman mengejeknya, “Gila kamu ini.  Andai mau kerja di majikan, tentu kamu dapat bayaran Rp. 6 juta perbulan untuk keluarga di Indonesia.?” Tapi, jiwa kemanusiaan istri ini luar biasa. Ia sangat iba, sehingga tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sudah menderita. Suami juga benar-benar menyemangatinya. Sekalipun ia hanya bisa menggerakkan tangan, ia selalu berusaha sebisanya untuk membantu sang istri membuat rempeyek. Beberapa kali ia terjatuh, dan bangkit lagi. “Benar-benar ia orang Taiwan: gila kerja, pantang menyerah,” puji sang istri.
Setelah 4 tahun berlalu, tiba-tiba sang suami bisa bangkit. Sedikit demi sedikit dengan obat dan operasi jutaan dolar yang ditanggung pemerintah, sang suami, Ye Ming Cen bisa berjalan. Dengan tenaga sekuatnya, ia berternak ayam di halaman rumah. Usaha itu berhasil bersamaan dengan semakin terkenalnya “Rempeyek Yani.” Sekarang, ia memiliki toko Indonesia di Tzi Chians Road yang terbesar Hualien. Tidak hanya terkenal dengan Toko Yani, tapi juga Mushala Yani. Sekalipun Ming Cen belum shalat lima waktu, tapi dialah yang paling bersemangat menyiapkan tempat dan peralatan shalat untuk ratusan pekerja Indonesia di salah satu ruang tokonya. Bahkan pada pelaksanaan shalat idul Fitri pertama kali di Hualien yang diadakan di pinggir pantai, Agustus 2013 yang lalu, dialah yang paling sibuk menyiapkan tikar, sound system, dan memintakan ijin kepada pemerintah setempat. Ia terpanggil “menghidupi” orang Indonesia, yang selama ini telah “menghidupinya.
Roda hidup selalu berputar. Jika Anda di atas, bersiaplah, suatu saat untuk berada di bawah. Jika sedang di bawah, jangan berkecil hati, optimislah, cepat atau lambat, Anda akan di atas. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran itu) Kami pergilirkan di antara manusia…” (QS. Ali Imran [3]:140). Warga sekampung di Indonesia, yang dulu mengejek Yani, sekarang merekalah yang paling sering meminta bantuannya. Teman-teman sekerja di Taiwan yang mengolok-oloknya sekian tahun silam, sekarang menjadikan Toko Yani sebagai tempat ibadah dan pusat posko perlindungan setiap kali mengalami masalah pekerjaan di negeri Formosa.
Firman Allah di atas memberi peringatan, jangan mudah mengejek orang karena status, profesi, etnis, atau apapun alasannya. Jika Allah merubah nasib orang yang Anda pandang hina, lalu ia berada di atas roda, dan Anda di bawah kakinya, betapa derita psikologis Anda? Jika ejekan itu menyangkut prilaku seseorang, jangan-jangan Anda seperti burung merak, yang memukau orang karena bulunya, dan dengan kemilau bulu itu, ia pandai menutupi kakinya yang jelek. Orang yang Anda ejek itu orang lugu dan jujur, tidak pandai beretorika, dan miskin asesori penampilan, sehingga yang terlihat keasliannya. Tapi bagi Allah, ia jauh lebih terhormat dari Anda. Jika Allah membuka aib  Anda, dengan apalagi Anda menutup muka-malu Anda? Bisa saja, orang yang Anda pandang sebagai “setan” itu suatu saat bertobat, lalu kesalahennya melampaui Anda.
 Firman Allah di atas, Allah juga berpesan, “Jangan mencela dirimu sendiri.” Artinya orang lain itu saudaramu sendiri. Berarti, ejekan kepada mereka, sebenarnya memantul kepada diri Anda sendiri. Jika Anda suka dipanggil dengan panggilan kerhormatan yang menyenangkan, maka jangan memanggil mereka dengan label-label kehinaan. Kasihilah sesama, Allah dan semua penduduk langit akan mengasihi Anda. Buatlah mereka tersenyum, Allah pasti akan tersenyum kepada Anda. Senyum ibu Yani dan kasihnya yang tulus kepada orang menderita dengan sejuta pengurbanan, membuahkan senyum Tuhan kepadanya, dan senyum itu baru ditunjukkan oleh-Nya setelah sekian tahun berlalu.
Ayat di atas secara tersirat mengingatkan Anda untuk berhati-hati setiap bicara. Ucapan itu bagaikan anak panah yang terluncur dari busurnya. Berhati-hatilah dari perkataan yang bernada merendahkan orang. Luka hati lebih menyakitkan dari tusukan belati. Semakin sering Anda menghina seseorang, semakin jelaslah bagi orang lain, siapa Anda sebenarnya. Pintu rizki di langit juga semakin tertutup untuk Anda, karena semakin sedikitlah orang yang mau bekerjasama dengan Anda.
Jika Anda mendapat ejekan, diamlah. Dengarkan, dan biarkan pengejek itu mati dengan kelelahannya sendiri. Jangan membantah walau dengan sepatah katapun. Bantahlah dengan perbuatan nyata, sebagaimana yang dilakukan ibu Yani dengan kerja keras, pantang menyerah untuk merubah nasibnya. Andaikan ia bukan wanita, saya pasti merangkulnya untuk menyerap nilai cinta kasih, pengurbanan, dan ketauladanaan kesabaran dan kerja kerasnya. Keberpihakan Anda sesaat kepada orang menderita, lebih baik baginya daripada kedekatannya dengan orang lain yang tidak peduli sepanjang masa.
“..dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim” (QS. Al Hujurat [49]:” Firman Allah ini mengandung anjuran untuk bertobat bagi siapapun yang terbiasa memandang rendah orang lain.  Oleh sebab itu, setelah membaca artikel ini, mohonlah ampun kepada Allah. Lalu berjanjilah untuk menebar kasih dan penghormatan, bukan ejekan dan kebencian. 
Itulah artikel yang say baca pada malam ini. Setelah itu saya keluar untuk cek uang di atm, soalnya kakak saya bilang sudah dikirim uangnya. Ternyata sampainya disana uangnya masih itu. Tidak ada penambahan uang. Setelah itu saya balik kepesma dengan perasaan kecewa. Tetapi ketika saya sampai didepan rektorat ada munir didepan saya dan akhirnya munir mengajak saya untuk ngopi bareng di samping basecamp css MoRA. Ditengah perjalanan munir cerita tentang cewek kenalan baru dia. Dia bangga sekali karena si cewek itu fans sekali dengan munir. Ketika sampai di samping basecamp ternyata tempatnya ketutup, akhirnya kami pun meneruskan perjalanan ke tempat ngopi angkring namanya. Disitu lumayan sudah enak makanannya ada wifinya juga jadi kami bias internetan sambil ngopi ditempat tersebut. Waktu menujukkan pukul 21.39 kami pun balik kerumah atau pesma dengan jalan kaya teller karena kami ngantuk.
Hari ini hari sabtu, dimana kami kelas nusantra ini mempunyai agenda yaitu kajian ples kuliah tentang tafsir BKI. Pada hari ini materinya tentang Aku, Istri Nabi Tertuduh. Inilah kisahnya.
 Seperti biasa, sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan Bani Mustaliq.
Aisyah binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajah
ku merona gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira yang membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar dan berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan Allah. Peperangan dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah SWT. Aku pun dinaikkan di atas unta yang memanggul haudah[1].
Setelah peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin, Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali menuju tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti di suatu tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah salah satu dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya. Beliau sangat memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat letih kala itu. Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota Madinah malam itu juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua pasukan Islam yang telah memperoleh kemenangan.
Saat semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib. Kuputuskan mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan sebuah kalung. Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir, kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami. Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah, Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin. Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa? Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang, para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.  Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu hingga sampai ke Madinah.
Shafwan menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi Allah, tak ada satu huruf pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan, Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah, sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih terekam dalam ingatanku yang paling getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan orang-orang lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut pula menjadi biang gosip.
*  * *
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau hanya menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu begitu saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya sendiri, Misthah.
“Sungguh buruk kata-katamu. Apakah kau mencela seseorang yang pernah berjuang di peperangan Badar?” kataku padanya.
Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?” ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu. Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi gunjingan orang-orang?”
Ibuku menenangkanku agar tidak risau dan gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan air mata dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,begitulah jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku, apakah ada sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
* * *
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum pernah duduk di sampingku selama tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu (dengan membelamu). Dan jika kau melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta ayah dan ibuku agar membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka, “Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu –meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku. Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami –ayah ibuku yang merupakan mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai Aisyah,  sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.” Itulah kalimat pertama yang kudengar dari suamiku.
Spontan, ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak akan memuji kepada siapapun selain Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari tuduhan itu dengan firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]
Kemudian saya dengan ustad ainul yakin berbicara dan sedikit curhat tentang saya. Dan lama kelamaan dia menyuruh saya membuka artikelnya dengan judul kesetiaan. Dan saya pulang dan mencarinya. Selang beberapa menit saya menemukannya. Ini dia ceritanya.
Pagi ini –mumpung hari libur- saya menonton film yang berjudul From Bandung With Love. Saya tidak akan menceritakan alur cerita film itu. Tapi paling tidak, saya bisa mengambil pelajaran yang cukup menarik dari film itu yaitu arti kesetiaan. 

Setelah menonton film itu, saya sempat berbincang dengan beberapa teman saya. Tentu bahasan kami tak keluar dari film itu. Namun, sebelum tulisan saya ini lebih jauh, agaknya kurang sopan bila saya -yang masih belum berkomitmen dengan seseorang manapun- tidak kulo nuon berkicau tentang kesetiaan di depan anda yang sudah berpasangan dan hidup berumah tangga.

Saya hanya ingin berbagi obrolan saya bersama teman-teman saya. Meski tak satu pun di antara kami yang sudah berkomitmen dengan seorang wanita, tapi paling tidak hampir semua dari kami pernah mengalami dan merasakan makna kesetiaan.
Kesetiaan memang awalnya tumbuh dari rasa. Dan sebuah rasa, pastinya anda tak bisa membatasi pemiliknya. Kita tak bisa melarang anak SMP menyukai teman sekelasnya. Kita juga tak bisa mengharamkan kawan kita untuk tidak mencintai sahabatnya sendiri. Kita pun tak bisa mengekang perasaan kita kepada orang yang kita cintai. Karena sebuah rasa, timbul dari hati. Dan hati tak bisa dipungkiri.
           
Namun ada solusi terbaik yang menggarisi dan mengawal rasa yang dicipta oleh hati, yaitu agama dan norma. Bila kita menimbang rasa kita, mengukur hati kita dengan patokan agama dan norma, tentu rasa yang ditimbulkan oleh hati kita tak akan jadi masalah. Yang menjadi bencana, apabila kita mengabaikan agama dan norma dan lebih menuhankan rasa. Bila itu terjadi, apapun yang digairahi oleh hati dan keinginan kita, harus kita peroleh dengan berbagai cara.

Sederhananya seperti ini. Beberapa hari lalu, ada seseorang yang minta doa kepada saya agar rumah tangganya langgeng dan harmonis. Saya sempat tergelak mendengarnya lantaran dia salah alamat dan alamat yang dia dapat palsu. Tapi apa salahnya? Apa dia salah bila meminta doa? Dan apa salah saya jika sekedar mendoakannya? Intinya, dia mulai resah dan takut melewati perjalanan rumah tangganya. Dia bercerita bahwa tetangganya –seorang perempuan- yang sudah beranak-pinak selingkuh dengan tetangganya sendiri yang masih berumur dua puluh sekian. Singkatnya saya sampaikan kepada dia, selain Tuhan memberikan rasa pada setiap hati manusia, Tuhan yang Maha Sempurna tak lupa pula memberikan batasan-batasannya; agama dan norma.

Contoh satu lagi yang sering kita dapati, seseorang yang ditinggal menikah oleh mantannya dan ia masih punya rasa kepada mantannya. Apalagi kalau mantannya juga masih menyukainya. Perasaan dua insan ini bila tak ditengahi oleh agama dan norma, akan menggerus tatanan kehidupan orang lain.
Agama dan norma memang dua undang-undang yang mengikat dan mengatur rasa, cinta, dan kesetiaan setiap manusia. Kembali kepada kesetiaan, seorang teman saya mengatakan janji kesetiaan itu muncul setelah akad nikah. Sebelum akad nikah, sebaiknya kita tak terlalu muluk-muluk dengan kesetiaan sebab bila seorang wanita yang kita cinta tidak berjodoh dengan kita, kita tidak sampai menggigit lengan kita hingga tak bersisa, cukup gigit jari saja.

Rupanya, pandangan teman saya tadi bersumber pada pengalaman pribadinya. Hingga dia mengartikan kesetiaan hanya tercipta dari sebuah pelaminan. Mungkin dia lebih menafsirkan kesetiaan dalam arti sebenarnya yang ramping. Terbatas. Dan bukan luas.

Saya mencoba berbeda dengannya. Saya lebih condong memaknai kesetiaan dalam arti yang umum. Setia bagi saya adalah kamus terbesar dalam kehidupan berpasangan. Berpasangan dalam makna yang luas tidak hanya kehidupan suami-istri atau berpacaran atau bertunangan. Seorang karyawan harus setia dengan atasannya. Seorang murid harus setia dengan gurunya. Seorang anak harus setia dengan orang tuanya. Seorang pedagang harus setia pada pembelinya. Begitu juga sebaliknya. Kecuali bila ada sesuatu yang –dengan pasti- memutus tali kesetiaan itu.

Ya, saya lebih senang mengartikan kesetiaan seperti itu. Dan sebuah kesetiaan memang harus dibangun dalam sebuah komitmen, berumah tangga misalnya. Itu yang resmi. Atau komitmen yang tak terlalu resmi seperti berkehidupan sosial antar sesama. Karena kehidupan tanpa kesetiaan, semuanya akan sia-sia. 

Kesetiaan merupakan tema besar yang tak cukup diuraikan dengan lembaran tulisan dan ribuan kata lisan. Setia? Setialah kepada siapa saja yang anda pikir layak untuk mendapatkan kesetiaan anda. Setialah selama agama dan norma mengamini kesetiaan anda.  Setialah, selama setia itu masih pantas untuk ditebar. Setialah lantaran setia cukup mahal harganya.

Malam ini saya membaca artikelnya prof ali dengan judul Juz tomat memajukan bangsa. Mau tau isinya tentang apa?? Ini dia isinya. Jus tomat bisa menyehatkan badan, itu sudah jelas. Seiring dengan kesadaran masyarakat tentang minuman kesehatan, saat ini semakin banyak penjual minuman sari buah itu di tepi-tepi jalan raya, dan saya senang melihat pembeli antri membelinya. Tapi bisakah Jus Tomat menjadi “jimat” untuk memajukan bangsa?
Semua tokoh masyarakat dari semua lapisan mengakui bahwa kemajuan ekonomi telah dirasakan. Bahkan jumlah orang kaya jauh meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tapi pada saat yang sama, kita menyaksikan sesuatu yang kontras. Orang miskin yang terdaftar (saja) penerima BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) atau kadang disingkat BALSEM berjumlah 15,5 juta orang.  Bersamaan dengan itu, kita menyaksikan dengan mata telanjang  kenyataan rapuhnya karakter semua elemen bangsa. Lembaga pendidikan umum dan Islam, yang seharusnya menjadi pusat penguatan karakter, juga terjangkit virus perusak karakter yang sama.  Setiap Ujian Nasional akhir tahun, kita selalu dikejutkan berita adanya kebohongan yang dilakukan guru atau tenaga kependidikan demi mercusuar sekolah atau daerah.
Dalam dunia politik, wajah para pemimpin kita digambarkan oleh pengamen di atas bus kota. Dua pemusik jalanan, masing-masing  dengan gitar dan harmonica menyanyikan lagu sindiran secara kompak. “Aku sudah tidak perlu rumah mewah, karena telah dibeli para wakilku. Tidak perlu memiliki rekening di bank,  karena telah diambil oleh wakilku. Tidak perlu kendaraan bermilyar, karena telah dinaiki wakilku. Jika aku mati, aku akan bebas, karena semua dosa telah diambil-alih para wakilku.”
Tidak sedikit pimpinan kita yang terseret ke meja hijau menjadi pemain sandiwara yang handal, padahal tidak pernah sekolah teater sebelumnya. Uh, untuk mendapat simpati dari para penegak hukum, mereka bisa bersandiwara sakit dengan infuse di tangan, atau perban di kepala dengan ekspresi yang luar biasa penghayatannya. Atau berlagak pikun dengan suara yang mantap di depan para hakim, padahal ia sebelumnya cerdas, kuat ingatan dan tidak pernah keliru menghitung kekayaannya.  Ada juga public figure yang tiba-tiba saja tampil beda: berjilbab rapat di kepala, atau baju koko-takwa ketika menjalani pemeriksaan. Semoga itu dandanan simbol kesungguhan bertobat.
            Inilah waktu yang tepat kita suguhkan “Jus Tomat” untuk kesehatan karakter bangsa kita ke depan. Jus Tomat yang saya maksud adalah singkatan dari delapan karakter mulia, yaitu Jujur, Ulet, Sabar, Tawakal, Optimis, Menghargai, Amanah dan Tanggungjawab. Karakter itulah yang menjadi cita-cita Nabi SAW, bahkan selalu memenuhi pikirannya sepanjang tugas membimbing umatnya. Allah SWT memuji kesunggguhan perjuangan Nabi itu. “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah [9]:128). Itulah orang yang harus Anda idolakan. “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” .(QS. Al-Ahzab [33]:21)
Tidak ada satupun orang yang meragukan kejujuran Nabi. Musuh yang paling jahatpun tidak bisa menemukan satupun bukti kebohongan Nabi. Mereka harus mengakui kebenaran gelar Al Amin (Manusia Terpercaya) yang diberikan oleh masyarakat kepadanya. Selain Nabi, sekalipun terkenal sedunia sebagai orang jujur, pasti pernah satu atau beberapa kali dusta. Minimal dirinya sendiri yang mengetahui. Negeri ini amat kaya orang cerdas intelektual tapi tidak cerdas emosional dan spiritual.
Dengan kecerdasan itulah,  seorang oknum pegawai negeri sipil bisa memiliki rekening ratusan milyar.  Sekian lama, ia aman saja melakukan korupsi dengan bersiul-siul karena aman dari diteksi penegak hukum. Ia jugalenggang kangkung menghabiskan uangnya di luar negeri. Atau juga menitipkan kepingan emas di manca negara itu. Beberapa hari terakhir, kita prihatin melihat beberapa orang yang selama ini kita kagumi bacaan Al-Qur’an dan bahasa Arabnya harus duduk di kursi pesakitan di Pengadilan Tinggi Korupsi.
Orang kecil juga tidak kalah cerdasnya. Dengan teknologi temuannya, bisa membuat makanan goreng terasakremes lezat. Cukup dengan memasukkan tas kresek di minyak goreng yang telah mendidih. Mereka juga bisa membuat ayam tirin (mati kemarin) yang sudah busuk menjadi ayam goreng empuk dan sedap atau menjadi nugget. Atau menaburkan formalin (obat pengawet mayat) di tahu atau ikan sehingga tidak bisa busuk. Atau membuat gula merah menjadi keras dan tahan lama dengan mencampurkan sabun deterjen.
Di dunia kampus juga demikian.  Adalah peristiwa yang amat memprihatinkan, seorang wisudawan dianugerahi piagam penghargaan sebagai alumni terbaik. Tapi beberapa tahun kemudian, terbukti tugas akhirnya merupakan jiplakan sembilanpuluh lima persen dari karya orang lain. Inilah contoh-contoh kecerdasan intelektual yang  justeru membahayakan masa depan bangsa karena tidak disertai kecerdasan emosional spiritual atau karakter terpuji.
Jika tujuh puluh persen saja kepala pemerintahan di semua level, dan para wakil rakyat bertindak jujur, negeri ini akan melompat menjadi Negara terhebat di Asia, bahkan di dunia dalam waktu yang tidak lama.Di samping kejujuran, kita harus menjadi bangsa yang ulet dan sabar, tahan bantingan dan tidak mudah menyerah pada tantangan. Sebuah cita-cita harus dilalui penuh keringat bahkan berdarah-darah dan perlu waktu. Perlu keuletan dan kesabaran, sebab tidak yang instant dalam meraih cita-cita. Setiap kesulitan lebih tepat dipandang sebagai tantangan daripada sebagai rintangan.
Ketika Nabi menjadi karyawan pada wanita kaya, Khadijah, ia diberi bayaran dua kali lipat daripada yang diterima karyawan lain. Apa yang dijual sama dengan yang dijual pegawai lain. Tapi di tangan Muhammad (waktu itu belum diangkat sebagai nabi), omset penjualan jauh melampaui target, karena keuletan nabi dalam menjalankan tugas dan kejujurannya terhadap pembeli dan kepada majikan. Nabi mengajarkan keuletan umatnya dengan menanamkan keyakinan bahwa setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya, setiap kesulitan pasti ada kemudahan di kemudian hari (inna ma’al ‘usri yusra). Putus asa dalam segala hal bertentangan dengan prinsip keimanan. Hanya orang kafirlah yang berputus asa dari kasih dan pertolongan Allah.
Jika usaha telah dilakukan secara maksimal, hanya ada satu kata yang diperlukan: tawakal,  yaitu menyerahkan sepenuhnya apapun hasil ikhtiar tersebut kepada Allah. Ulet bekerja itu baik, tapi jika tidak dibentengi dengan tawakal, kemungkinan stres sangat tinggi dan berbahaya. Sebab kemungkinan gagal, selalu ada dalam setiap usaha. Tidak ada usaha yang sukses selamanya. Jumlah orang stres selalu bertambah setiap tahun, karena ketiadaan sikap tawakal atau tawakal hanya dengan setengah hati.  Tawakal harus berbasis iman, yaitu didahului usaha yang maksimal. Nabi hanya mau berangkat berperang,  jika persiapan dan perhitungan yang matang berdasar analisis politik, logistik telah dilakukan.  Jika sudah, maka Nabi memimpin pasukan dengan komando hasbunallahu wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong dan pelindung kami).
Di samping tawakal, pemimpin baru bisa berhasil jika percaya diri dan optimistis. Ia harus yakin dan yakin bahwa Allah pasti dan pasti Maha Kuasa memberi pertolongan kepadanya. Hanya orang yang percaya diri dan optimis yang bisa meraih kesuksesan. Berlatihlah sampai menjadi kebiasaan untuk rukuk dan sujud yang lama (minimal 30 detik) setiap shalat. Katakan dalam hati, “Aku yakin, yakin, yakin akan pertolongan Allah. Pasti, pasti dan pasti Allah Maha Pengasih untuk memberi kemudahan menuju kesuksesan saya.” Anda akan terkejut, ternyata apa yang Anda takuti ternyata sama sekali tidak terjadi. Anda akan keheranan terhadap diri Anda sendiri: ternyata Anda bisa melakukannya. Sukses dan sukses sudah di depan mata.
Anda pasti mendapat simpati dan teman kerjasama yang menguntungkan, jika Anda pandai menghargai orang lain. Nabi tidak mungkin mendapat dukungan luas jika tidak pandai menghargai karya dan perasaan orang.  Tidak jarang Nabi mendengarkan dengan antusias pendapat peserta rapat. Hasil keputusan juga diikuti nabi, walaupun di kemudian hari, terbukti keputusan itu merugikan.  Nabi mengajarkan menghargai perasaan orang dengan larangan berbicara berdua ketika berada dalam kelompok. Orang lain bisa tersinggung, apalagi berbisik atau menggunakan bahasa yang tidak umum dalam lingkungan itu.
Bagi Nabi, tugas sebagai rasul adalah amanah. Demikian juga sebagai kepala Negara. Ia memikul dua amanah: sebagai rasul dan sebagai kepala Negara. Betapa berat tugas itu. Tugas itu dikerjakan dengan fokus dan sungguh-sungguh. Siang dan malam hanya berfikir tentang tugasnya. Sama sekali tidak menyalahgunakan kekuasaan dengan seenaknya.  Betapa sakit hati rakyat kecil yang membayar pajak di kantor kelurahan, ketika melihat seorang PNS pajak tidak amanah, dengan menyalahgunakan kekuasaanya untuk mencuri puluhan milyar rupiah. Atau mendengar setiap hari ada transfer haram mliyaran rupiah hasil korupsi. Betapa keras jeritan orang-orang yang sampai mempunyai anak empat belum punya rumah melihat orang punya rumah di semua propinsi hasil korupsi.
Sifat Nabi berikutnya yang patut kita tauladani adalah jiwa ksatria yaitu bertanggungjawab penuh sebagai pemimpin. Tidak mencari-cari alasan atau kambing hitam jika terjadi suatu kegagalan. Pada suatu persiapan perang, beberapa tentara muslim termakan psy-war musuh sehingga enggan berangkat perang.  Karena tanggungjawab perang di atas pundak nabi, maka di hadapan tentara yang lemah semangat, Nabi berkata, “jika kalian tidak berangkat,  saya sendirilah yang berangkat berperang”. Rasa tanggungjawab itulah yang membuat ia menangis ketika ia mendengar firman Allah yang sedang dibaca Abdullah bin Mas’ud. Ayat itu berbicara tentang keharusan Nabi untuk bertanggungjawab  atas semua umatnya di akhirat kelak.
Seumur hidup Nabi, ia selalu berfikir tentang orang lain daripada dirinya sendiri. Ia diharamkan menerima zakat dari umatnya. Jika menggunakan pakaian yang amat disukai, lalu ada seorang sahabat yang memintanya, baju itu segera diberikan. Ia memang menyukai baju itu, tapi membuat orang lain suka dan senang itulah yang lebih diutamakan. Beberapa menit sebelum ajal menjemput, Nabi masih bertanya kepada Malaikat Jibril, “Bagaimana umatku kelak?”. Negara ini rusak karena beberapa pemimpin kita lebih memikirkan diri, keluarga, kelompok dan partainya daripada orang lain yaitu kepentingan rakyat banyak.
Minumlah JUS TOMAT untuk bahagiaan rumah tangga Anda. Juga suguhkan kepada semua pemimpin untuk kejayaan bangsa ke depan! Selamat menikmatinya.
Malam ini saya menonton film yang sangat bagus dan mengagumkan, sampai-sampai saya meneteskan air mata gara-gara film itu, ceritanya begini. Ada dua sepasang kekasih yang berhubungan dengan baik dan setia. Setiap kuliah dia selalu bersama-sama, pulang bareng, makan bareng bahkan dia sudah kaya suami istri soalnya ketika dia mau berpisah pasti dia ciuman dulu, entah dimana dia pasti ciuman.
Hari demi hari mereka lalui dan akhirnya cewek itu bekerja di satu perusahaan selama 6 hari dan juga dia bekerja di suatu radio yang ternama. Di perusahaannya itu dia ketemu seorang cowok ganteng dan tajir. Namanya rian. Selama 6 hari si cewek ini bekerja di perusahaan itu rian ini melakukan PDKT dengan si cewek ini. Setiap hari dia jalan, makan bareng kalau dia selesai pekerjaannya dikantor. Si cowoknya ini namanya dion. Dion ini pacaran sama cewek itu yang namanya febi. Selama kuliah dia selalu bersama.
Suatu hari febi ini sedang melakukan penyiaran radio dan melayani seorang perempuan melalui telepon. Si perempuan itu curhat tentang kesetiaan. Dan ketika selesai penyiaran radionnya febi dijemput oleh pacarnya Dion. Dan akhirnya mereka berdua pulang sama-sama.              



   
  
  


           
  
           



 
  
                       

          
                                
                

         

       

                                                                       


[1] Semacam tenda kecil sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan untuk tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian.

53 komentar:

  1. good job ... smgaa aq tetap berkaryaa

    BalasHapus
  2. tambahkan tentang keilmuan bro, jangan lupa yang islami.....

    BalasHapus
  3. sippp broo ,, mkasihh yahhh ..

    BalasHapus
  4. say no to kaslan ....
    perlu diperhatikan kembali penulisan EYD nya..

    semangat dalam beraktivitas..

    BalasHapus
  5. OK ,, MKASIHH broo atas kritikannya ..

    smgaa kita tetap brkaryaa ..

    BalasHapus
  6. beberapa majas bisa digunakan agar lebih cantik untuk dibaca., tetap semangat yaa :)

    BalasHapus
  7. Konco ku... Good job brother..... but mesti di perhatikan EYD ne.....

    BalasHapus
  8. Konco ku... Good job brother..... but mesti di perhatikan EYD ne.....

    BalasHapus
  9. Tulisannya sdh bagus hanya masi ada kata" yg diulang dan kalimat yang kurang atau bertambah hurupnya....tetap semangat jangan galau terusss...
    @Http://abdullah002.blogspot.com/2015/05/alhamdulillah-tiada-ada-kalimat-lain.html#more

    BalasHapus
  10. good boy tapi yah tinggal banyak memperhatikan eyd ok komen punya ku

    BalasHapus
  11. kanja nah roki mu kurni... tingkatkan pi lagi!!! ewako!

    BalasHapus
  12. Kurni,,,
    Tulisannya udah bgus, uma masih ad pngulangan kata n ad huruf ny yg kurang,,
    Keep spirit n keep whriting,,,,

    BalasHapus
  13. Kurni,,,
    Tulisannya udah bgus, uma masih ad pngulangan kata n ad huruf ny yg kurang,,
    Keep spirit n keep whriting,,,,

    BalasHapus
  14. Pengejaan katanya masih perlu diperbaiki lg antoo...
    Tetap smangat.. malas harus dilawan.
    Hidup masih koma

    BalasHapus
  15. Tanda bacanya minta perhatian tuh brother. Masa hpnya aja yg diperhatiin? Wkwk. I say this not because i am perfecet. Kita sama di sini. Sama2 pemula. Over all is good.
    Keep writing
    Semangat kakak! !!

    BalasHapus
  16. Nama Pak Prof dilihat lagi ya...

    BalasHapus
  17. Ok broo .. thanks smuanyaa atas komennya .. syaa akan perbaiki lg ..

    Ayoo yg lain

    BalasHapus
  18. Bismillah

    Perhatikan lgi kurni pemilihan katanya dan ketepatan waktu penggunaaan.. Jga smgt menulis.a...

    BalasHapus
  19. good.. terus berlatih kurni, karena menulis itu pembiasaan bukan skill..
    biar pembaca tidak bosan, diksi harus lebih diperhatikan, Juga joke-joke segar..
    kamu kan humoris :D
    keep spirit!

    BalasHapus
  20. kurni, ternyata kalau dipaksa juga bisa kan...

    BalasHapus
  21. jangan berhenti disini... keep walking.

    BalasHapus
  22. iyaa riff,, klw gk dipaksa , gk jadi2 ..

    BalasHapus
  23. Menulis itu asyik lohh. Tetap semangka

    BalasHapus
  24. iyaa sangat asyikk bill ,,apalagi klw dalam keadaan galau bruu nuliss ,, tdak diduga udah beberapa halaman ,,

    BalasHapus
  25. blumm berbakat aq bill , msih pemulaa

    BalasHapus
  26. jenis tulisannya samain to.... biar rapih....

    BalasHapus
  27. warna tulisannya juga samain to..... biar keliatan mantep.....

    BalasHapus
  28. terus berlatih to..... loe pasti bisa.....

    BalasHapus
  29. di tunggu karya yg lain nya ...... okeh...?????

    BalasHapus
  30. tetap semangat ni

    BalasHapus
  31. jangan lupa EYDnya

    BalasHapus
  32. lawan kemalasanmu.

    BalasHapus
  33. yang terakhir jangan lupa koment balik blogku.

    BalasHapus
  34. iyaa vaa ,, aq pasti smngaat ko

    BalasHapus
  35. alhmdllah ,, kemalasannku udahh tak lawann,, ko

    BalasHapus
  36. Anto...lawan rasa malasmu yaahhh...

    BalasHapus
  37. Oia..jangan lupa komen balik blogkuhttp://ahmadmunir12.blogspot.com/2015/05/potensiku-belum-keluar-kawan.html

    BalasHapus
  38. antoooo di perhatikan lagi mi huruf huruf yang masih kurang.

    good job for you....

    BalasHapus
  39. keren mentong anak sulsel... keren sekali tulisan mu kur.. lanjutkan terus, jangan sampai disini saja, terus berkarya cong !!

    BalasHapus
  40. sipppp mantap cong!!! jangan berhenti

    BalasHapus
  41. bagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .

    BalasHapus
  42. SIAAAPP ...!!!!!
    Mkasihhh tmn2

    BalasHapus
  43. Smgaa yahh aa .. tulisannku sma dngan asma nadia ...

    BalasHapus