Taro Ada, Taro Gau'
Konsistensi perbuatan dengan apa yang telah dikatakan
Sponsor
Minggu, 24 Mei 2015
Selasa, 12 Mei 2015
psikologi islam dalam fitrah dan citra manusia
FITRAH DAN CITRA MANUSIA DALAM PSIKOLOGI ISLAM
A.
Citra
Manusia Dalam Psikologi Barat Kontemporer
Pemahaman
tentang citra manusia sangat beragam. Hal itu tergantung pada latar belakang
dimana citra itu merumuskan, misalnya latar belakang agama, ideologis bangsa,
cara pandang, pendekatan study, dan sebagainya. Dalam rentang sejarah
perkembangan psikologi Barat kontemporer, selain memiliki keunggulan
konsep-konsep dan teori-teorinya, terdapat juga sejumlah kritik dan catatan.
Senin, 04 Mei 2015
Kesetiaan, Norma dan Agama
Kesetiaan, Norma dan
Agama
Pagi ini –mumpung hari
libur- saya menonton film yang berjudul From Bandung With Love. Saya tidak akan
menceritakan alur cerita film itu. Tapi paling tidak, saya bisa mengambil
pelajaran yang cukup menarik dari film itu yaitu arti kesetiaan.
Setelah menonton film
itu, saya sempat berbincang dengan beberapa teman saya. Tentu bahasan kami tak
keluar dari film itu. Namun, sebelum tulisan saya ini lebih jauh, agaknya
kurang sopan bila saya -yang masih belum berkomitmen dengan seseorang
manapun- tidak kulo nuon berkicau
tentang kesetiaan di depan anda yang sudah berpasangan dan hidup berumah
tangga.
Saya hanya ingin berbagi
obrolan saya bersama teman-teman saya. Meski tak satu pun di antara kami yang
sudah berkomitmen dengan seorang wanita, tapi paling tidak hampir semua dari
kami pernah mengalami dan merasakan makna kesetiaan.
Kesetiaan memang awalnya
tumbuh dari rasa. Dan sebuah rasa, pastinya anda tak bisa membatasi pemiliknya.
Kita tak bisa melarang anak SMP menyukai teman sekelasnya. Kita juga tak bisa
mengharamkan kawan kita untuk tidak mencintai sahabatnya sendiri. Kita pun tak
bisa mengekang perasaan kita kepada orang yang kita cintai. Karena sebuah rasa,
timbul dari hati. Dan hati tak bisa dipungkiri.
Namun ada solusi terbaik
yang menggarisi dan mengawal rasa yang dicipta oleh hati, yaitu agama dan
norma. Bila kita menimbang rasa kita, mengukur hati kita dengan patokan agama
dan norma, tentu rasa yang ditimbulkan oleh hati kita tak akan jadi masalah.
Yang menjadi bencana, apabila kita mengabaikan agama dan norma dan lebih
menuhankan rasa. Bila itu terjadi, apapun yang digairahi oleh hati dan
keinginan kita, harus kita peroleh dengan berbagai cara.
Sederhananya seperti ini.
Beberapa hari lalu, ada seseorang yang minta doa kepada saya agar rumah
tangganya langgeng dan harmonis. Saya sempat tergelak mendengarnya lantaran dia
salah alamat dan alamat yang dia dapat palsu. Tapi apa salahnya? Apa dia salah
bila meminta doa? Dan apa salah saya jika sekedar mendoakannya? Intinya, dia
mulai resah dan takut melewati perjalanan rumah tangganya. Dia bercerita bahwa
tetangganya –seorang perempuan- yang sudah beranak-pinak selingkuh dengan
tetangganya sendiri yang masih berumur dua puluh sekian. Singkatnya saya
sampaikan kepada dia, selain Tuhan memberikan rasa pada setiap hati manusia,
Tuhan yang Maha Sempurna tak lupa pula memberikan batasan-batasannya; agama dan norma.
Contoh
satu lagi yang sering kita dapati, seseorang yang ditinggal menikah oleh
mantannya dan ia masih punya rasa kepada mantannya. Apalagi kalau mantannya
juga masih menyukainya. Perasaan dua insan ini bila tak ditengahi oleh agama
dan norma, akan menggerus tatanan kehidupan orang lain.
Agama dan norma memang dua undang-undang yang mengikat dan mengatur rasa, cinta, dan kesetiaan setiap manusia. Kembali kepada kesetiaan, seorang teman saya mengatakan janji kesetiaan itu muncul setelah akad nikah. Sebelum akad nikah, sebaiknya kita tak terlalu muluk-muluk dengan kesetiaan sebab bila seorang wanita yang kita cinta tidak berjodoh dengan kita, kita tidak sampai menggigit lengan kita hingga tak bersisa, cukup gigit jari saja.
Rupanya, pandangan teman
saya tadi bersumber pada pengalaman pribadinya. Hingga dia mengartikan
kesetiaan hanya tercipta dari sebuah pelaminan. Mungkin dia lebih menafsirkan
kesetiaan dalam arti sebenarnya yang ramping. Terbatas. Dan bukan luas.
Saya mencoba berbeda
dengannya. Saya lebih condong memaknai kesetiaan dalam arti yang umum. Setia
bagi saya adalah kamus terbesar dalam kehidupan berpasangan. Berpasangan dalam
makna yang luas tidak hanya kehidupan suami-istri atau berpacaran atau
bertunangan. Seorang karyawan harus setia dengan atasannya. Seorang murid
harus setia dengan gurunya. Seorang anak harus setia dengan orang tuanya.
Seorang pedagang harus setia pada pembelinya. Begitu juga sebaliknya. Kecuali
bila ada sesuatu yang –dengan pasti- memutus tali kesetiaan itu.
Ya, saya lebih senang mengartikan
kesetiaan seperti itu. Dan sebuah kesetiaan memang harus dibangun dalam sebuah
komitmen, berumah tangga misalnya. Itu yang resmi. Atau komitmen yang tak
terlalu resmi seperti berkehidupan sosial antar sesama. Karena kehidupan tanpa
kesetiaan, semuanya akan sia-sia.
Kesetiaan
merupakan tema besar yang tak cukup diuraikan dengan lembaran tulisan dan
ribuan kata lisan. Setia? Setialah kepada siapa saja yang anda pikir layak
untuk mendapatkan kesetiaan anda. Setialah selama agama dan norma mengamini
kesetiaan anda. Setialah, selama setia itu masih pantas untuk ditebar.
Setialah lantaran setia cukup mahal harganya.
Perjalanan selama kuliah di semester 2 dengan mata kuliah tafsir BKI
di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Diawal
cerita saya ini, terlebih dahulu saya bersyukur kepada Allah SWT. karena saya
bisa melanjutkan kuliah saya pada semester dua ini. Dan Alhamdulillah berkat
doa kedua orang tua saya, saya bisa bertahan di kota Surabaya ini yang kata
orang kota Pahlawan.
Pada
tanggal 2 maret 2015 disitu saya memulai perkuliahan untuk semester dua ini,
dan ternyata pertemuan pertama pada hari itu mata kuliah Tafsir BKI yang
dosennya tidak asing lagi. Dosennya itu adalah Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag.
Beliau adalah seorang penulis buku yang terkenal diseluruh dunia. Beliau juga
orangnya disiplin dan baik terhadap mahasiswa terutama kelas saya yaitu kelas
B3. Beliau tidak pernah lepas memberikan kami motivasi, dorongan dan cerita
pengalamannya diluar yang membuat kita termotivasi untuk mengikuti jejak
beliau. “Semoga saya bisa seperti beliau.” bisikan dalam hatiku yang paling
dalam.
Jumat, 10 April 2015
Diawal cerita saya ini, terlebih dahulu saya bersyukur kepada Allah
SWT. karena saya bisa melanjutkan kuliah saya pada semester dua ini. Dan
Alhamdulillah berkat doa kedua orang tua saya, saya bisa bertahan di kota
Surabaya ini yang kata orang kota Pahlawan.
Pada tanggal 2 maret 2015 disitu saya memulai perkuliahan untuk
semester dua ini, dan ternyata pertemuan pertama pada hari itu mata kuliah
Tafsir BKI yang dosennya tidak asing lagi. Dosennya itu adalah Prof. Dr. Muh.
Ali Aziz, M, Ag. Beliau adalah seorang penulis buku yang terkenal diseluruh
dunia. Beliau juga orangnya disiplin dan baik terhadap mahasiswa terutama kelas
saya yaitu kelas B3. Beliau tidak pernah lepas memberikan kami motivasi,
dorongan dan cerita pengalamannya diluar yang membuat kita termotivasi untuk
mengikuti jejak beliau. “Semoga saya bisa seperti beliau.” bisikan dalam hatiku
yang paling dalam.
Langganan:
Postingan (Atom)


