Perjalanan selama kuliah di semester 2 dengan mata kuliah tafsir BKI
di UIN Sunan Ampel Surabaya.
Diawal
cerita saya ini, terlebih dahulu saya bersyukur kepada Allah SWT. karena saya
bisa melanjutkan kuliah saya pada semester dua ini. Dan Alhamdulillah berkat
doa kedua orang tua saya, saya bisa bertahan di kota Surabaya ini yang kata
orang kota Pahlawan.
Pada
tanggal 2 maret 2015 disitu saya memulai perkuliahan untuk semester dua ini,
dan ternyata pertemuan pertama pada hari itu mata kuliah Tafsir BKI yang
dosennya tidak asing lagi. Dosennya itu adalah Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag.
Beliau adalah seorang penulis buku yang terkenal diseluruh dunia. Beliau juga
orangnya disiplin dan baik terhadap mahasiswa terutama kelas saya yaitu kelas
B3. Beliau tidak pernah lepas memberikan kami motivasi, dorongan dan cerita
pengalamannya diluar yang membuat kita termotivasi untuk mengikuti jejak
beliau. “Semoga saya bisa seperti beliau.” bisikan dalam hatiku yang paling
dalam.
Pada
pertemuan pertama yaitu pada tanggal 2 maret 2015, Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M,
Ag langsung memberikan kami tugas kelompok yaitu mencari tafsir BKI yang dimana
kita mencari pada tiga tafsir, yaitu Tafsir Al-Munir, Tafsir Ibnu Katsir, dan
Tafsir Al-Azhar. Dan ketika beliau menjelaskan prosedur pembuatan buku ini.
Pada semester ini beliau memberikan tugas kepada kami bukan lagi membuat makalah
tapi kita disuruh untuk membuat buku. Kemudian menjelaskan juga materi sedikit
tentang tafsir bki ini. Beliau menjelaskan dan memberikan gambaran tentang
kewajiban berdakwah, ayat-ayat yang termasuk atau yang dianjurkan untuk
berdakwah kepada masyarakat. Dan juga beliau menjelaskan tentang MUNASABAH ayat
sebelumnya. Dan yang saya tangkap itu munasabah adalah penjelasan ayat sesuai
pada ayat sebelumnya.
Ketika
beliau menjelaskan diatas saya mengerti tapi kekurangan saya itu takut bicara
depan beliau. Saya tidak tau kenapa saya bisa takut bicara depan beliau kalau
dikelas. Tetapi lama kelamaan ternyata saya takut salah bicara dan malu kalau
nanti bicara saya salah dan tidak nyambung dengan pembahasaan. Dan ketika itu
saya hanya diam tanpa kata di kelas dan merasa takut kalau saya ditunjuk untuk
bicara. Begitulah saya dikelas pada pertemuan pertama ini. Sampai-sampai saya
ketiduran dikelas gara-gara tidak bisa bicara dan aktif pada diskusi pada
pertemuan pertama ini. Dan ketika itu saya berpikir, “Kenapa teman-teman saya
bisa, kenapa saya tidak,?” itulah suatu kalimat yang ada dipikiranku dan sampai
sekrang saya belum bisa terlalu berani bicara depan umum apalagi depan
teman-teman saya dikelas.
Kemudian
beliau membagi dalam tiga kelompok, yaitu kelompok 1 membuat buku tentang
ayat-ayat Bimbingan Konseling Islam dan mencari di tafsir al-munir. Kelompok 2
membuat buku tentang ayat-ayat Bimbingan Konseling Islam dan mencarinya di
tafsir ibnu kathsir. Dan kelompok 3 membuat buku tentang ayat-ayat Bimbingan Konseling
Islam dan mencarinya di tafsir al-azhar. Ketika itu saya dikelompok dua yaitu
mencari ayat-ayat tentang Bimbingan konseling Islam didalam tafsir ibnu katsir.
Saya mempunyai teman kelompok sebanyak 10 orang, diantaranya Muhammad Mizan,
Ahmad Rifai, Rahmat Hidayat, Syarif Hidayatullah, Murni Janwar, Iva Umi
Agustina, Nadia Nafisah, Rifki Muhammad Nur, dan Zahra Nisaul Azizah. Dan
beliau mengatakan,”Minggu depan sudah selesai dan bisa di diskusikan juga”.
Disitu saya merasa cepatt sekali tapi beliau memberikan saya dan teman saya
motivasi dan dorongan dan akhirnya saya mengatakan didalam hati,”Saya pasti
bisa membuat itu”
Dan
akhirnya semuanya tepuk tangan dan ketika itu juga pertemuan pertama telah
selesai karena jam menunjukkan pukul 11.20 pertanda kalau mata kuliah prof
telah selesai. Tetapi kelompok kami yaitu kelompok dua belum balik dulu karena
ketua kelompok saya yaitu Muh.mizan mau membagi tugas-tugas per-anak. Setelah
dibagi dan juga saya sudah mengetahui tugas saya dan akhirnya saya balik di
asrama tercinta saya, didalam hati saya ketawa,”hehee”.
Keesokan
harinya kelompok saya berkumpul diperpustakan UIN Sunan Ampel Surabaya untuk
mencari buku atau tafsir ibnu katsir. Berjam-jam saya diperpustakan bersama
teman kelompok saya dan akhirnya buku atau tafsir yang kami cari itu sudah
dikumpulkan dan ketika itu kami mencari tempat untuk rapat sebentar lagi.
Dirapat itu teteh Zahra menjelaskan sedikit tentang cara pembuatan buku ini dan
lama kelamaan teteh Zahra memberikan dedline sampai hari rabu semuanya sudah
selesai. Dan disitu saya berbicara karena cepat sekali kumpulnya dan juga waktu
itu saya yang paling banyak mendapatkan tugas,” teteh Zahra yang cantik, kenapa
cepat sekali kamu tidak kasian lihat saya yang banyak sekali ayat yang saya dapatkan,?”
lalu teteh Zahra menjawab, “Itu tidak cepat kurniawan, ingat kata prof, Jangan
mengeluh kalau kita mendapatkan tugas, cintailah tugas itu sebagaimana kamu
cinta kepada orang tua kamu”. Lalu saya berkata lagi,”oke saya pasti bisa ko
teteh tapi tidak lepas juga bantuan teman yahh,” dan teman-teman saya serentak
bicara,”kami siap ko bantu kamu kurniawan”. Disitulah saya merasa terharu dan
bangga mempunyai teman seperti kalian.
Setelah
itu saya pulang sama teman-teman saya kembali ke asrama sambil membawa buku dan
tafsir ibnu katsir. Ketika sampai dikamar saya istirahat baring di kasur sampai
ketiduran bersama teman-teman kelompok saya.
Pada
jam 18.05 saya bangun dari tidur saya dan langsung ambil alat mandi lalu mandi.
Setelah mandi saya solat magrib berjamaah sama muazib teman kamar mizan.
Setelah shalat magrib saya langsung kerja tugas yang diberikan oleh dosen
tafsir BKI Prof. Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag. Saya kerja tugas itu sampai jam 9
malam dan setelah itu tidur.
Hari
demi hari kulalui dan akhirnya selesai juga tugas saya. Ketika itu kalau tidak
salah malam kamis kelompok saya kumpul dimasjid untuk melihat sejauh mana
dikerjakan tugas ini. Dan Alhamdulillah punya saya sudah selesai meskipun masih
banyak yang kurang dan harus saya perbaiki lagi atau revisi lagi.
Pada
tanggal 9 maret 2015 pertemuan kedua bersama beliau berlangsung. Disitu kami
memulai diskusi tentang ayat-ayat tafsir bimbingan konseling islam yang diambil
dalam 3 tafsir, yaitu tafsir al-munir, tafsir ibnu katsir, dan tafsir al-azhar.
Kemudian setelah itu masing-masing perwakilan kelompok membacakan tugasnya yang
dikerjakan kemarin. Dimulai dari kelompok tafsir al-munir membacakan ayatnya
munasabahnya dan kesimpulannya. Kalau tidak salah yang membcacakan tugasnya
dari tafsir al-munir itu Muhammad Algifari. Setelah algi membacakan yang dia
kerjakan Prof Ali menambahkan dan mengoreksi sedikit.
Setelah
itu beliau menunjuk lagi dari kelompok saya yaitu tafsir ibnu katsir.
Perwakilan kelompok saya yaitu Ahmad Rifai. Dan rifai membacakan ayatnya,
munasabahnya, dan kesimpulannya. Setelah rifai membacakan yang dia kerjakan
prof Ali menyuruh Rifai membacakan ulang karena mungkin prof Ali belum
menangkap yang rifai sampaikan. Akhirnya rifai membaca lagi yang ia bacakan
tadi. Ketika rifai selesai membacanya lagi Prof Ali belum juga menangkap yang
dibacakan oleh Rifai. Akhirnya prof Ali memberikan kesempatan yang lain untuk
menjelaskan kembali punya rifai. Lama kelamaan ada seorang yang mengangkat
tangan dan dia adalah teteh Zahra yang mengangkat tangan. Dan teteh Zahra
menjelaskan kembali munasabah yang dia dapat dari rifai. Ketika teteh Zahra
selesai menjelaskan munasabah yang rifai baca tadi, Prof Ali langsung menangkap
apa yang dijelaskan oleh teteh Zahra tadi.
Kemudian
Prof Ali menyuruh lagi dari kelompok tafsir al-azhar untuk menjelaskan
ayat-ayatnya, munasabahnya, dan kesimpulannya. Kalau tidak salah perwakilan
dari kelompok tafsir al-azhar itu Nurfaega. Setelah nurfaega membacakannya
temannya lag yaitu nanang supratna menambahkan sedikit apa yang nurfaega
sampaikan. Ketika nanang selesai menambahkan sedikit apa yang nurfaega
sampaikan dan moderator mengembalikan kepada Prof Ali untuk menjekaskan lebih
lanjut. Prof Ali menjelaskan kembali apa yang benar atau apa yang tepat untuk
munasabah pada ayat yang tadi dibacakan oleh perwakilan setiap kelompok.
Setelah lama bercerita dan menjelaskan Prof Ali lagi-lagi memberikan kami
motivasi dan dorongan. Tetapi waktu itu saya hanya diam lagi tanpa bicara
apapun. Saya mau bertanya tetapi saya takut lagi bicara, entah kenapa penyakit
atau rasa takut itu datang lagi. Saya belum bisa berani bicara depan umum
karena saya masih ada rasa takut salah yang tidak bisa saya lawan.
Kemudian
lama kelamaan jam menunjukkan pukul 10.20 lah. Perut saya bersuara dan selalu
bersuara. Ternyata itu pertanda bahwa saya lapar. Saya berkata dalam hati,
“Kapan yaah selesainya ini,lamaa sekali perut juga sakit mau makan hmmm”.
Sambil menunggu mata kuliah ini selesai kami mengajak sebentar Prof Ali
bercerita-cerita, bercanda-tawa tapi meskipun begitu rasa lapar saya tidak
berubah alias tambah lapar karena selalu ketawa-ketiwi. Setelah itu Prof Ali
melanjutkan penjelasan demi penjelasan ayat tentang kewajiban berdakwah. Tetapi
kali ini saya tidak bisa tahan lagi rasa lapar saya ini dan akhinya saya
berkata dalam hati,”Mendingan saya tidur saja kalau begini supaya rasa lapar
ini tidak terasa”. Dan akhinya saya tertidur di belakang rahmat hidayat supaya
Prof Ali tidak melihat saya.
Lama
kelamaan Mizan membangunkan saya karena jam menunjukkan pukul 11.15, itu
pertanda bahwa mata kuliah Tafsir Bimbingan Konseling Islam yang dosennya Prof.
Dr. Muh. Ali Aziz, M, Ag akan berakhir. Dan saya bangun dari tidur saya sambil
mengatakan dalam hati,”Alhamdulillah akhinyaa selesai juga”. Sambil saya ketawa
dalam hati. Setelah itu saya pulang dan langsung keluar makan karena saya lapar
sekali. Kemudian setelah itu saya pulang kepesma karena panas sekali dan juga
kepala saya pusing sekali.
Ketika
saya sampai di pesma saya langsung kekamar mandi untuk ambil air wudhu kemudian
shalat dhuhur. Setelah selesai shalat, saya istirahat dikamar, sambil
mendengarkan music sampai-sampai saya ketiduran.
Hari
demi hari telah saya lewati bersama teman-teman saya, akhinya hari senin tiba
lagi dan pertemuan ketiga berlangsung lagi. Seperti biasa ketika Prof Ali masuk
kami serentak berdoa dulu sebelum belajar. Setelah selesai berdoa Prof Ali
memberikan motivasi, dorongan untuk bangkit lagi dan memberikan nasehat kepada
kami supaya kami bisa mengikuti jejak beliau. Amien...
Setelah
itu prof menyuruh kita untuk membagi kelompok seperti biasanya. Kemudian
membacakan tugas tafsir masing-masing seperti biasa. Tapi sebelum itu, beliau
bercerita bahwa sahnya minggu depan beliau tidak masuk karena beliau mau pergi
ke Hongkong. Beliau kesana karena dia dipanggil untuk menjadi pemateri didepan
professor-profesor yang handal. Diskusi pun dimulai. Pembacaan ayat, munasabah
dan kesimpulan dimulai pada kelompok tafsir al-munir yang dibacakan oleh algifari.
Setelah itu dilanjutkan lagi kelompok tafsir ibnu katsir yang dibacakan oleh
rifai sinaga. Pada jam 11.00 diskusipun selesai dan siap-siap untuk kembali ke
pesma dan pesmi.
Hari
demi hari saya lalui dan akhirnya tibalah hari menunjukkan hari sabtu. Saya
bangun dari tempat tidur kemudian pergi ke wc untuk bab dan setelah itu whudu
kemudian kembali dikamar untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh saya tidur
lagi sampai jam 7 lewat 15 menitlah. Ketika saya bangun dari tidur, saya
melihat hp saya dan ada whats up masuk. Kemudian setelah itu saya membaca pesan
itu. Setelah saya baca pesan itu ternyata kelompok tafsir ibnu katsir disuruh
kumpul di teras fakultas syariah yang tempatnya itu pas depan pesmi pada jam 9
pagi. Ketika saya selesai membaca pesan itu, saya dipanggil Mizan untuk sarapan
pagi dikamar jadul. Sekedar informasi kalau kami ada komunitas makan yang
beranggotakan 6 orang, yaitu Jajang, fikri, mizan, rifai, jadul dan saya
sendiri kurniawan. Kami perbulan menyetor uang tiap bulannya itu 180.000 per
orang.
Kemudian
setelah itu, saya kembali dikamar lagi untuk siap-siap kumpul di teras syariah.
Setelah itu saya pun bergegas ganti baju terus mandi dan pakai baju lalu
berangkat ke tempat kumpulnya tadi. Dan ketika diperjalanan saya dan rahmat
yang dari pangkep Sulawesi selatan itu pergi kekantin dulu untuk membeli
minuman soalnya saya haus sekali. Tapi ketika itu saya hanya membeli satu saja,
lama kelamaan rahmat bilang ke saya, “ni kok kamu belinya satu saja..? beliin
satu dong haus juga nih.” Dan akhirnya sayapun membelikannya satu soalnya dia
katanya haus juga. Kemudian setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan untuk
menuju ke syariah itu. Dan ketika sampai di tempat ternyata perempuannya belum
datang satupun, yang datang hanya laki-laki saja. Kami pun menunggu yang
perempuan datang semua. Beberapa menit kemudian satu per satu teman yang
perempuan datang dan membawa minuman dan makanan seadanya. 30 menit kami menunggu
dan akhirnya lengkap sudah kelompok kami. Dan diskusi pun dimulai.
Mizan
asrori sebagai ketua kelompok kami membuka diskusi pada hari itu. Lama mizan
bicara dan rifai juga pun ikut bicara juga sekedar penambahan. Setelah selesai
bicara, disitu juga dimulai resume kami. Pertama Zahra yang membaca
fotocopyannya dan yang lainnya mencocokkan apa yang Zahra katakan. Begitupun
kami lakukan terus sampai jam menunjukkan pukul 13.30. ketika itu kami pun
selesai diskusi kami dan siap-siap untuk balik lagi ke tempat habitatnya
masing-masing.
Keesokan
harinya pada hari minggu itu kami berkumpul lagi untuk melakukan resume seperti
apa yang dilakukan kemarin. Waktu itu kami kumpul di teras syariah seperti
kemarin. Lama kelamaan teman kelompok saya mulai berdatangan satu per satu dan
akhirnya semuanya datang. Seperti biasa sebelum dimulai diskusi kami ini,
teman-teman saya bercerita-certia, bercanda tawa dan juga makan-makan cemilan
yang saya bawa dari kamar. Jam menunjukkan pukul 10.15 diskusi pun dimulai dan
mizan sebagai ketua kelompok kami memberikan sedikit kritikan dan saran kepada
kami supaya resume kali ini akan berjalan lancar dan mendapatkan hasil yang
bagus dari prof Ali Aziz.
Ketika
jam menunjukkan pukul 13.00, kami pun selesai diskusi. Tapi sebelum berakhir
diskusi kali ini, waktu itu kebetulan ada penjual bakso keliling dan teman saya
yaitu murni janwar memanggil si penjual bakso itu.”mas…mas… saya mau beli”.
Kata si murni dengan suara yang lantang. Akhirnya si penjual bakso itu pun
dating ke tempat kami. Disitu saya bertindak sebagai mandar, minta uang teman
saya satu per satu. “Ayo kumpulkan uangnya 5000” kata saya sambil tanganku
minta uang pada teman saya. Lama kelamaan uangnya terkumpul dan saya pergi
membeli bakso itu. Dan memesan 5 mangko dengan harga 25 ribu. Setelah itu kami
makan bakso bersama-sama tapi sebelum kami foto dulu biar ada dokumentasi
nanti. Dan akhirnya kami tunggu dating juga makan baksopun dimulai.
Setelah
kami makan bakso, satu per satu teman saya kepedesan karena tadi saya memberi
lomboknya itu terlalu banyak. Teman saya pun bergegas mengambil air minum
dikamarnya, teman saya itu ada Zahra karena dia tinggal dipesmi tapi masalahnya
dia lantai 5 katanya dia capek naik tangga. Tapi disitu saya bilang ke Zahra,
“kan udah biasa naik turun lantai 5” dan Zahra pun menjawabnya,” enak aja lohh
capek tau naik tangga sebanyak itu”. Dan akhirnya zahrapun naik mengambil air
minum di kamarnya. Lama-kelamaan Zahra pun dating dan akhirnya kami pun yang
dari tadi kepedesan akhirnya terobati juga rasa pedasnya itu atau dengan kata
lain rasa pedasnya itu hilang. Setelah kami semua minum air, kami istirahat
dulu rentangkan badan soalnya kami kekenyangan semua tapi saya malah mau nambah
lagi karena saya belum kenyang. Ketika kami selesai melemaskan badan kami
siap-siap untuk balik ke habitat masing-masing.
Pada
malam harinya, sekitar jam 19.00, saya membuka tafsir al-azhar karena besok itu
UTS dengan mata kuliah Tafsir Bimbingan Konseling Islam. Ketika itu saya
membaca tafsir al-azhar yang mau di ujiankan besok. Sejam kemudian saya selesai
membaca tafsir itu dan saya dipanggil makan bersama lagi seperti biasanya. Dan
akhirnya saya meninggalkan dulu bacaan saya dan pergi makan malam. Setelah
makan, saya kembali lagi ke kamar untuk melanjutkan bacaan saya. Sekitar pukul
11 malam saya mengantuk sekali dan akhirnya saya tidur dengan memakai selimut.
Tibalah
waktu yang dinanti-nanti, ujian dimulai pada jam 08.00. kami masuk pada jam
07-45, tapi sebelumnya saya masuk intensive bahasa arab bersama teman-teman saya.
Ketika waktu menunjukkan pukul 07.30, saya pun keluar dari intensive bersama
teman-teman saya dengan perasaan kaget dan takut karena ujian UTS kedua dengan
mata kuliah Tafsir BKI dan dosenya Prof. Ali Aziz. Beliau mempunyai asisten
yang sangat bagus dan baik. Namanya yaitu Ustad Ainul Yakin. Beliau lulusan
Universitas Al-Azhar Khairo mesir. Jadi proses perkuliahaan ini dipimpin oleh
ustad Ainul Yakin tetapi prof ali masih masuk memberikan pencerahan dan
motivasi untuk kami satu kelas. Dan pro sempat menceritakan waktu beliau di
Hongkong.
Kita
tidak boleh mengatakan “aku lebih baik dari mereka” karena semua orang sama di
hadapan Allah SWT. Kita hendaklah rendah hati karena hanya iblis yang berkata
“anna khoirun minhu”, aku lebih baik dari dia (QS. 7:12).
Hal itu
disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag (Guru Besar IAIN Sunan Ampel
Surabaya) dalam tablig akbar pendalaman terapi shalat bahagia, Sabtu (29/12),
di Masjid Ammar Wan Chai, Hong Kong.
Dikatakannya,
keluhan di dalam doa kita membuat doa kita tidak didengar oleh Allah SWT.
Firman-Nya, barangsiapa tidak ridho atau tidak senang atas takdir-Ku, maka
hendaknya ia mencari Tuhan yang lebih baik dari-Ku. “Maka hendaklah kita
menyadari apa pun yang kita hadapi, apa pun dan bagaimanapun keadaan kita,
semua hanya atas ijzn Allah SWT,” tegasnya.
Prof.
Ali Aziz juga menyampaikan, kita sering lalai di saat Allah memanggil kita
dalam adzan yang berbunyi, “Hayya ‘alash-shalah”, marilah shalat. Di saat
itulah sebenarnya Allah SWT memanggil kita untuk menghadap-Nya.
“Di
dalam kehidupan, di saat kita dipanggil atasan atau malah mendapat panggilan
untuk bertemu presiden, mungkin kita akan datang jauh lebih awal sebelum waktu
yang telah ditentukan. Namum disaat adzan, di saat Allah memanggil, sudah bersiapkah
kita?”
Ia
menambahkan, Allah SWT telah menjanjikan kebahagiaan bagi siapa saja yang
menjalankan kebahagiaan. “Hayya ‘alal falah”, mari menuju kebahagiaan.
Kita
pasti memiliki masalah, layaknya benang yang telah kusut dan berbelit antara
satu dengan yang lainya. Namun, di saat kita ikhlas dan berserah kepada-Nya,
semua akan menjadi mudah. “Rabb-mu tiada meninggikan kamu (Muhammad), dan tiada
(pula) benci kepadamu” (QS.93:3).
Sedikit
juga sekilas profil Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag. beliau lahir pada tanggal 09
bulan juni 1957 di lamongan jawa timur.setelah tamat dari pondok pesantren
ihyal ulum gresik, putra abdul aziz dan Nafisah ini kuliah dan lulusan Fakultas
Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya yang
dulunya masih IAIN sunan ampel Surabaya sebagai lulusan tercepat dan termudah
pada tahun 1982. Setelah selesai menjadi Dekan Fakultas Dakwah dan komunikasi
pada tahun 2004. Ia menjadi guru besar dan mengajar studi al-quran di pasca
sarjana dengan universitas yang sama. Bapak dari 7 orang anak ini, dua kali
terpilih sebagai dosen teladan nasional pada tahun 2004 sampai 2007. Ia juga
menjabat wakil ketua MUI di jawa timur, ketua asosiasi profesi dakwah Indonesia
pada tahun 2009-2013, ketua dewan pengawas syariah bank jatim, dan konsultan
yayasan pendidikan Khadijah Surabaya.
Setelah
memberikan pencerahan dan motivasi, prof kemudian keluar karena ada sesuatu
yang juga penting. Jadi ustad Ainul yang memimpin dan memberikan materi kepada
kami. Setelah perkenalan dan Tanya jawab tentang ustad ainul yakin disitulah
dimulai ujian kedua berlangsung dan juga disitu kami kaget-kaget karena ustad
yang baru membuat soal untuk ujian ini. Jam menunjukkan pukul 08.00, kami pun
siap-siap untuk ujian. Soal pertama pun dibaca sampai selesai. Kemudian
dilanjutkan pemeriksaan dan yang memeriksa itu kami sendiri tapi punya kita
ditukar dengan punya teman yang disamping. Setelah selesai diperiksa secara
serentak, selanjutnya nilai yang kami semua dapatkan disebut ketika ustad
menyebut nama kami masing-masing. Dan selanjutnya ustad ainul yakin memberikan
materi tentang politik islam di Indonesia. Inilah yang sempat saya catat.
Setelah
semuanya selesai, kami pun istirahat dengan melemaskan badan di tempat
masing-masing. Ketika semuanya melakukan pelemasan badan ustad ainul yakin
bercerita tentang mezir dan pengalaman-pengalaman semenjak di mezir. Kami pun
termotivasi terhadap pengalaman beliau semenjak kuliah S1 di Universitas
Al-Azhar Khairo. Setelah beliau menceritakan pengalaman-pengalaman yang banyak
sekali, kami juga pun selesai melakukan pelemasan badan, dilanjutkanlah materi
tafsir bki yang dijelaskan oleh ustad ainul yakin ayat per ayat. Setelah lama
menjelaskan dan waktu juga sudah habis maka ditutuplah perkuliahan untuk
pertemuan kali ini. Tetapi sebelum pulang ustad ceramah sedikit tentang para
imam masjid yang bacaannya kurang bagus karena bahasa arabnya dia tidak tau.
Akhirnya ustad berinisiatif membuat program belajar bahasa arab pada hari sabtu
pagi. Setelah itu kami pun siap-siap untuk pulang ke habitat masing-masing.
Hari
demi hari saya lewati. Banyak kegiatan-kegiatan organisasi yang saya ikuti
khususnya organisasi Css MoRA UIN Sunan Ampel Surabaya. Organisasi ini wajib
kepada anak pbsb. Dan juga organisasi ini di ketuai oleh kakak nuril huda yang
dari Madura. Kakak nuril ini orangnya itu baik banyak orang bilang kalau kakak
nuril itu ganteng juga tapi menurut saya sih biasa aja. Kata orang juga kakak
nuril ini tempat tinggalnya di Madura. Di Madura itu terkenal dengan adanya jembatan
Suramadu yang menghubungkan antara selat Madura dengan Surabaya. Saya pernah
jalan-jalan di jembatan suramadu tersebut tepatnya ketika saya datang dari
kampong saya di Sulawesi selatan tepatnya di kabupaten Bone. Waktu itu saya
bersama ustad saya pinpinan pondok pesantren al-ikhlas ujung bone, teman saya
juga hafizah idayu, nurfaega, rahmat hidayat, Muhammad ishar kadir, Muhammad
al-ikhsan, dan saya sendiri. Ketika sampai di jembatan suramadu tersebut teman
saya mengatakan kalau dia mau singgah untuk mengambil foto di tempat tersebut
yaitu Jembatan Suramadu ini.
Tetapi
sopirnya bilang kalau disini tidak boleh singgah mobil ataupun motor apalagi
untuk turun mengambil gambar ditempat tersebut. Setelah melewati jembatan
suramadu kami pun mencari tempat makanan khas Madura. Makanan khasnya itu
adalah tidak asing laggi yaitu soto Madura dan sate Madura.akhinya kami
mendapatkan tempatnya yang tidak jauh dari jembatan suramadu. Setelah kami
makan dan perut juga terlalu kenyang kamipun balik ke kota Surabaya sendiri
yang dimana saya akan tinggal selama saya menempung kuliah saya di UIN Sunan
Ampel Surabaya. Itu tadi sekilas tentang jembatan suramadu dan pengalaman waktu
kesana.
Pada hari rabu tepatnya ketika selesai
pelajaran filsafat ilmu saya dipanggil kakak kelas angkatan 2013. Ketika sampai
di depannya kakak kelas itu bilang kalau saya dengan rahmat faisal nst
dipanggil untuk mengikuti kegiatan pengembangan angkatan 2013 ke kota malang
tepatnya di batu. Jadi otomatis saya dan rahmat faisal NST tidak mengikuti
program belajar bahasa arab pada hari sabtu itu karena kami mengikuti kegiatan
pengembangan 2013. Pada hari jumat pagi saya pun siap-siap untuk berangkat ke
Malang bersama kakak kelas angkatan 2013. Ketika itu pada jam 7 pagi saya dan
rahmat faisal NST pun berangkat ke depan kampus karena teman saya mendapatkan
sms dari kakak kelas yang bernama kakak dedeh. Akhirnya kami pun berangkat ke
depan kampus dengan mengangkat barang bawaan kita yaitu tas yang berisi baju.
Di malang itu saya tiga hari disana soalnya pengembangan angkatan 2013 itu 3
hari. Disana saya banyak mendapatkan materi dan pengalaman yang sangat menarik.
Pada hari minggu malam setelah penutupan dan juga dilanjutkan solawatan bersama
ustad agus dan teman beliau. Setelah semuanya selesai kami pun pulang ke
Surabaya lagi sekitar pukul 21.11. ditengah perjalanan kami singgah di pusat
ole-ole khas malang. Sebagian turun untuk membeli makanan dan minuman. 30 menit
kemudian kita lanjutkan kembali perjalanan kita untuk pulang ke Surabaya.
Sekitar jam 11.30 kami pun sampai di Surabaya dengan kakak angkatan 2013.
Kami pun kembali masuk di kampus uin sunan
ampel Surabaya. Sedikit tentang UIN sunan ampel. Pada
akhir dekade 1950, beberapa tokoh masyarakat Muslim Jawa Timur mengajukan
gagasan untuk mendirikan perguruan tinggi agama Islam yang bernaung di bawah
Departemen Agama. Untuk mewujudkan gagasan tersebut, mereka menyelenggarakan
pertemuan di Jombang pada tahun 1961. Dalam pertemuan itu, Profesor Soenarjo,
RektorUniversitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, hadir sebagai narasumber untuk menyampaikan pokok-pokok pikiran
yang diperlukan sebagai landasan berdirinya Perguruan Tinggi Aagama Islam
dimaksud. Dalam sesi akhir pertemuan bersejarah tersebut, forum mengesahkan
beberapa keputusan penting yaitu: (1) Membentuk Panitia Pendirian IAIN, (2)
Mendirikan Fakultas Syariah di Surabaya, dan (3) Mendirikan Fakultas Tarbiyah
di Malang. Selanjutnya, pada tanggal 9 Oktober 1961, dibentuk Yayasan Badan
Wakaf Kesejahteraan Fakultas Syariah dan Fakultas Tarbiyah yang menyusun
rencana kerja sebagai berikut :
·
Mengadakan persiapan pendirian
IAIN Sunan Ampel yang terdiri dari Fakultas Syariah di Surabaya dan
Fakultas Tarbiyah di Malang.
·
Menyediakan tanah untuk
pembangunan Kampus IAIN seluas 8 (delapan) Hektar yang terletak di Jalan A.
Yani No. 117 Surabaya.
·
Menyediakan rumah dinas bagi
para Guru Besar.
Pada tanggal 28 Oktober 1961,
Menteri Agama menerbitkan SK No. 17/1961, untuk mengesahkan pendirian Fakultas
Syariah di Surabaya dan Fakultas Tarbiyah di Malang. Kemudian pada tanggal 01
Oktober 1964, Fakultas Ushuluddin di Kediri diresmikan berdasarkan SK Menteri
Agama No. 66/1964.
Berawal dari 3 (tiga) fakultas
tersebut, Menteri Agama memandang perlu untuk menerbitkan SK Nomor 20/1965 tentang Pendirian
IAIN Sunan Ampel yang berkedudukan di Surabaya, seperti dijelaskan di atas. Sejarah
mencatat bahwa tanpa membutuhkan waktu yang panjang, IAIN Sunan Ampel ternyata
mampu berkembang dengan pesat. Dalam rentang waktu antara 1966-1970, IAIN Sunan
Ampel telah memiliki 18 (delapan belas) fakultas yang tersebar di 3 (tiga)
propinsi: Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Nusa Tenggara Barat.
Namun, ketika akreditasi
fakultas di lingkungan IAIN diterapkan, 5 (lima) dari 18 (delapan belas)
fakultas tersebut ditutup untuk digabungkan ke fakultas lain yang terakreditasi
dan berdekatan lokasinya. Selanjutnya dengan adanya peraturan pemerintah nomor
33 tahun 1985, Fakultas Tarbiyah Samarinda dilepas dan diserahkan
pengelolaannya ke IAIN Antasari Banjarmasin.
Disamping itu, fakultas Tarbiyah Bojonegoro
dipindahkan ke Surabaya dan statusnya berubah menjadi fakultas Tarbiyah IAIN
Surabaya. Dalam pertumbuhan selanjutnya, IAIN Sunan Ampel memiliki 12 (dua
belas) fakultas yang tersebar di seluruh Jawa Timur dan 1 (satu) fakultas di
Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.
Sejak pertengahan 1997, melalui
Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1997, seluruh fakultas yang berada di bawah
naungan IAIN Sunan Ampel yang berada di luar Surabaya lepas dari IAIN Sunan
Ampel menjadi Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) yang otonom. IAIN
Sunan Ampel sejak saat itu pula terkonsentrasi hanya pada 5 (lima) fakultas
yang semuanya berlokasi di kampus Jl. A. Yani 117 Surabaya.
Pada 28 Desember 2009, IAIN Sunan Ampel Surabaya melalui
Keputusan Menkeu No. 511/KMK.05/2009 resmi berstatus sebagai Badan Layanan Umum
(BLU). Dalam dokumen yang ditandasahkan pada tanggal 28 Desember 2009 itu
IAINSA Surabaya diberi kewenangan untuk menjalankan fleksibilitas pengelolaan
keuangan sesuai dengan PP Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum (PK-BLU).
Terhitung mulai tanggal 1
oktober 2013, IAIN Sunan Ampel berubah menjadi UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya
berdasarkan Keputusan Presiden RI
No. 65 Tahun 2013.
Sejak berdiri hingga kini
(1965-2015), UINSA Surabaya sudah dipimpin oleh 8 rektor, yakni:
·
Prof H. Tengku Ismail Ya’qub,
SH, MA (1965-1972)
·
Prof KH. Syafii A. Karim
(1972-1974)
·
Drs. Marsekan Fatawi
(1975-1987)
·
Prof Dr H. Bisri Affandi, MA
(1987-1992)
·
Drs KH. Abd. Jabbar Adlan
(1992-2000)
·
Prof Dr HM. Ridlwan Nasir, MA
(2000-2008)
·
Prof Dr H. Nur Syam, M.Si
(2009-2012)
·
Prof Dr H. Abd A’la, M.Ag
(2012-2018)
Beberapa
hari kemudian, saya bingung mau nulis apa lagi. Dan akhinya saya membaca
artikel dari prof ali yang berjudul Berdiri Diatas Api. Ini lah artikelnya. “Sungguh, Allah telah menerima
taubat Nabi, orang-orang muhajirin (pendatang di Madinah) dan orang-orang
anshar (penduduk asli Madinah) yang mengikuti Nabi pada masa-masa sulit,
setelah hati sebagian dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima
taubat mereka itu. Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada
mereka.” (QS.
At Taubah [09]:117)
Ayat di atas merupakan kelanjutan
dari ayat-ayat sebelumnya tentang perang Tabuk, perang melawan tentara Romawi.
Inilah perang dengan persiapan paling berat bagi Nabi SAW. Dalam ayat yang
dikutip di atas, Allah SWT menyebut suasana perang itu dengan kata sa’atil
‘usrah (masa sulit). Itulah masa paceklik, musim buah mulai gugur
karena pergantian musim panas ke musim gugur, udara panas luar biasa, minim
perbekalan, sampai kurma harus dihemat-hemat selama perjalanan. Kendaraan
perang juga terbatas: satu unta harus dikendarai dua sampai tiga orang untuk
menempuh perjalanan yang sukar dan jauh dari Madinah.
Umar
bin Khattab menggambarkan derita Tabuk sebagai berikut, “Ketika istirahat di
suatu tempat, kami sangat haus, tenggorokan kami rasanya hampir putus dan tidak
ada air setetespun. Satu-satunya cara adalah menyembelih unta, agar bisa
mengambil air yang tersimpan di lambungnya, dan itulah yang kami lakukan.
Melihat tentara sudah semakin tidak kuat menahan haus, Abu Bakar memohon Nabi
SAW, “Wahai Rasulullah, Tuhanmu telah menjamin doamu dikabulkan. Berdoalah agar
Allah menurunkan hujan.” Andaikan tidak seberat itu derita yang dirasakan,
tentu Abu Bakar tidak minta demikian kepada Nabi SAW. Nabi mengangkat tangan
berdoa, lalu tidak lama setelah menurunkan tangannya, turunlah hujan deras.
Dengan riang gembira, para tentara minum dan mengisi kantong-kantong air.
Setelah semua kantong terpenuhi, berhentilah hujan. Ajaib, ternyata hujan itu
hanya di sekitar Nabi SAW.”
Dalam perang dengan perbekalan
terbatas menghadapi kekuatan musuh yang jauh lebih kuat itu, tidak sedikit
orang Islam yang menolak secara terang-terangan ikut perang. Ada juga yang
berangkat dengan setengah hati, menggerutu dan pulang di tengah perjalanan.
Tapi, ada juga penduduk asli Madinah (anshar) dan pendatang di Madinah (al
muhajirin) yang sepenuh hati mengikuti nabi sekalipun harus “berjalan
melintasi api.” Orang-orang pilihan inipun hampir saja tergoda untuk desersi,
mengingat beratnya tantangan. Keraguan dan pesimisme menjalani derita perang
itulah yang mereka mintakan ampunan Allah SWT. Mereka gembira karena Allah
telah mengampuninya, sebab Dia Maha Pengampun, sebagaimana disebut pada ujung
ayat, “Sungguh, Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.”
Sebelum
berangkat ke Tabuk, ada beberapa orang yang meminta ijin Nabi untuk absen
perang dan Nabi mengiyakan. Nabi merasa “berdosa,” sebab seharusnya tidak mudah
memberi ijin mereka sebelum mengetahui alasan yang masuk akal, sebab banyak
yang absen hanya karena kemalasan. Inilah “dosa” nabi yang diampuni oleh Allah
sebagaimana disebut pada awal ayat di atas. Sebenarnya kesalahan itu tidak
termasuk dosa, sebab hanya sebuah keputusan, tapi bagi nabi, sekalipun sesederhana
itu, ia tetap meminta ampunan Allah.
Dari
mereka yang absen perang itu, ada tiga orang yang paling mengecewakan Nabi SAW,
yaitu Ka’ab bin Malik, Hilal bin Umayyah, dan Marrah bin Rabi’. Mereka ini,
terutama Ka’ab adalah sahabat-sahabat mulia, tapi mengapa mengikuti jejak
orang-orang munafik. Kekecewaan Nabi tersebut diceritakan sendiri oleh Ka’ab
pada masa tuanya yang sudah buta, kepada anaknya, Abdullah. Ka’ab bercerita,
“Ketika pasukan Nabi berangkat, saya sedang istirahat di rumah. Saya sangat
sehat dan baru saja membeli tunggangan baru.” Ia maju mundur untuk berangkat,
dan akhirnya benar-benar absen. Ketika pasukan sudah sampai di Tabuk, Nabi
tiba-tiba bertanya, “Mana Ka’ab bin Malik?” Seorang sahabat menjawab, “Dia
terikat oleh selimutnya dan sedang mengurus dirinya.” Nabi diam dengan wajah
yang sedikit berubah.
Setelah
Nabi SAW tiba kembali di Madinah, sebanyak delapan puluh orang meminta maaf
kepada Nabi dengan berbagai alasan dusta. “Kemari, kenapa engkau tidak ikut
datang? Tidakkah kamu bisa membeli tunggangan lagi?”. Ka’ab datang memenuhi
panggilan Nabi dan berkata jujur apa adanya, “Jika saya berbicara kepada “orang
bumi,” saya bisa menyampaikan seribu alasan, lalu engkau tidak marah, tapi
Allah pasti tetap marah kepadaku. Aku tidak ikut perang bukan karena apa-apa,
dan saya waktu itu juga sangat sehat dan ekonomi berkecukupan.” Nabi kemudian
berkata, “Engkau berkata jujur. Sekarang pergilah, dan tunggulah keputusan
Allah untukmu (mengampuni atau tidak)!”
Ka’ab
keluar rumah dengan lunglai. Sambil menunggu keputusan Allah itulah, Nabi SAW
melarang semua sahabat untuk berhubungan dengannya. Istrinyapun juga dilarang
tidur bersamanya. “Aku pergi kemanapun: ke pasar, tetangga, bahkan ke rumah
sanak famili, tidak ada satupun yang mengajakku bicara. Ketika Nabi selesai
memimpin shalat di masjid, saya amat berharap Nabi memandangku, tapi ternyata
juga tidak,” keluh Ka’ab. “Bumi terasa sangat sempit bagiku, dan dadaku terasa
terhimpit,” katanya sebagaimana tersirat dalam QS. At Taubah 118. Derita batin
itu dirasakan Ka’ab sampai lima puluh hari.
Pada
hari ke lima puluh pengucilan Ka’ab, tiba-tiba usai shalat subuh, beberapa
sahabat, termasuk penunggang kuda berdatangan mengucapkan selamat kepadanya,
karena Nabi SAW telah mengumumkan di dalam masjid bahwa telah turun ayat
tentang pengampunan Allah untuk Ka’ab dan dua orang temannya, yaitu Hilal bin
Umayyah dan Marrah bin Rabi’. “Aku langsung berlari memasuki masjid untuk
mendengar langsung berita itu dari Nabi SAW,” katanya.
Sebelum
memasuki kerumunan orang, Thalhah bin Ubaid berdiri menyambutku dengan ucapan
selamat. “Dialah sahabat yang terbaik menurutku. Karenanya, saya tidak akan
melupakannya selamanya,” katanya. Nabi berkata dengan wajah yang amat ceria,
“Ada berita gembira untukmu, berita yang paling membahagiakan seumur hidupmu.”
Ka’ab bertanya, “Ini berita ampunan darimu atau dari Allah, wahai Nabi?”. “Dari
Allah,” kata Nabi SAW. Begitu senangnya mendapat berita pengampunan, ia
menyerahkan semua hartanya kepada Nabi, tapi ditolak oleh nabi, dan dianjurkan
sebagain hartanya saja.
Dari kisah di atas, jelaslah bahwa setiap muslim
harus siap menjalani seberat apapun tantangan, bahkan berdiri di atas api
sekalipun demi cita-cita agung dan mulia. Ini berlaku dalam hal usaha
penyebaran agama, mencari ilmu, usaha, membangun kebahagiaan keluarga dan
sebagainya. Terbesit sedikitpun rasa malas atau takut menghadapai tantangan
dipandang sebagai cacat iman. Setiap muslim harus juga siap “berdiri di atas
api” untuk berkata jujur. Telah terbukti, jujur itu pahit pada awalnya, tapi
pasti manis buah yang akan dipetiknya.
Setelah saya membaca artikel itu,
saya membaca artikel lagi yang berjudul bangkit dengan jarum jahit. Isinya
begini. “Dan tetapkanlah untuk kami kebaikan di dunia ini dan di akhirat;
sungguh kami kembali (bertaubat) kepada-Mu. Allah berfirman, “Siksa-Ku akan
Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala
sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang
menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami.” (QS.
Al A’raf [7]:156)
Ayat
di atas adalah kelanjutan dari doa Nabi Musa AS pada ayat sebelumnya. Jika Anda
hayati doa di atas, Anda pasti menyimpulkan betapa tulus dan lembut hati nabi
yang menjadi musuh Fir’aun ini. Ia terkenal paling gagah perkasa, tapi luar
biasa tenggang rasanya, paling cepat marah tapi lekas meminta maaf, dan sangat
sayang kepada umatnya. Dialah nabi yang paling banyak disebut dalam Al Qur’an,
yaitu sebanyak 135 kali.
Ketika Nabi Musa AS memohon kepada
Allah SWT agar semua kebaikan ditetapkan untuknya di dunia dan akhirat, dan
agar taubatnya diterima oleh-Nya, Allah SWT menjawab, “Siksa-Ku akan
Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi
segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang
yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada
ayat-ayat kami.”
Tulisan ini difokuskan pada firman
Allah yang bergaris bawah di atas, ”..dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu
(warahmati wasi’at kulla syay-in)” Artinya tidak ada satupun
makhluk, khususnya manusia yang tidak mendapat sentuhan kasih Allah: muslim
atau bukan. Bahkan cobaan yang berat yang dihadapi manusia itupun sebenarnya
bentuk kasih Allah agar ia segera kembali ke jalan yang benar. Musibah atau
cobaan yang Anda alami sebenarnya sengaja diberikan Allah SWT kepada Anda agar
Anda selamat dari musibah yang jauh lebih dahsyat. Jika tangan Anda ditarik
oleh seseorang sampai tulang bahu Anda nyaris patah, sungguh orang itu sayang
kepada Anda, sebab jika tidak, Anda pasti akan hancur tertubruk kereta api
ekspres yang berada persis di belakang Anda. Berterima kasihlah kepada
“pemutus” lengan yang penuh kasih itu. Siksa Allah hanya diberikan kepada orang
yang benar-benar sudah keterlaluan, “…dan Kami tidak menjatuhkan siksa,
melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS. Saba’
[34]:17)
Dalam kaitan itu, Nabi SAW
bersabda, “Ketika Allah menciptakan makhluk, Ia menulis pada sebuah
catatan yang terletak di dekat arasy dan di sisi Allah, “inna rahmati
taghlibu ghadlabi (sungguh, kasih-Ku mengalahkan murka-Ku” (HR
Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a). Agar lebih jelas, perhatikan sabda
Nabi berikut ini. Umar bin Khattab r.a bercerita, “Beberapa tawanan
perang dihadapkan kepada Rasulullah. Tiba-tiba seorang ibu di antara
tawanan itu berlari kecil mencari anaknya. Setiap ia menjumpai anak kecil
di antaratawanan itu, ia mengangkat dan menetekinya. Rasulullah lalu
bersabda, “Menurut pendapatmu, apakah si ibu itu akan melemparkan anaknya ke
dalam api?” Kami menjawab, “Demi Allah, tidak.” Nabi SAW lalu bersabda, “Allah
lebih mengasihi hamba-Nya daripada kasih si ibu itu terhadap anaknya.” (HR
Bukhari Muslim/ Kitab Riyadhus Shalihin I: 366)
Semua ayat dan hadis Nabi yang
disebut di atas menjelaskan luasnya kasih Allah kepada manusia. Allah SWT
sangat mengasihi dan mengampuni orang-orang mukmin. Hampir tidak mungkin
menyiksa mereka. Allah SWT hanya menyiksa mereka yang kafuur (amat
keterlaluan kekafirannya). Bahkan dalam hadis di atas dijelaskan bahwa setiap
kali Allah SWT murka, Ia langsung membatalkan murka-Nya.
Sebagaimana
diketahui, Allah memiliki 100 kasih (rahmat). Satu rahmat untuk kehidupan di
dunia, sedangkan 99 sisanya disimpan untuk kehidupan akhirat. Setelah kiamat
kelak, satu kasih itu dicabut kembali dan ditambahkan pada 99 agar genap
menjadi 100 rahmat untuk orang-orang yang beriman seperti Anda. Semua ayat dan
hadis di atas juga memberi optimisme hidup. Allah pasti menyanangi orang yang
setiap hari bersujud kepada-Nya. Tidak mungkin Ia membiarkan Anda sendirian
mengatasi masalah.
Untuk
menggambarkan kasih Allah kepada semua makhluk, saya akan membangkitkan
keimanan Anda dengan menyampaikan firman Allah SWT dalam sebuah hadits qudsi
yang panjang. Allah SWT berfirman: (1) Wahai hamba-Ku, sungguh, Aku
mengharamkan kepada diri-Ku untuk bertindak dhalim, dan Aku mengharamkannya
juga kepadamu. Maka janganlah kalian saling mendhalimi. (2) Wahai hamba-Ku,
kamu semua tersesat kecuali orang yang mendapat petunjuk-Ku. Maka mohonlah
petunjuk kepada-Ku, niscaya Aku memberi petunjuk kepadamu. (3) Wahai hamba-Ku,
kamu semua orang lapar kecuali orang yang Aku beri makan. Maka mohonlah makan
kepada-Ku, nicsaya Aku memberimu makanan. (4) Wahai hamba-Ku, kamu semua
telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku,
niscaya Aku memberi pakaian kepadamu. (5) Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu
melakukan dosa, malam dan siang, dan Aku adalah Pengampun semua dosa. Maka
mohonlah ampunan kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampunimu. (6) Wahai hamba-Ku,
kamu semua tidak akan bisa melakukan apapun yang merugikan Aku, dan tidak pula
bisa melakukan apapun yang menguntungkan Aku. (7) Wahai hamba-Ku, seandainya
orang generasi pertama sampai generasi terakhir, baik manusia maupun jin
bertakwa seperti ketakwaan seorang (yang shaleh) di antara kamu, maka yang
demikian itu sama sekali tidak menambah sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku.
(8) Wahai hamba-Ku, seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir,
baik manusia maupun jin berhati jahat seperti kejahatan seorang (yang rusak
iman dan akhlak) di antara kamu, maka yang demikian itu sama sekali tidak akan
mengurangi sedikitpun kebesaran dan kekuasaan-Ku. (9) Wahai hamba-Ku,
seandainya orang generasi pertama sampai generasi terakhir berkumpul di lapangan
kemudian semuanya meminta kepada-Ku dan semua permintaan itu Aku beri, maka
yang demikian itu sama sekali tidak mengurangi kekayaan-Ku, hanya seperti
berkurangnya air samudera jika diambil dengan jarum (yang dicelupkan). (10)
Wahai hamba-Ku, segala sesuatu tergantung pada perbuatanmu, dan semuanya Aku
perhitungkan dan Aku beri balasan masing-masing. Maka barangsiapa yang
melakukan kebaikan, maka bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang
melakukan selain kebaikan itu, maka jangan sekali-kali menyalahkan siapapun
kecuali pada dirinya sendiri.” (HR Muslim dari Jundub bin Junadah r.a)
Bangkit
dan optimislah. Kasih Allah SWT untuk Anda masih tersedia secara melimpah.
Semua kesuksesan atau kebahagiaan yang telah diberikan kepada sekian banyak
manusia sama sekali tidak mengurangi persediaan karunia untuk Anda, seperti air
yang menempel pada jarum jahit kecil yang dicelupkan ke air laut. Limpahan air
laut adalah limpahan karunia yang tersedia untuk Anda. Raihlah.
Kulangkahkan kaki menuju fakultas tempat
menimba ilmu, hari ini aku harus lebih semangat karena akan bertemu orang besar
yang sangat menginspirasi, utamanya dalam hal tulisan. Intensif
bahasa Arab berjalan seperti biasa dan aku senang dengannya, tidak lama
berselang aku keluar dari kelas dan seketika itu pula bertolak ke ruangan yang
biasa kami tempati belajar bersama Prof. Ali dan asistennya yang belakangan ini
sangat sering bersama beliau. Baru sampai lima meter depan pintu aku sudah
berjumpa dengan pemuda alumni Al-Azhar Kairo ini. Wajah yang selalu dihiasai
senyum membuat hati tenteram di pagi yang meskipun aku belum sarapan. Tapi
lapar bukan alasan untuk tidak semangat. Sama seperti waktu-waktu sebelumnya
beliau (ust. Ainul Yaqin) tidak pernah berkenan tangannya dicium setiap kali
salaman, hal ini jauh berbeda ketika aku menyalami pak Prof beliau dengan
senang hati menyerahkan tangannya untuk kami cium sebagai simbol penghormatan santri kepada gurunya.
Namun
pagi ini aku hanya mendapatkan kesempatan salaman dengan ust. Ainul Yaqin,
karena biasanya pak Prof akan kami salami jika kami terlambat masuk kelas.
Alhamdulillah sekarang aku yang menunggunya dan dengan perasaan senang duduk
manis menanti kedatangan sosok yang begitu menawan. Hari ini kami masuk lebih
awal karena hendak UTS dan supaya keluarnya lebih awal juga. Berdoa sebelum
belajar menjadi rutinitas yang tak tergantikan, dengan sigap Rafael sang KOSMA
memimpin doa yang berbahasa Arab-Inggris. Doa ini kami adopsi dari doa sebelum
belajar di Genta Pare. Alunan lagunya menyayat hati dan membuat pendengarnya
terpukau.
Selesai
berdoa tidak lama kemudian sosok yang dinanti hadir di tengah kami dengan baju
rapi dan bagus, nampak bahwa beliau ingin tampil perfect di hadapan
mahasiswanya. “Saya sudah pakai baju terbaik dan celana baru untuk yang mau
foto nanti,” dawuhnya kepada kami sesaat sebelum ujian dimulai. Tanpa disangka
ternyata ust. Ainul Yaqin salah nge-print out soal, yang beliau print
soal yang tafsir Al-Munir padahal sekarang tafsir Al-Azhar, otomatis beliau
harus membuat baru 40 soal yang akan diujikan kepada kami.
Sambil
menunggu soal selesai, prof. Ali mengoreksi buku tafsir BKI yang kami susun
satu persatu dimulai dari tafsir A-Azhar. Setelah empat kali revisi ternyata
kami mengalami banyak peningkatan, ini pengakuan beliau setelah melihat tafsir
Al-Azhar sedikit sekali yang salah. Tafsir kedua yang dikoreksi adalah tafsir
Ibnu Katsir yang dikerjakan oleh kelompokku. Dalam seminggu ini kami berjuang
keras untuk bisa mengikuti saran Prof. Ali dengan cara direvisi bersama.
Caranya semua anggota kelompok memegang laptop dan ada satu yang membacakan
teks aslinya dari referensi yang diambil. Di sini kami sempat bangga karena
dari sekian kelompok yang ada hanya kami yang menerapkan metode demikian. Namun
waktu yang dibutuhkan agak lama dan itu wajar untuk sebuah permulaan. Tapi yang
terpenting adalah beliau optimis revisi ini tidak sampai 11 kali jika cara
kerjanya seperti ini.
Di balik
kesenangan itu ternyata kami terkecoh, karena beliau langsung membuka halaman
belakang yang belum sempat kami koreksi. Sudah kami perkirakan memang agak
banyak salah yang terungkap dan ditemukan oleh beliau karena memang kami hanya
berhasil merivisi 12 halaman dan sisanya sampai halaman 38 aku sendiri yang
ngoreksi dan membacanya. Tapi tak apalah ini pelajaran berharga bagiku untuk
tidak meremehkan semua bagian, entah depan tengah ataupun belakang. Ini beliau
lakukan karena beliau ingin kami menjadi penulis yang cermat dan teliti serta
tidak percaya penuh kepada penerbit.
Koreksi
selesai ujian pun dimulai dan soal demi soal dibacakan oleh asisten dosen
dengan sangat jelas dan sukar menjawab pertanyaan yang katanya mudah untuk
dijawab itu. Memang benar apa yang beliau katakan bahwa insyaallah tidak ada
yang meraih nilai 100, dan itu menjadi nyata ketika Febi yang sebelumnya
tertinggi mendapat 90 namun masih tertinggi dan berkesempatan foto bareng lagi
dengan tokoh peradaban itu. Aku sendiri hanya bisa mengumpulkan
nilai 60, sungguh hari yang buruk.
Ini
mungkin sebuah akibat dari ketidakpuasan ust. Ainul ketika kami ada yang benar
semua. Tapi aku suka cara seperti ini, ketimbang dikasih yang gampang namun
tidak ada tantangan dan datar-datar saja kan tidak seru. UTS selesai pak Prof
langsung pamit dan menyerahkan kendali kelas kepada asdosnya yang super tampan.
Namun sebelum keluar beliau memerintahkan kelompokku (Ibnu Katsir) maju kedepan
dan menjelaskan perihal ayat-ayat dan tafsir yang mau diujikan minggu depan,
darah memuncak dan sangat tidak percaya diri karena tidak ada persiapan. Tapi
mau bagaimana lagi sudah perintah Prof. Ali, di situlah kadang perasaan saya
menyesal karena tidak siap setiap saat.
Akhirnya
kami maju dan berusaha tampil sebaik mungkin, dengan aku sebagai pemandu atau
pemegang kendali. Diskusi pun berjalan, satu persatu kami menerangkan materi yang
akan diujikan minggu depan. Pertanyaan diajukan oleh mereka yang merasa belum
puas dengan keterangan yang kami sampaikan. Alhamdulillah kami bisa menjawab
dan memuaskan teman-teman. Sebagai paripurna ust. Yaqin menerangkan secara
gambling dan global mengenai pemahaman dari ayat yang kami
bahas barusan. Tidak seberapa lama beliau menjelaskan namun sudah menunjukkan
keluasan ilmu yang beliau miliki. Pembelajaran ditutup dengan doa dan kafaratul
majelis, dengan harapan semua ilmu yang kami pelajari bermanfaat dunia-akhirat.
Semangat
memang akan terlahir dari diri sendiri, betapapun seringnya motivasi dari luar
tapi kalau diri kita tidak mengeluarkannya semangat akan tetap terpendam.
Kira-kira begitu yang aku rasakan ketika sampai di kelas intensif bahasa Arab,
perasaan was-was dan kurang semangat karena belajar yang kurang dan tidak siap
100 % menjadikan langkahku terombang-ambing tak menentu. Langkah ini terasa
berat, badanpun menjadi bertambah gemuk susah untuk digerakkan padahal hari ini
materi UTS diambil dari tafsir kelompokku yaitu Tafsir Ibnu Katsir. Tapi
berhubung aku kurang serius membaca dan mempelajarinya akhirnya aku kurang yakin
akan mendapat nilai bagus, meskipun bukan itu tujuan utama. Sebagaimana yang
aku tahu pak Prof. Ali Aziz tidak pernah memandang hasil tapi proses, namun
melihat prosesku yang seperti ini aku semakin merasa bersalah sama beliau.
Aku
sendiri merasa selama ini kurang serius mengikuti setiap pembelajaran di kampus
ini, tidak tahu apa sebabnya semangat di semester dua seperti lebih menurun
daripada semester satu. Padahal materi yang diajarkan tidak terlalu susah dan
aku yakin bisa memahaminya jika aku tekun. Sering sekali aku merasakan hal
demikian, yang sangat susah untuk bergerak dan membuat perubahan nyata tidak
hanya sekadar menyadari saja. Untuk itu pagi ini aku berangkat lebih awal dan
sampai di kelas intensif sebelum dosen datang.
Tiba di
kelas langsung kusatukan pandangan dan pendengaran untuk menyimak lebih dalam
keterangan dosen insturuktur intensif yang sangat handal dalam bahasa Arab,
beliau tahu betul metode pembelajaran bahasa yang efektif dan efisien. Aku
sendiri sangat cocok dengan metode yang beliau terapkan. Apalagi beliau sendiri
masih asli orang Madura.
Seperti
biasa setelah intensif selesai aku langsung menuju ruangan tempat mata kuliah
Tafsir BKI. Tidak seberapa lama aku dan teman-temanku duduk manis menunggu
kedatangan Prof. Ali bersama asistennya. Ternyata asisten beliau lebih dahulu
datang dan langsung memulai dengan salam seperti biasa dilanjutkan dengan doa
yang dibaca serempak dan mengalun dengan sepoi-sepoi. Doa yang kami dapat dari
tempat kursus kemaren menjadi doa rutin setiap hendak memulai pembelajaran di
kampus ini. Karena meskipun sudah tidak lagi siswa kami masih yakin dengan
kekuatan dan barokah doa yang kami baca. Doa pertama tentang permohonan ampunan
untuk diri sendiri dan dua orangtua, kemudian berlanjut pada doa lapang dada
atau yang lebih dikenal dengan doa Nabi Musa a.s. ketika menghadapi Fir’aun
yang konon dibaca Jokowi sebelum debat capres beberapa waktu lalu dan diakhiri
dengan doa allaahumma yaa Mu’allima Ibrahiim ‘allimnaa waya Mufahhima
Sulaiman Fahhimna. Doa terakhir dipakai di semua kelas yang diajarkan
langsung oleh Prof. Ali Aziz.
Sesaat
sebelum doa selesai dibaca orang yang kami tunggu-tunggu kedatangannya telah
bergabung dan join di tengah-tengah kami dengan wajah yang seperti
biasa, penuh senyum dan keceriaan. Memandang beliau mengahdirkan keteduhan dan
ketenangan, ini yang membuat beliau tetap awet muda dan kuat beraktivitas super
padat setiap hari. Alangkah bahagia keluarga beliau memiliki kepala keluarga
sesabar dan sehebat beliau. Sambil tersenyum langkah kaki Prof. Ali mengayun
menuju kursi yang telah disediakan.
Sama
dengan minggu-minggu yang telah lalu, beliau memulai pelajaran dengan memanggil
salam dan menanyakan keadaan kami semua. Kamipun serempak menjawab dengan
jawaban alhamdulillah. Kemudian beliau menanyakan tugas kami bagaimana
perkembangannya dan apakah sudah diedit. Syukur kami sudah berkumpul dan
memusyarahkannya kemaren meskipun tidak seperti minggu kemaren yang sangat
intens dan memakai metode yang diajarkan beliau. Perhatian kelompokku sedikit
terbagi oleh materi UTS yang diambil dari tafsir kelompokku. Sedikit beban
tentunya ada, sebagai tuan rumah kami dituntut untuk menjadi yang terbaik
sebisa dan semampu kami, oleh karenanya kumpul tidak terlalu diutamakan kami
lebih memilih untuk mempelajari apa yang akan diujikan hari ini.
Sebelum
ujian dimulai pak Prof meminta file Tafsir masing-masing kelompok untuk
dikoreksi sebentar oleh beliau. Dimulai dari tafsir Al-Munir yang pertama kali
siap untuk diberikan. Sambil mengoreksi tugas kami Ust. Ainul Yaqin memulai
ujian tengah semester yang telah berlangsung kurang lebih empat kali. Soal
pertama dimulai dengan perintah melengkapi ayat, agak tidak terlalu terkejut
aku hafal ayat ini yaitu surat Al ‘Alaq yang tergolong surat pendek dan biasa
dibaca sejak masih kecil. Namun petaka itu muncul ketika perintah melengkapi
ayat terulang kembali pada soal-soal selanjutnya. Aku kelimpungan dibuatnya,
jujur aku tidak hafal semua ayat yang akan diujikan. Tadi malam aku hanya
membaca satu kali dan tidak menghafal secara intens ayat yang diujikan. Mungkin
karena anggapanku yang mengira ayat ini sudah familiar dan sering didengar.
Dugaanku meleset, ayat-ayat yang pernah aku hafal semua buyar dan hilang entah
ke mana. Sampai akhirnya pak Prof meminta file tafsir Ibnu Katsir yang ada di
laptopku, dengan pura-pura tenang aku berikan laptop putihku kepada beliau.
Setelah
selesai menyerahkan laptop soal pun dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan
yang sangat mengecoh. Dibutuhkan kejelian dan ketelitian untuk menjawab satu
soal, meski jawaban yang tersedia hanya dua yaitu benar atau salah (B/S). Ada
satu soal yang begitu menjebak dan hanya satu huruf saja yang salah,
subhanallah pandai sekali asisten Prof yang membuat soal ini. Sebagai seorang
calon penulis besar kami diajak untuk berfikir cermat dan hemat, cermat dalam
membaca segala kemungkinan yang bisa saja terjadi, karena tidak jarang soal
yang dilontarkan terdapat salah di sanad saja atau di matan saja itu bagi soal
yang berupa hadits. Atau hanya lebih satu huruf, dan bisa kurang satu huruf
atau salah satu huruf. Pokoknya kami harus benar-benar cermat. Hemat waktu juga
diperlukan, karena waktu yang disediakan hanya beberapa detik. Sehingga setiap
detik menjadi sangat berharga dan bisa dibilang lebih berharga daripada emas 24
karat.
Tercatat
ada 5-6 ayat yang diperintahkan untuk disempurnakan dan aku hanya bisa
menyempurnakan dengan betul satu ayat saja, selebihnya gatot (gagal total).
Dari hasil ini sudah bisa ditebak berapa nilai yang akan aku dapat, ditambah
kesalahan-kesalahan lain yang tidak sedikit. Aku sudah pasrah dan ikhlas
menerima nilaiku apa adanya. Aku sadari prosesku seperti apa maka aku pun tidak
terlalu mengharapkan hasil yang berlebihan. Kata pepatah arab al-ajru
biqadri al-ta’ab (pahala/imbalan sesuai kepayahannya). Dan ternyata benar,
setelah ditukar dengan kepunyaan teman di sebelah yang kebetulan milik Rafael
aku mendapat nilai yang tidak pernah aku dapat sebelumnya, nilai yang aku kira
menjadi nilai terendah hari ini “55”. Nilai ini menjadi nilai terendah yang
pernah aku raih sejak belajar bersama pak Prof. Betapa malunya aku mendapat
nilai seperti ini, hendak ditaruh di mana mukaku ini, sebagai ketua kelompok
aku gagal memberikan contoh yang baik untuk anggotaku. Merah padam wajahku
menahan malu, namun aku harus berusaha tegar dan tidak cemen dengan hasil ini.
Apapun yang kuraih ini yang terbaik untukku, karena ini murni hasilku tanpa
tolah-toleh.
Kebahagiaan
karena masih bisa menghirup udara segar di pagi hari
seringkali terlupakan. Berapa yang harus kita bayar jika tidak bisa bernafas
dengan normal dan harus dibantu tabung oksigen? Ini baru nafas belum nikmat
lain yang tak terhitung. Untuk itu aku harus lebih banyak tersenyum daripada
menangis, lebih banyak gembira daripada bersedih. Oleh karenanya hari ini aku
harus ceria menjalani hai yang penuh tantangan ini. Ya dua tantangan telah
menantiku di bangku kuliah. Ujian intensif bahasa Arab dan UTS Tafsir BKI. Dua
ujian tersebut hampir saja membuatku tidak nyenyak tidur, bukan karena sulit
tapi karena waktu yang ada tidak sempat kumanfaatkan sebaik mungkin.
Pagi ini
aku bangun lebih awal dari hari-hari sebelumnya. Mungkin karena tadi malam aku
tidur dalam keadaan lapar dan sedikit berat pikiran karena memikirkan ujian.
Aku pun berangkat menuju fakultas yang terletak di ujung timur kampus bagian
utara ini. Fakultas yang berjasa besar atas alih status IAIN menjadi UINSA.
Sebab FDK telah merelakan satu prodinya untuk menjadi fakultas baru yaitu
Fakultas Psikologi, seperti yang dipaparkan ibu dekan di suatu kesempatan. Aku
bangga menjadi bagian fakultas yang konon menelurkan banyak pendakwah yang
tidak hanya jago kandang melainkan telah kesohor ke seantero jagat.
Sambil
menggendong tas yang agak berat aku memasuki pelataran fakultas yang sepertinya
menjadi fakultas dengan koran yang paling disiplin dipampangkan di depannya.
Setiap hari mahasiswa sibuk membaca informasi mengenai negeri yang sedang
carut-marut dan semakin tidak jelas arah pertumbuhannya. Akupun sering
menyempatkan diri untuk membaca opini yang dimuat di koran kebanggaan orang
Jawa Timur ini. Aku belajar banyak dari para penulis tersebut, tentang cara dan
gaya penulisan opini dan bagaimana trik supaya bisa dimuat. Karena aku yakin
tidak lama lagi tulisanku akan dimuat juga, amiin.
Memasuki
gedung fakultas ini pikiranku melayang dan kembali ke dua tahun silam. Waktu di
mana aku masih berstatus siswa dan sehari-hari memakai sandal, seringkali telat
karena tidur lagi ketika selesai Subuh atau karena mengantri mandi yang begitu
lama. Pernah suatu hari kepala sekolah mendapatiku terlambat setengah jam dari
bel masuk, kebetulan waktu itu sedang ada proyek pembangunan perpustakaan,
beliau berkata “Sudah siang begini baru datang, kamu kalah sama tukang bangunan
itu? Sudah sana pulang, pulang!” Badanku seketika lemas dan tidak berdaya.
Kulangkahkan kaki menuju pondok dan kembali ke rutinitas awal (tidur pagi) atau
pergi ke kantin untuk sekadar mengganjal perut yang sudah sangat keroncongan.
Pengalaman pahit yang sangat sulit dilupa.
Kini aku
bisa leluasa masuk kapanpun dan datang ke fakultas sesukaku tanpa ada yang
menghalangi dan menyuruhku balik. Tapi di sinilah proses kedewasaanku, apakah
aku masih sama seperti dulu atau benar-benar bermetamorfosis menjadi mahasiswa
yang sesungguhnya yang bisa menghargai waktu sebagai bentuk syukur karena telah
diberi kesempatan untuk kuliah. Tapi kenyataannya aku memang masih saja sering
terlambat dan seringkali membuat dosen menunggu kedatanganku, bukankah ini su’ul
adab. Aku tahu dan menyadari bahwa kebiasaan terlambat bukan hal yang baik
dan berarti ini bukan masalah bagiku karena aku menyadarinya namun yang menjadi
masalah sekarang adalah aku sadar tapi tidak ada gerak nyata. Sungguh kesadaran
yang kurang makna, namun aku yakin kesadaranku ini sudah merupakan langkah awal
untuk mengubah diri, meskipun belum bisa beranjak ke langkah kedua.
Ujian
intensif kulaluli dengan agak sedikit mudah karena materinya sudah sedikit aku
pahami dan kuasai, selesai langsung kusetor kepada Ust. Gofur yang ternyata
tidak semua teman tahu nama beliau. Agak lucu memang tapi ini fakta bahwa
sampai perkuliahan intensif hampir selesai masih ada yang belum mengetahui nama
dosennya meskipun dua kali dalam seminggu berjumpa.
Langkah
kaki kuluruskan dan kumantapkan menuju ruangan yang sudah sangat familiar dan
sepertinya walaupun mata ini terpejam akan tetap sampai ke ruangan itu.
Setibanya di depan pintu aku terkejut karena Ust. Ainul Yaqin sudah berada di
samping kanan pintu dan duduk di atas kursi, aku takjub pada kedisipilinan
beliau, berbeda jauh dengan mayoritas orang Indonesia yang terbiasa memakai jam
karet dalam hampir setiap aktivitasnya. Perasaan itu yang tebersit dalam hatiku
dan langsung kubuyarkan dengan menyalami beliau setelah sebelumnya uluk salam.
Beliau pun bertanya, “Sehat Mizan?” sapaan dari guru yang sangat tulus
mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan tanpa mengaharap ujroh sepeser
pun. Aku jawab sejujurnya, “Alhamdulillah sehat Ustadz”
Untuk
selanjutnya aku balikkan punggungku dan menyelinap masuk ke dalam kelas yang
ternyata sudah sedikit penuh dengan manusia-manusia perantau yang rupa wajahnya
bervariasi. Begitupun dengan aktivitas yang dilakukan, mereka terlihat sibuk
dengan kepentingannya masing-masing. Ada yang membeli roti dari mahasiswa yang
merangkap menjadi penjual roti, sebuah profesi yang jarang terlihat di zaman
digital ini. Kegiatan berjualan bagi mahasiswa sangat jarang terlihat apalagi
bagi mereka yang gengsinya menyamai puncak Everest yang beberapa hari lalu
menelan banyak korban. Ada sedikit kebanggaan tersendiri melihat teman satu
kelas (Rafael) berjualan dan menjajakan rotinya di tengah-tengah kerumunan
orang-orang yang sibuk dengan tablet, android dan segala macam pernak-pernik
kehidupan yang sebagian besar hanya untuk happy dan have fun. Karena dengan
seperti itu dia sudah menapaki tangga kesuksesan. Ini sangat cocok dengan
perkataan Brain Tracy dalam buku Struggle For Success, ia menyatakan bahwa
“Capaian besar dimulai dengan tahapan-tahapan kecil yang dimulai seketika”.
Kelas
ini memang tekenal dengan sebutan kelas nusantara karena orang-orangnya yang
berasal dari berbagai pulau dan daerah di kepulauan Nusantara. Ada yang dari
pulau Sumatra, pulau Kalimantan, pulau jawa, pulau Sulawesi,
dan pulau Maluku. Dari keluarga tidak mampu
sampai keluarga ningrat berkumpul dan tumpah ruah di kelas ini, maklum PBSB
tidak dikhususkan kepada orang miskin saja melainkan bagi mereka yang
berprestasi ketika masih di pesantren. Di kelas yang memiliki fasilitas satu
buah AC dan enam lampu yang sering nyala tiga dan tiganya lagi laa yamuutu
wallaa yahyaa kami belajar dengan dua orang yang sangat luar biasa
mengagumkan. Suasana agak dingin dan sejuk membuat perkuliahan terasa lebih
nikmat dan fokus berbeda ketika masih semester satu yang setiap hari Senin
harus mendatangkan kipas angin atau bertahan dengan kepanasan yang ada.
Juga di
kelas ini kami menerima banyak hal baru setiap minggunya, mulai dari Prof. Ali
Aziz dengan pengalaman-pengalamannya yang mengesankan sampai hal-hal yang
bersifat mistik dan sangat susah dinalar dengan akal. Suasana panas di luar
tidak terasa dan sedikitpun tidak mengganggu ketenangan kami yang masih dalam
pencarian jati diri. Kehadiran pria alumni Al-Azhar ke dalam kelas dengan
pakaian rapi ditambah jas yang kelihatan necis namun tetap sederhana membuat
hening, kesibukan demi kesibukan ditinggalkan oleh mereka. Duduk rapi menjadi
sebuah pilihan mutlak sebelum berdoa kalau tidak ingin kejadian kemaren
terulang kembali, ya kejadian ketika asdos yang ternyata masih ada hubungan
keluarga dengan Prof. Ali ini meminta kami mengulang doa sampai tiga kali
karena tidak khusyuk dan sibuk dengan pekerjaan lain. Akhirnya kami menjadi
sadar dan setiap kali hendak dan berdoa kami tidak sibuk dengan yang lain
melainkan fokus pada doa yang dibaca. Alhasil doa menjadi sangat khidmat dan
sakral.
Setelah
itu prof ali datang dengan baju yang rapi dan ganteng. Ketika beliau duduk dan
beliau bercerita. Beliau cerita tentang artikelnya yang berjudul mutiara dalam
lumuran darah. “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal
berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” (QS. Al Baqarah [2]:216)
Pada ayat sebelumnya, Allah menjelaskan kepada Nabi SAW bahwa orang-orang
shaleh terdahulu tiada sepi dari cobaan yang menyangkut kesehatan, ekonomi dan
cobaan-cobaan berat lain sampai menggoncang jiwa mereka seperti gempa yang menggoncang
bumi (wazulzilu). Jika Anda muslim shaleh, Anda juga harus bersiap
menghadapi cobaan yang sama. Jangan terkejut dan jangan mengeluh.
Ayat yang dikutip di atas merupakan
kelanjutan ayat sebelumnya, bahwa di samping cobaan-cobaan yang telah
disebutkan, masih ada cobaan lain, yaitu perang. Semua orang normal tidak
menyukai perang: biaya besar, korban jiwa yang tak terhitung dan rasa damai
yang hilang. Tapi, jika musuh sudah melecehkan kehormatan dan kedaulatan
negara, Anda harus angkat senjata sekalipun Anda sama sekali tidak menyukainya.
Allah SWT memberitahu Anda untuk selalu bersiap menjumpai hal-hal yang sama
sekali tidak Anda sukai. Pada saat itulah, Anda harus berfikir positif dengan
merenungkan firman Allah, “..boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia
amat baik bagimu..”
Untuk memudahkan Anda memahami ayat ini,
saya ilustrasikan sebuah peristiwa yang dialami kuli bangunan yang terdampar di
sebuah terminal bus tanpa bekal satu rupiahpun. Pemuda asal Magetan Jawa Timur
yang bekerja di Surabaya itu harus segera pulang karena ibunya sakit kritis di
kampung. Ia membawa uang hanya cukup untuk tiket bus karena ia akan dijemput
adiknya di terminal terakhir. Sialnya, ketika bus berhenti di terminal
Mojokerto, ia pergi ke toilet, dan saat itulah ia ditinggalkan bus. Di mushalla
tempat ia istirahat, ia mengadu kepada Allah, “Wahai Allah, saya sudah tidak
memiliki uang sepeserpun. Bagaimana saya melanjutkan perjalanan pulang?
Tidakkah tujuan saya ini mulia: menjenguk ibu saya yang kritis?” Berkali-kali
ia mengajukan protes kepada Allah, “Mengapa Engkau tidak memberi kemudahan
hamba-Mu yang sedang berbakti kepada orang tua ini?”
Pagi hari setelah bangun tidur di mushalla
kecil itu, ia mendengar suara penjual koran, “Koran, koran. Kecelakaan maut,
kecelakaan maut. Bus Brahma.” Ternyata bus itulah yang meninggalkannya di
terminal sehari sebelumnya. Ia langsung bersujud syukur sambil mengatakan,
“Wahai Allah, luar biasa skenario-Mu untuk menyelamatkan saya. Luar biasa
kasih-Mu. Andaikan saya tidak tertinggal di terminal, tentu saya sudah mati dan
tidak bisa menjenguk ibu selamanya.”
Kasus serupa terjadi pada diri saya
sendiri. Pada tahun 2000, sepulang dari Afrika, tiba-tiba suara saya hilang dan
berlangsung selama enam bulan. Saya sedih, tidak bisa mengajar dan berceramah
seperti sebelumnya. Beberapa tahun kemudian, cobaan kedua datang. Nyaris saya
tidak bisa rukuk dan sujud dengan sempurna karena penyakit punggung dan lutut.
Saya harus rukuk dengan perlahan menahan sakit dan lebih lama. Sejak itu saya
“terpaksa” rukuk dan sujud lebih lama dan lebih tenang, tidak tergesa-gesa, dan
berusaha memahami makna doa di dalamnya. Dari situlah, saya memperoleh
inspirasi menulis buku tentang kedahsyatan rukuk dan sujud, dan pada tahun 2012
terbitlah buku 60 Menit Terapi Shalat Bahagia. Andai tidak ada
cobaan itu, tidak akan ada buku tersebut. Ternyata, pada semua kejadian yang
tidak saya sukai tersimpan rahasia Ilahi yang baru dibuka-Nya di kemudian hari.
Sekali lagi renungkan firman Allah, “Boleh Jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu..”
Untuk Anda yang masih meragukan firman
Allah di atas, saya tambahkan satu kisah lagi. Seorang anggota TNI Angkatan
Laut tiba-tiba mendapat surat pemecatan karena terbukti salah satu keluarganya
tokoh PKI. Berbulan-bulan ia merasakan derita psikis dan ekonomis karena tidak
tahu apa yang harus dilakukan untuk menyelematkan masa depan anak-anaknya yang
masih kecil. Setahun kemudian ia diterima di perusahaan pelayaran dan beberapa tahun
sesudahnya ia mendapat gaji perbulan sama dengan gaji TNI selama dua tahun.
Tiada henti ia bersyukur, “Terima kasih oh Allah atas peristiwa pemecatan saya
sekian tahun yang lalu.”
Dalam hidup selalu ada siang dan
malam. Artinya, tidak selamanya seseorang dalam kegelapan malam, sebab esok
hanya ia menyaksikan matahari terbit di ufuk timur. Tidak selamanya Anda dalam
penderitaan. Pada waktu yang lain, Anda pasti mengalamai hal yang menyenangkan.
Pada saat demikian, Anda harus berhati-hati, sebab Allah memberitahu Anda,
”… dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk
bagimu..”. Anda mungkin pernah mendengar kisah berikut ini. Seorang pejabat
mengadakan pesta besar-besaran dengan aneka makanan rakyat, sebagai tanda
kegembiraan atas terpilihnya sebagai bupati, mengalahkan pesaingnya dengan
selisih suara yang tipis. Baru setahun memimpin kabupaten, ia tertangkap tangan
oleh KPK dan masuk bui karena kasus korupsi.
Ada lagi kisah lain yang serupa. Seorang
janda bertahun-tahun menabung untuk membelikan motor untuk anak tunggalnya.
Seusai shalat subuh, sang anak mencoba motornya di jalan raya. Di pagi buta
itulah sang anak menghembuskan nafas terakhir, karena sebuah truk pengangkut
sayur dari pasar induk melaju dengan kecepatan tinggi menabraknya.
Allah SWT menyudahi firman-Nya, “Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui.” Artinya, Anda hanya bisa mengetahui
bungkus sebuah peristiwa sedang Allah-lah Yang Maha Tahu isinya. Anda hanya
bisa melihat kulit dan tidak mengetahui di baliknya. Anda hanya bisa mengetahui
kekinian dan tidak akan tahu apa yang terjadi kemudian.
Ternyata, pada buah apel segar di tangan Anda, terdapat ulat di dalamnya yang
mematikan Anda. Di tengah kegembiraan terkadang tersimpan sebuah malapetaka.
Maka bergembiralah secara wajar-wajar saja, jangan berlebihan. Bahkan, tetap
waspadalah di tengah kegembiraaan itu. Sebaliknya, di tengah genangan air mata
dan darah, kadang terdapat mutiara indah yang baru Anda temukan di kemudian
hari. Maka tetap bersiullah di tengah badai derita kehidupan. Semoga Anda
segera menemukan mutiara itu.
Malam ini saya
melihat artikel-artikel prof ali aziz karena sudah tidak bahan untuk tulis
apalagi jadi mala ini saya membaca artikel prof ali yang sangat unik, yaitu
judulnya mengejek rempeyek. Isinya begini, Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi
yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka, dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik dari mereka, dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan
memanggil dengan gelar yang mengandung ejekan.
Panggilan terburuk adalah (panggilan) sesudah
iman, dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yangdhalim” (QS. Al Hujurat [49]:11)
Ayat
di atas saya pilih untuk kajian Al Qur’an kali ini, setelah pada tanggal 12
Oktober 2013, saya tinggal semalam bersama para mahasiswa, anak buah kapal,
pekerja pabrik dan pembantu rumah tangga asal Indonesia di Hualien, kota kecil
sebelah timur Taipei. Terpaksa naik pesawat, karena saya dan rombongan dari
KDEI (Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia) kehabisan tiket kereta api. Salah
satu tujuan kunjungan ini adalah apresiasi kepada wanita Indonesia yang
menjadikan tokonya untuk pusat kegiatan Islam dan perlindungan untuk semua
warga Indonesia di Hualien. Anda pasti bertanya-tanya, apa hubungan Hualien
dengan ayat ini.
15
tahun yang lalu, Yani (45 tahun) pembantu rumah tangga (PRT) dianggap “gila”
oleh orang sekampungnya di Jawa Tengah dan teman sekerja di Taiwan. Ia menikah
dengan penduduk Taiwan yang lumpuh total karena enam tulung punggungnya patah
dan sistem syarafnya rusak karena sebuah kecelakaan. Ke manapun ia pergi, hanya
ejekan yang diterima. Janda dengan dua anak asal Purwokerto itu benar-benar
hanya ingin menyemangati orang walaupun tidak seiman, dan sama sekali tidak ada
yang bisa diharapkan darinya, karena pria itu tidak hanya cacat, tapi juga amat
miskin.
Sebagai istri yang setia, setelah
menyuap makanan untuk suami, ia keluar untuk menjual rempeyek (kerupuk
tipis) yang dititipkan di sejumlah toko. Sore hari, ia cepat-cepat pulang untuk
merawat sang suami, dan keluar lagi untuk melanjutkan usahanya. Itu dilakukan
bertahun-tahun untuk suami yang masuk Islam sebelum pernikahan, dengan tulus
dan tanpa keluhan sama sekali.
Suatu
saat, hati Yani goyah, karena seorang teman mengejeknya, “Gila kamu ini.
Andai mau kerja di majikan, tentu kamu dapat bayaran Rp. 6 juta perbulan untuk
keluarga di Indonesia.?” Tapi, jiwa kemanusiaan istri ini luar biasa. Ia sangat
iba, sehingga tidak mungkin meninggalkan suaminya yang sudah menderita. Suami
juga benar-benar menyemangatinya. Sekalipun ia hanya bisa menggerakkan tangan,
ia selalu berusaha sebisanya untuk membantu sang istri membuat rempeyek.
Beberapa kali ia terjatuh, dan bangkit lagi. “Benar-benar ia orang Taiwan: gila
kerja, pantang menyerah,” puji sang istri.
Setelah
4 tahun berlalu, tiba-tiba sang suami bisa bangkit. Sedikit demi sedikit dengan
obat dan operasi jutaan dolar yang ditanggung pemerintah, sang suami, Ye Ming
Cen bisa berjalan. Dengan tenaga sekuatnya, ia berternak ayam di halaman rumah.
Usaha itu berhasil bersamaan dengan semakin terkenalnya “Rempeyek Yani.”
Sekarang, ia memiliki toko Indonesia di Tzi Chians Road yang terbesar Hualien.
Tidak hanya terkenal dengan Toko Yani, tapi juga Mushala Yani. Sekalipun Ming
Cen belum shalat lima waktu, tapi dialah yang paling bersemangat menyiapkan
tempat dan peralatan shalat untuk ratusan pekerja Indonesia di salah satu ruang
tokonya. Bahkan pada pelaksanaan shalat idul Fitri pertama kali di Hualien yang
diadakan di pinggir pantai, Agustus 2013 yang lalu, dialah yang paling sibuk
menyiapkan tikar, sound system, dan memintakan ijin kepada pemerintah setempat.
Ia terpanggil “menghidupi” orang Indonesia, yang selama ini telah
“menghidupinya.
Roda hidup selalu berputar. Jika
Anda di atas, bersiaplah, suatu saat untuk berada di bawah. Jika sedang di
bawah, jangan berkecil hati, optimislah, cepat atau lambat, Anda akan di
atas. “Dan masa (kejayaan dan kehancuran itu) Kami pergilirkan di
antara manusia…” (QS. Ali Imran [3]:140). Warga sekampung di
Indonesia, yang dulu mengejek Yani, sekarang merekalah yang paling sering
meminta bantuannya. Teman-teman sekerja di Taiwan yang mengolok-oloknya sekian
tahun silam, sekarang menjadikan Toko Yani sebagai tempat ibadah dan pusat
posko perlindungan setiap kali mengalami masalah pekerjaan di negeri Formosa.
Firman
Allah di atas memberi peringatan, jangan mudah mengejek orang karena status,
profesi, etnis, atau apapun alasannya. Jika Allah merubah nasib orang yang Anda
pandang hina, lalu ia berada di atas roda, dan Anda di bawah kakinya, betapa
derita psikologis Anda? Jika ejekan itu menyangkut prilaku seseorang,
jangan-jangan Anda seperti burung merak, yang memukau orang karena bulunya, dan
dengan kemilau bulu itu, ia pandai menutupi kakinya yang jelek. Orang yang Anda
ejek itu orang lugu dan jujur, tidak pandai beretorika, dan miskin asesori
penampilan, sehingga yang terlihat keasliannya. Tapi bagi Allah, ia jauh lebih
terhormat dari Anda. Jika Allah membuka aib Anda, dengan apalagi Anda
menutup muka-malu Anda? Bisa saja, orang yang Anda pandang sebagai “setan” itu
suatu saat bertobat, lalu kesalahennya melampaui Anda.
Firman Allah di atas, Allah juga
berpesan, “Jangan mencela dirimu sendiri.” Artinya
orang lain itu saudaramu sendiri. Berarti, ejekan kepada mereka, sebenarnya
memantul kepada diri Anda sendiri. Jika Anda suka dipanggil dengan panggilan
kerhormatan yang menyenangkan, maka jangan memanggil mereka dengan label-label
kehinaan. Kasihilah sesama, Allah dan semua penduduk langit akan mengasihi
Anda. Buatlah mereka tersenyum, Allah pasti akan tersenyum kepada Anda. Senyum
ibu Yani dan kasihnya yang tulus kepada orang menderita dengan sejuta
pengurbanan, membuahkan senyum Tuhan kepadanya, dan senyum itu baru ditunjukkan
oleh-Nya setelah sekian tahun berlalu.
Ayat
di atas secara tersirat mengingatkan Anda untuk berhati-hati setiap bicara.
Ucapan itu bagaikan anak panah yang terluncur dari busurnya. Berhati-hatilah
dari perkataan yang bernada merendahkan orang. Luka hati lebih menyakitkan dari
tusukan belati. Semakin sering Anda menghina seseorang, semakin jelaslah bagi
orang lain, siapa Anda sebenarnya. Pintu rizki di langit juga semakin tertutup
untuk Anda, karena semakin sedikitlah orang yang mau bekerjasama dengan Anda.
Jika
Anda mendapat ejekan, diamlah. Dengarkan, dan biarkan pengejek itu mati dengan
kelelahannya sendiri. Jangan membantah walau dengan sepatah katapun. Bantahlah
dengan perbuatan nyata, sebagaimana yang dilakukan ibu Yani dengan kerja keras,
pantang menyerah untuk merubah nasibnya. Andaikan ia bukan wanita, saya pasti
merangkulnya untuk menyerap nilai cinta kasih, pengurbanan, dan ketauladanaan
kesabaran dan kerja kerasnya. Keberpihakan Anda sesaat kepada orang menderita,
lebih baik baginya daripada kedekatannya dengan orang lain yang tidak peduli
sepanjang masa.
“..dan barangsiapa tidak
bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang dhalim” (QS.
Al Hujurat [49]:” Firman Allah ini mengandung anjuran untuk bertobat bagi
siapapun yang terbiasa memandang rendah orang lain. Oleh sebab itu,
setelah membaca artikel ini, mohonlah ampun kepada Allah. Lalu berjanjilah
untuk menebar kasih dan penghormatan, bukan ejekan dan kebencian.
Itulah artikel yang say baca pada
malam ini. Setelah itu saya keluar untuk cek uang di atm, soalnya kakak saya
bilang sudah dikirim uangnya. Ternyata sampainya disana uangnya masih itu.
Tidak ada penambahan uang. Setelah itu saya balik kepesma dengan perasaan
kecewa. Tetapi ketika saya sampai didepan rektorat ada munir didepan saya dan
akhirnya munir mengajak saya untuk ngopi bareng di samping basecamp css MoRA.
Ditengah perjalanan munir cerita tentang cewek kenalan baru dia. Dia bangga
sekali karena si cewek itu fans sekali dengan munir. Ketika sampai di samping
basecamp ternyata tempatnya ketutup, akhirnya kami pun meneruskan perjalanan ke
tempat ngopi angkring namanya. Disitu lumayan sudah enak makanannya ada wifinya
juga jadi kami bias internetan sambil ngopi ditempat tersebut. Waktu menujukkan
pukul 21.39 kami pun balik kerumah atau pesma dengan jalan kaya teller karena
kami ngantuk.
Hari ini hari sabtu, dimana kami
kelas nusantra ini mempunyai agenda yaitu kajian ples kuliah tentang tafsir
BKI. Pada hari ini materinya tentang Aku, Istri Nabi Tertuduh. Inilah kisahnya.
Seperti biasa,
sudah menjadi kelumrahan bilamana Rasulullah hendak bepergian, beliau mengundi
nama istri-istrinya terlebih dahulu. Nama siapakah yang keluar, dialah yang
berhak mendampingi Rasulullah. Perang melawan Bani Mustaliq sudah ditetapkan
dan Rasulullah sendiri yang akan pergi memimpin peperangan. Malam itu diundilah
nama para istri beliau, kiranya siapa yang akan menemani beliau selama peperangan
Bani Mustaliq.
Aisyah
binti Abi Bakar, itulah nama yang disebut Rasulullah. Sontak wajah
ku
merona gembira mendengar namaku disebut. Sungguh aku tak percaya. Rasa gembira
yang membara bercampur lebur dengan keraguan, apakah benar namaku yang keluar
dan berhak menemani Rasulullah berjuang membela agama Allah kali ini? Sungguh
sebuah kehormatan bagiku bisa menyertai dan melayani beliau berjihad di jalan
Allah. Peperangan
dengan Bani Musthaliq terjadi selepas ayat Hijab turun. Otomatis, aku berhijab seperti yang telah difirmankan oleh Allah
SWT. Aku pun
dinaikkan di atas unta yang memanggul
haudah[1].
Setelah
peperangan rampung dan begitu mudah kemenangan diraih oleh kaum muslimin,
Rasulullah memutuskan untuk kembali ke Madinah. Kami pun berombongan kembali menuju
tanah air kami yang penuh dengan cahaya kenabian. Tatkala semerbak aroma
Madinah tercium, Rasulullah memerintahkan rombongan untuk berhenti
di suatu tempat sejenak, agar kami bisa melepas lelah malam itu. Ya, inilah
salah satu dari kebijaksanaan Rasulullah kepada para sahabat dan umatnya.
Beliau sangat memahami betul kondisi dan keadaan kami yang memang amat sangat
letih kala itu. Rasulullah tidak memaksakan kehendaknya untuk memasuki kota
Madinah malam itu juga, beliau memilih berhenti dan mengistirahatkan semua
pasukan Islam yang telah memperoleh kemenangan.
Saat
semua sahabat beristirahat dan sebagian yang lain terlelap, aku putuskan keluar
dari tenda kecilku menunaikan sedikit keperluanku hingga tak kukira langkahku semakin
menjauh dari rombongan. Gegap gempitanya malam membuatku tak sadar, posisiku
sangatlah berjarak dengan unta yang kunaiki. Selepas merampungkan keperluanku
dan hendak kembali ke rombongan, tiba-tiba aku terkesiap bukan main. Kuraba
leherku, kalung pemberian Rasulullah dari kota Zifar - Yaman raib. Kuputuskan
mencarinya. Dalam malam yang begitu hitam, amat susah menemukan sebuah kalung.
Tapi itu kalung pemberian Rasulullah. Tak boleh kubiarkan begitu saja. Aku
harus mencarinya dan menemukannya.
Mondar-mandir,
kulalui berkali-kali jalan yang kutapaki tadi, tak jua kutemukan kalung itu. Ya
Allah, istri macam apa aku ini yang menyia-nyiakan perhiasan pemberian suami.
Apalagi itu kalung yang istimewa dan impor dari Yaman. Kuulangi lagi
pencarianku hingga aku pun putus asa dan kembali ke rombongan dengan rasa
cemas, malu, takut, sungkan bila bertemu dengan suamiku, Rasulullah.
Astaghfirullah,
Rasulullah dan rombongan tak terlihat lagi. Mereka meninggalkanku. Bagaimana
ini? Apa yang akan kulakukan? Menyusul mereka sendirian berlari? Tak mungkin.
Aku buta arah jalan ke Madinah. Teriak? Siapa yang akan mendengar. Air mataku
meleleh membanjiri pipiku. Ingin menyesali kejadian ini, tapi untuk apa?
Bukankah ini sudah takdir Allah?
Dalam
kegalauanku, secercah cahaya berkilau di tanah pijakan untaku saat istirahat
tadi, kulihat sebuah logam berbentuk kalung. Kudekati. Dan Alhamdulillah
kalungku ketemu. Rasa cemasku lantaran ditinggal Rasulullah bertabrakan dan
melebur menjadi satu dengan kegembiraan ditemukannya kalung pemberian
Rasulullah. Oh ya, orang-orang yang menuntun untaku mungkin mengira aku sudah
berada dalam haudah itu. Aku wanita muda bertubuh ringan, lantaran
itulah, mereka begitu saja menuntun unta yang aku tunggangi mendahului
rombongan terdepan. Mereka tak sadar bahwa unta yang mereka giring hanya sebuah
haudah kosong tak berhuni. Aku juga salah, mengapa aku tidak memberitahu
mereka kalau aku keluar sedikit lama untuk sebuah keperluan pribadiku? Memang,
para wanita kala itu umumnya berbadan lunak dan tak berlemak. Jadi ada atau
tidak ada orang di dalam haudah sepertinya sama saja.
Dengan
penuh harap, semoga mereka sadar dan merasa kehilangan aku, kuputuskan duduk di
tempatku semula sewaktu beristirahat bersama rombongan. Entah mengapa, mendadak
rasa kantuk begitu akrab dan cepat menyapaku.
Aku pun pulas tertidur. Dalam kenyenyakanku, Shafwan bin Al-Muathal
As-Sulamy menyeruak, ia memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Bila
ada barang rombongan yang tertinggal, dialah yang menyelamatkan barang itu
hingga sampai ke Madinah.
Shafwan
menghampiriku. Ia memang mengenaliku dan pernah melihatku sebelum ayat hijab
turun. Saat ia tahu akulah yang bersimpuh dalam sengatan kantuk itu, ia pun
berucap inna lillah wa inna ilaih rajiun, aku terkejut dengan ‘kalimat
musibah’ yang ia lengkingkan. Seketika kututup wajahku dengan hijab. Demi
Allah, tak ada satu huruf
pun yang keluar dari mulutnya kecuali kalimat istirja’ itu. Mulutku juga tak mengeluarkan kalimat apapun
barang sekata. Ia rundukkan hewan tunggagannya hingga aku bisa menaiki hewan
tunggangan itu.
Kami teruskan perjalanan menyusul rombongan,
Shafwan berjalan menuntun tunggangannya hingga sampailah kami di sungai
Az-Zahirah, tempat singgah rombongan di tengah panasnya siang. Dan celakalah,
sebagian orang menebarkan fitnah kebohongan dengan menuduhku ini dan itu. Masih
terekam dalam ingatanku yang paling getol menyebarkan berita palsu itu adalah Abdullah bin Ubay bin Salul. Selain Abdullah
bin Ubay bin Salul, Hassan bin Tsabit juga terlalu gegabah menelan dan
menyiarkan berita nista itu. Misthah bin Utsasah, Hamnah binti Jahs dan orang-orang
lain yang tak kutahu namanya satu persatu yang jumlahnya sekitar 10 sampai 40, ikut
pula menjadi biang gosip.
* * *
Sesampai di Madinah, aku sakit dan merasa tak enak badan selama satu bulan. Sungguh, aku tak
tahu-menahu fitnah kebohongan dan berita palsu itu telah memenuhi telinga
masyarakat Madinah selama sebulan. Kecurigaanku pun muncul tatkala kelembutan
Rasulullah mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat aku melawan demam dan
sakitku. Biasanya Rasulullah begitu memanjakanku kala aku sakit. Namun beliau sedikit berubah. Beliau
hanya menyapaku dengan bertanya tentang keadaanku, kemudian berlalu
begitu saja.
Suatu malam, aku keluar ditemani Ibunda Misthah bin Utsasah untuk membuang hajat. Sewaktu hendak kembali ke
rumah, Ibu Misthah tersandung sembari mencela anaknya
sendiri, Misthah.
“Sungguh buruk kata-katamu. Apakah kau mencela
seseorang yang pernah berjuang di peperangan Badar?” kataku padanya.
“Nak, tidakkah kau mendengar apa yang ia katakan?”
ia malah bertanya kepadaku.
“Apa yang telah ia katakan?”
Ibu Misthah menceritakan tuduhan keji tentangku yang
didengungkan oleh sebagian orang. Sakitku makin menjadi-jadi. Dan sesampainya
di rumah, aku meminta izin Rasulullah agar menetap sementara di rumah orang
tuaku, guna memastikan ke kedua orang tuaku tentang tuduhan keji itu.
Rasulullah mempersilahkan.
Lalu aku bertanya kepada ibuku, “Ibu, apa yang menjadi
gunjingan orang-orang?”
Ibuku menenangkanku agar tidak risau dan
gelisah. Mendadak mataku mendung, menderaskan air mata
dan membasahi pipiku sepanjang malam hingga pagi menjelang.
Rasulullah yang cukup
gusar akan suara-suara negatif tentang istri dan rumah tangganya, meminta pendapat kepada
Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid
berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda. Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin
menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya
wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat
dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan
Anda,” begitulah jawaban Ali.
Rasulullah bertanya kepada Barirah tentangku,
apakah ada sesuatu yang meragukan dari diriku? Barirah memantapkan hati
Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diriku. Aku hanyalah seorang wanita yang
masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu.
Demikian Barirah menceritakan tentang diriku di hadapan Rasulullah.
* * *
Sepanjang hari itu air mataku berlinang dan
tidurku sangat jauh dari rasa tenang. Hingga kedua orang tuaku berada di
sisiku, aku tetap saja menangis. Dua malam satu hari, air mataku bercucuran dan
tidurku tak karuan. Salah seorang perempuan Anshar meminta izin untuk
menemaniku. Ia pun turut meratapi kesedihanku.
Rasulullah datang ke rumah orang tuaku. Beliau belum
pernah duduk di sampingku selama tuduhan keji itu tersiar.
Rasulullah bersabda, “Wahai Aisyah, aku telah
mendengar berita tentang dirimu. Jika kau tidak bersalah, Allah akan mensucikanmu
(dengan membelamu). Dan jika kau
melakukan dosa, memohon ampunlah dan bertaubatlah kepada Allah. Karena seorang
hamba bila mengakui kesalahannya dan mau bertaubat, Allah akan menerima
taubatnya.”
Setelah Rasulullah selesai menyampaikan kalimat itu, kuhapus
air mataku hingga tak tampak setetes pun. Aku meminta ayah dan ibuku agar
membelaku di hadapan Rasulullah. Tapi keduanya tak kuasa berkata-kata.
Dengan sesenggukan aku berkata kepada mereka,
“Aku hanyalah wanita yang masih belia, dan memang aku belum banyak membaca
Al-Quran. Demi Allah, sungguh aku telah mengetahui apa yang kalian dengar dari
perbincangan orang-orang hingga kalian masukkan berita itu ke dalam hati kalian
dan kalian percayai. Seandainya saja aku mengatakan bahwa aku bersih dari tuduhan
keji itu, kalian tak akan mengaminiku. Dan jika aku mengakui tuduhan keji itu
–meskipun Allah tahu bahwa aku terbebas dari tuduhan itu-, niscaya kalian akan
mempercayaiku. Demi Allah aku tak menemukan perumpamaan antara aku dan kalian
selain seperti Nabi Ya’kub, saat berkata: Bersabarlah dengan kesabaran
yang baik. Hanya Allah tempat meminta pertolongan atas apa yang kamu
ceritakan.”
Usai kuutarakan kegundahanku, tempat
tidurkulah menjadi penenangku. Sungguh Allah mengetahui aku benar-benar bersih
dari berita miring itu dan Allah yang akan membebaskanku. Jujur aku tak mengira
Allah menurunkan wahyu membebaskanku dari tuduhan itu. Rasanya tak pantas bila
wahyu turun lalu dibaca semua orang hanya menyoal tentang masalah pribadiku.
Aku ini siapa hingga Allah membicarakan masalahku. Aku hanya mengharap
Rasulullah mendapatkan wahyu melewati mimpi tentang pembebasanku dari fitnah
itu.
Dan demi Allah, Rasulullah enggan beranjak
dari tempat itu dan tak satu pun dari keluarga kami –ayah ibuku yang merupakan
mertua Rasulullah- berminat melangkahkan kaki, hingga wahyu turun kepada
Rasulullah. Seketika keringat beliau bercucuran bak butiran mutiara, padahal
kala itu musim dingin amat menusuk tulang kami. Wajah beliau berseri dan tersenyum.
“Wahai Aisyah,
sungguh Allah telah membersihkan dan membebaskanmu dari tuduhan itu.”
Itulah kalimat pertama yang kudengar dari suamiku.
Spontan, ibuku menyuruhku bangkit dan menemui Rasulullah.
“Demi Allah, aku tak akan bangkit kepada beliau, dan tak
akan memuji kepada siapapun selain Allah.” jawabku.
Ya, akulah istri Rasulullah yang tertuduh. Dan Allah membebaskanku dari
tuduhan itu dengan firman-Nya yang membuat air mataku teduh. Aku
Aisyah, istri Rasulullah yang terfitnah.
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang
“Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita
bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita
bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang
dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara
mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu
baginya azab yang besar.” (11) “Mengapa di waktu kamu mendengar
berita bohong itu orang-orang mu'minin dan mu'minat tidak bersangka baik terhadap
diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita
bohong yang nyata." (12) “Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak
mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Oleh karena mereka tidak
mendatangkan saksi-saksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang yang
dusta.” (13) “Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua
di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena
pembicaraan kamu tentang berita bohong itu. (14) “(Ingatlah) di waktu kamu
menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu
apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang
ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.” (15) “Dan mengapa kamu
tidak berkata, di waktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah
pantas bagi kita memperkatakan ini. Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini
adalah dusta yang besar." (16) Allah memperingatkan kamu agar (jangan)
kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang
beriman.” (17) “Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kamu. Dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (18) “Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar
(berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang
beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah
mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (19) “Dan sekiranya tidaklah karena
kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan
Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).” (20) [QS: An-Nur]
Kemudian saya dengan ustad ainul yakin berbicara
dan sedikit curhat tentang saya. Dan lama kelamaan dia menyuruh saya membuka
artikelnya dengan judul kesetiaan. Dan saya pulang dan mencarinya. Selang
beberapa menit saya menemukannya. Ini dia ceritanya.
Pagi ini –mumpung hari libur-
saya menonton film yang berjudul From Bandung With Love. Saya tidak akan
menceritakan alur cerita film itu. Tapi paling tidak, saya bisa mengambil
pelajaran yang cukup menarik dari film itu yaitu arti kesetiaan.
Setelah menonton film itu, saya
sempat berbincang dengan beberapa teman saya. Tentu bahasan kami tak keluar
dari film itu. Namun, sebelum tulisan saya ini lebih jauh, agaknya kurang sopan
bila saya -yang masih belum berkomitmen dengan seseorang manapun- tidak kulo nuon berkicau tentang kesetiaan di
depan anda yang sudah berpasangan dan hidup berumah tangga.
Saya hanya ingin berbagi obrolan
saya bersama teman-teman saya. Meski tak satu pun di antara kami yang sudah
berkomitmen dengan seorang wanita, tapi paling tidak hampir semua dari kami
pernah mengalami dan merasakan makna kesetiaan.
Kesetiaan memang awalnya tumbuh
dari rasa. Dan sebuah rasa, pastinya anda tak bisa membatasi pemiliknya. Kita
tak bisa melarang anak SMP menyukai teman sekelasnya. Kita juga tak bisa
mengharamkan kawan kita untuk tidak mencintai sahabatnya sendiri. Kita pun tak
bisa mengekang perasaan kita kepada orang yang kita cintai. Karena sebuah rasa,
timbul dari hati. Dan hati tak bisa dipungkiri.
Namun ada solusi terbaik yang
menggarisi dan mengawal rasa yang dicipta oleh hati, yaitu agama dan norma.
Bila kita menimbang rasa kita, mengukur hati kita dengan patokan agama dan
norma, tentu rasa yang ditimbulkan oleh hati kita tak akan jadi masalah. Yang
menjadi bencana, apabila kita mengabaikan agama dan norma dan lebih menuhankan
rasa. Bila itu terjadi, apapun yang digairahi oleh hati dan keinginan kita,
harus kita peroleh dengan berbagai cara.
Sederhananya seperti ini.
Beberapa hari lalu, ada seseorang yang minta doa kepada saya agar rumah
tangganya langgeng dan harmonis. Saya sempat tergelak mendengarnya lantaran dia
salah alamat dan alamat yang dia dapat palsu. Tapi apa salahnya? Apa dia salah
bila meminta doa? Dan apa salah saya jika sekedar mendoakannya? Intinya, dia
mulai resah dan takut melewati perjalanan rumah tangganya. Dia bercerita bahwa
tetangganya –seorang perempuan- yang sudah beranak-pinak selingkuh dengan
tetangganya sendiri yang masih berumur dua puluh sekian. Singkatnya saya
sampaikan kepada dia, selain Tuhan memberikan rasa pada setiap hati manusia,
Tuhan yang Maha Sempurna tak lupa pula memberikan batasan-batasannya; agama
dan norma.
Contoh satu
lagi yang sering kita dapati, seseorang yang ditinggal menikah oleh mantannya
dan ia masih punya rasa kepada mantannya. Apalagi kalau mantannya juga masih
menyukainya. Perasaan dua insan ini bila tak ditengahi oleh agama dan norma,
akan menggerus tatanan kehidupan orang lain.
Agama dan norma memang dua undang-undang yang mengikat dan
mengatur rasa,
cinta, dan kesetiaan setiap manusia. Kembali kepada kesetiaan, seorang teman
saya mengatakan janji kesetiaan itu muncul setelah akad nikah. Sebelum akad
nikah, sebaiknya kita tak terlalu muluk-muluk dengan kesetiaan sebab bila seorang
wanita yang kita cinta tidak berjodoh dengan kita, kita tidak sampai menggigit
lengan kita hingga tak bersisa, cukup gigit jari saja.
Rupanya, pandangan teman saya
tadi bersumber pada pengalaman pribadinya. Hingga dia mengartikan kesetiaan
hanya tercipta dari sebuah pelaminan. Mungkin dia lebih menafsirkan kesetiaan
dalam arti sebenarnya yang ramping. Terbatas. Dan bukan luas.
Saya mencoba berbeda dengannya.
Saya lebih condong memaknai kesetiaan dalam arti yang umum. Setia bagi saya
adalah kamus terbesar dalam kehidupan berpasangan. Berpasangan dalam makna yang
luas tidak hanya kehidupan suami-istri atau berpacaran atau
bertunangan. Seorang karyawan harus setia dengan atasannya. Seorang murid
harus setia dengan gurunya. Seorang anak harus setia dengan orang tuanya.
Seorang pedagang harus setia pada pembelinya. Begitu juga sebaliknya. Kecuali
bila ada sesuatu yang –dengan pasti- memutus tali kesetiaan itu.
Ya, saya lebih senang mengartikan
kesetiaan seperti itu. Dan sebuah kesetiaan memang harus dibangun dalam sebuah
komitmen, berumah tangga misalnya. Itu yang resmi. Atau komitmen yang tak
terlalu resmi seperti berkehidupan sosial antar
sesama.
Karena kehidupan tanpa kesetiaan, semuanya akan sia-sia.
Kesetiaan
merupakan tema besar yang tak cukup diuraikan dengan lembaran tulisan dan
ribuan kata lisan. Setia? Setialah kepada siapa saja yang anda pikir layak
untuk mendapatkan kesetiaan anda. Setialah selama agama dan norma mengamini
kesetiaan anda. Setialah, selama setia itu masih pantas untuk ditebar.
Setialah lantaran setia cukup mahal harganya.
Malam ini saya membaca artikelnya prof ali dengan judul Juz
tomat memajukan bangsa. Mau tau isinya tentang apa?? Ini dia isinya. Jus tomat bisa menyehatkan badan, itu sudah jelas. Seiring dengan
kesadaran masyarakat tentang minuman kesehatan, saat ini semakin banyak penjual
minuman sari buah itu di tepi-tepi jalan raya, dan saya senang melihat pembeli
antri membelinya. Tapi bisakah Jus Tomat menjadi “jimat” untuk memajukan
bangsa?
Semua tokoh masyarakat dari semua lapisan mengakui bahwa kemajuan
ekonomi telah dirasakan. Bahkan jumlah orang kaya jauh meningkat dibanding
tahun-tahun sebelumnya. Tapi pada saat yang sama, kita menyaksikan sesuatu yang
kontras. Orang miskin yang terdaftar (saja) penerima BLSM (Bantuan Langsung
Sementara Masyarakat) atau kadang disingkat BALSEM berjumlah 15,5 juta
orang. Bersamaan dengan itu, kita menyaksikan dengan mata telanjang
kenyataan rapuhnya karakter semua elemen bangsa. Lembaga pendidikan umum dan
Islam, yang seharusnya menjadi pusat penguatan karakter, juga terjangkit virus
perusak karakter yang sama. Setiap Ujian Nasional akhir tahun, kita
selalu dikejutkan berita adanya kebohongan yang dilakukan guru atau tenaga
kependidikan demi mercusuar sekolah atau daerah.
Dalam dunia politik, wajah para pemimpin kita digambarkan oleh
pengamen di atas bus kota. Dua pemusik jalanan, masing-masing dengan
gitar dan harmonica menyanyikan lagu sindiran secara kompak. “Aku sudah tidak
perlu rumah mewah, karena telah dibeli para wakilku. Tidak perlu memiliki
rekening di bank, karena telah diambil oleh wakilku. Tidak perlu
kendaraan bermilyar, karena telah dinaiki wakilku. Jika aku mati, aku akan
bebas, karena semua dosa telah diambil-alih para wakilku.”
Tidak sedikit pimpinan kita yang terseret ke meja hijau menjadi
pemain sandiwara yang handal, padahal tidak pernah sekolah teater sebelumnya.
Uh, untuk mendapat simpati dari para penegak hukum, mereka bisa bersandiwara
sakit dengan infuse di tangan, atau perban di kepala dengan ekspresi yang luar
biasa penghayatannya. Atau berlagak pikun dengan suara yang mantap di depan
para hakim, padahal ia sebelumnya cerdas, kuat ingatan dan tidak pernah keliru
menghitung kekayaannya. Ada juga public figure yang tiba-tiba saja tampil
beda: berjilbab rapat di kepala, atau baju koko-takwa ketika menjalani
pemeriksaan. Semoga itu dandanan simbol kesungguhan bertobat.
Inilah waktu
yang tepat kita suguhkan “Jus Tomat” untuk kesehatan karakter bangsa kita ke
depan. Jus Tomat yang saya maksud adalah singkatan dari delapan karakter mulia,
yaitu Jujur, Ulet, Sabar, Tawakal, Optimis, Menghargai, Amanah dan
Tanggungjawab. Karakter itulah yang menjadi cita-cita Nabi SAW, bahkan selalu
memenuhi pikirannya sepanjang tugas membimbing umatnya. Allah SWT memuji kesunggguhan
perjuangan Nabi itu. “Sungguh
telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At Taubah [9]:128). Itulah orang
yang harus Anda idolakan. “Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah” .(QS. Al-Ahzab
[33]:21)
Tidak ada satupun orang yang
meragukan kejujuran Nabi. Musuh yang paling jahatpun tidak bisa menemukan
satupun bukti kebohongan Nabi. Mereka harus mengakui kebenaran gelar Al Amin (Manusia Terpercaya) yang diberikan
oleh masyarakat kepadanya. Selain Nabi, sekalipun terkenal sedunia sebagai
orang jujur, pasti pernah satu atau beberapa kali dusta. Minimal dirinya
sendiri yang mengetahui. Negeri ini amat kaya orang cerdas intelektual tapi
tidak cerdas emosional dan spiritual.
Dengan kecerdasan itulah, seorang oknum pegawai negeri sipil
bisa memiliki rekening ratusan milyar. Sekian lama, ia aman saja
melakukan korupsi dengan bersiul-siul karena aman dari diteksi penegak hukum.
Ia jugalenggang kangkung menghabiskan
uangnya di luar negeri. Atau juga menitipkan kepingan emas di manca negara itu.
Beberapa hari terakhir, kita prihatin melihat beberapa orang yang selama ini
kita kagumi bacaan Al-Qur’an dan bahasa Arabnya harus duduk di kursi pesakitan
di Pengadilan Tinggi Korupsi.
Orang kecil juga tidak kalah
cerdasnya. Dengan teknologi temuannya, bisa membuat makanan goreng terasakremes lezat. Cukup dengan memasukkan tas
kresek di minyak goreng yang telah mendidih. Mereka juga bisa membuat ayam tirin (mati kemarin) yang sudah busuk
menjadi ayam goreng empuk dan sedap atau menjadi nugget. Atau menaburkan
formalin (obat pengawet mayat) di tahu atau ikan sehingga tidak bisa busuk.
Atau membuat gula merah menjadi keras dan tahan lama dengan mencampurkan sabun
deterjen.
Di dunia kampus juga demikian. Adalah peristiwa yang amat
memprihatinkan, seorang wisudawan dianugerahi piagam penghargaan sebagai alumni
terbaik. Tapi beberapa tahun kemudian, terbukti tugas akhirnya merupakan
jiplakan sembilanpuluh lima persen dari karya orang lain. Inilah contoh-contoh
kecerdasan intelektual yang justeru membahayakan masa depan bangsa karena
tidak disertai kecerdasan emosional spiritual atau karakter terpuji.
Jika tujuh puluh persen saja kepala pemerintahan di semua level,
dan para wakil rakyat bertindak jujur, negeri ini akan melompat menjadi Negara
terhebat di Asia, bahkan di dunia dalam waktu yang tidak lama.Di samping
kejujuran, kita harus menjadi bangsa yang ulet dan sabar, tahan bantingan dan
tidak mudah menyerah pada tantangan. Sebuah cita-cita harus dilalui penuh keringat
bahkan berdarah-darah dan perlu waktu. Perlu keuletan dan kesabaran, sebab
tidak yang instant dalam meraih cita-cita. Setiap kesulitan lebih tepat
dipandang sebagai tantangan daripada sebagai rintangan.
Ketika Nabi menjadi karyawan pada wanita kaya, Khadijah, ia diberi
bayaran dua kali lipat daripada yang diterima karyawan lain. Apa yang dijual
sama dengan yang dijual pegawai lain. Tapi di tangan Muhammad (waktu itu belum
diangkat sebagai nabi), omset penjualan jauh melampaui target, karena keuletan
nabi dalam menjalankan tugas dan kejujurannya terhadap pembeli dan kepada
majikan. Nabi mengajarkan keuletan umatnya dengan menanamkan keyakinan bahwa
setiap tantangan pasti ada jalan keluarnya, setiap kesulitan pasti ada
kemudahan di kemudian hari (inna ma’al ‘usri yusra). Putus asa dalam
segala hal bertentangan dengan prinsip keimanan. Hanya orang kafirlah yang
berputus asa dari kasih dan pertolongan Allah.
Jika usaha telah dilakukan secara
maksimal, hanya ada satu kata yang diperlukan: tawakal, yaitu menyerahkan
sepenuhnya apapun hasil ikhtiar tersebut kepada Allah. Ulet bekerja itu baik,
tapi jika tidak dibentengi dengan tawakal, kemungkinan stres sangat tinggi dan
berbahaya. Sebab kemungkinan gagal, selalu ada dalam setiap usaha. Tidak ada
usaha yang sukses selamanya. Jumlah orang stres selalu bertambah setiap tahun,
karena ketiadaan sikap tawakal atau tawakal hanya dengan setengah hati.
Tawakal harus berbasis iman, yaitu didahului usaha yang maksimal. Nabi
hanya mau berangkat berperang, jika persiapan dan perhitungan yang matang
berdasar analisis politik, logistik telah dilakukan. Jika sudah, maka
Nabi memimpin pasukan dengan komando hasbunallahu
wani’mal wakil (Cukuplah Allah sebagai penolong dan
pelindung kami).
Di samping tawakal, pemimpin baru bisa berhasil jika percaya diri
dan optimistis. Ia harus yakin dan yakin bahwa Allah pasti dan pasti Maha Kuasa
memberi pertolongan kepadanya. Hanya orang yang percaya diri dan optimis yang
bisa meraih kesuksesan. Berlatihlah sampai menjadi kebiasaan untuk rukuk dan
sujud yang lama (minimal 30 detik) setiap shalat. Katakan dalam hati, “Aku
yakin, yakin, yakin akan pertolongan Allah. Pasti, pasti dan pasti Allah Maha
Pengasih untuk memberi kemudahan menuju kesuksesan saya.” Anda akan terkejut,
ternyata apa yang Anda takuti ternyata sama sekali tidak terjadi. Anda akan
keheranan terhadap diri Anda sendiri: ternyata Anda bisa melakukannya. Sukses
dan sukses sudah di depan mata.
Anda pasti mendapat simpati dan teman kerjasama yang
menguntungkan, jika Anda pandai menghargai orang lain. Nabi tidak mungkin
mendapat dukungan luas jika tidak pandai menghargai karya dan perasaan
orang. Tidak jarang Nabi mendengarkan dengan antusias pendapat peserta
rapat. Hasil keputusan juga diikuti nabi, walaupun di kemudian hari, terbukti
keputusan itu merugikan. Nabi mengajarkan menghargai perasaan orang
dengan larangan berbicara berdua ketika berada dalam kelompok. Orang lain bisa
tersinggung, apalagi berbisik atau menggunakan bahasa yang tidak umum dalam
lingkungan itu.
Bagi Nabi, tugas sebagai rasul adalah amanah. Demikian juga
sebagai kepala Negara. Ia memikul dua amanah: sebagai rasul dan sebagai kepala
Negara. Betapa berat tugas itu. Tugas itu dikerjakan dengan fokus dan
sungguh-sungguh. Siang dan malam hanya berfikir tentang tugasnya. Sama sekali
tidak menyalahgunakan kekuasaan dengan seenaknya. Betapa sakit hati
rakyat kecil yang membayar pajak di kantor kelurahan, ketika melihat seorang
PNS pajak tidak amanah, dengan menyalahgunakan kekuasaanya untuk mencuri puluhan
milyar rupiah. Atau mendengar setiap hari ada transfer haram mliyaran rupiah
hasil korupsi. Betapa keras jeritan orang-orang yang sampai mempunyai anak
empat belum punya rumah melihat orang punya rumah di semua propinsi hasil
korupsi.
Sifat Nabi berikutnya yang patut
kita tauladani adalah jiwa ksatria yaitu bertanggungjawab penuh sebagai
pemimpin. Tidak mencari-cari alasan atau kambing hitam jika terjadi suatu
kegagalan. Pada suatu persiapan perang, beberapa tentara muslim termakan psy-war musuh sehingga enggan berangkat
perang. Karena tanggungjawab perang di atas pundak nabi, maka di hadapan
tentara yang lemah semangat, Nabi berkata, “jika kalian tidak berangkat,
saya sendirilah yang berangkat berperang”. Rasa tanggungjawab itulah yang
membuat ia menangis ketika ia mendengar firman Allah yang sedang dibaca
Abdullah bin Mas’ud. Ayat itu berbicara tentang keharusan Nabi untuk
bertanggungjawab atas semua umatnya di akhirat kelak.
Seumur hidup Nabi, ia selalu berfikir tentang orang lain daripada
dirinya sendiri. Ia diharamkan menerima zakat dari umatnya. Jika menggunakan
pakaian yang amat disukai, lalu ada seorang sahabat yang memintanya, baju itu
segera diberikan. Ia memang menyukai baju itu, tapi membuat orang lain suka dan
senang itulah yang lebih diutamakan. Beberapa menit sebelum ajal menjemput,
Nabi masih bertanya kepada Malaikat Jibril, “Bagaimana umatku kelak?”. Negara
ini rusak karena beberapa pemimpin kita lebih memikirkan diri, keluarga,
kelompok dan partainya daripada orang lain yaitu kepentingan rakyat banyak.
Minumlah JUS TOMAT untuk bahagiaan rumah tangga Anda. Juga
suguhkan kepada semua pemimpin untuk kejayaan bangsa ke depan! Selamat
menikmatinya.
Malam ini saya menonton film yang sangat bagus dan mengagumkan,
sampai-sampai saya meneteskan air mata gara-gara film itu, ceritanya begini.
Ada dua sepasang kekasih yang berhubungan dengan baik dan setia. Setiap kuliah
dia selalu bersama-sama, pulang bareng, makan bareng bahkan dia sudah kaya
suami istri soalnya ketika dia mau berpisah pasti dia ciuman dulu, entah dimana
dia pasti ciuman.
Hari demi hari mereka lalui dan akhirnya cewek itu bekerja di satu
perusahaan selama 6 hari dan juga dia bekerja di suatu radio yang ternama. Di
perusahaannya itu dia ketemu seorang cowok ganteng dan tajir. Namanya rian.
Selama 6 hari si cewek ini bekerja di perusahaan itu rian ini melakukan PDKT
dengan si cewek ini. Setiap hari dia jalan, makan bareng kalau dia selesai
pekerjaannya dikantor. Si cowoknya ini namanya dion. Dion ini pacaran sama
cewek itu yang namanya febi. Selama kuliah dia selalu bersama.
Suatu hari febi ini sedang melakukan penyiaran radio dan melayani
seorang perempuan melalui telepon. Si perempuan itu curhat tentang kesetiaan.
Dan ketika selesai penyiaran radionnya febi dijemput oleh pacarnya Dion. Dan
akhirnya mereka berdua pulang sama-sama.
[1]
Semacam tenda
kecil sebagai penutup yang biasanya diletakkan di punggung unta dan digunakan
untuk tempat perempuan-perempuan yang istimewa saat bepergian.
good job ... smgaa aq tetap berkaryaa
BalasHapustambahkan tentang keilmuan bro, jangan lupa yang islami.....
BalasHapussippp broo ,, mkasihh yahhh ..
BalasHapussay no to kaslan ....
BalasHapusperlu diperhatikan kembali penulisan EYD nya..
semangat dalam beraktivitas..
OK ,, MKASIHH broo atas kritikannya ..
BalasHapussmgaa kita tetap brkaryaa ..
beberapa majas bisa digunakan agar lebih cantik untuk dibaca., tetap semangat yaa :)
BalasHapusiyaaa mba fiska ,,thanks
BalasHapusKonco ku... Good job brother..... but mesti di perhatikan EYD ne.....
BalasHapusKonco ku... Good job brother..... but mesti di perhatikan EYD ne.....
BalasHapusTulisannya sdh bagus hanya masi ada kata" yg diulang dan kalimat yang kurang atau bertambah hurupnya....tetap semangat jangan galau terusss...
BalasHapus@Http://abdullah002.blogspot.com/2015/05/alhamdulillah-tiada-ada-kalimat-lain.html#more
good boy tapi yah tinggal banyak memperhatikan eyd ok komen punya ku
BalasHapuskanja nah roki mu kurni... tingkatkan pi lagi!!! ewako!
BalasHapusKurni,,,
BalasHapusTulisannya udah bgus, uma masih ad pngulangan kata n ad huruf ny yg kurang,,
Keep spirit n keep whriting,,,,
Kurni,,,
BalasHapusTulisannya udah bgus, uma masih ad pngulangan kata n ad huruf ny yg kurang,,
Keep spirit n keep whriting,,,,
Pengejaan katanya masih perlu diperbaiki lg antoo...
BalasHapusTetap smangat.. malas harus dilawan.
Hidup masih koma
Tanda bacanya minta perhatian tuh brother. Masa hpnya aja yg diperhatiin? Wkwk. I say this not because i am perfecet. Kita sama di sini. Sama2 pemula. Over all is good.
BalasHapusKeep writing
Semangat kakak! !!
Nama Pak Prof dilihat lagi ya...
BalasHapusOk broo .. thanks smuanyaa atas komennya .. syaa akan perbaiki lg ..
BalasHapusAyoo yg lain
Bismillah
BalasHapusPerhatikan lgi kurni pemilihan katanya dan ketepatan waktu penggunaaan.. Jga smgt menulis.a...
good.. terus berlatih kurni, karena menulis itu pembiasaan bukan skill..
BalasHapusbiar pembaca tidak bosan, diksi harus lebih diperhatikan, Juga joke-joke segar..
kamu kan humoris :D
keep spirit!
kurni, ternyata kalau dipaksa juga bisa kan...
BalasHapusjangan berhenti disini... keep walking.
BalasHapusNice!!!
BalasHapusMantap bah
BalasHapusiyaa riff,, klw gk dipaksa , gk jadi2 ..
BalasHapusKerren yaa
BalasHapussippp bill
BalasHapusAnda berbakat jadi penulis
BalasHapusMenulis itu asyik lohh. Tetap semangka
BalasHapusiyaa sangat asyikk bill ,,apalagi klw dalam keadaan galau bruu nuliss ,, tdak diduga udah beberapa halaman ,,
BalasHapusblumm berbakat aq bill , msih pemulaa
BalasHapusbagus to mantap
BalasHapusjenis tulisannya samain to.... biar rapih....
BalasHapuswarna tulisannya juga samain to..... biar keliatan mantep.....
BalasHapusterus berlatih to..... loe pasti bisa.....
BalasHapusdi tunggu karya yg lain nya ...... okeh...?????
BalasHapustetap semangat ni
BalasHapusjangan lupa EYDnya
BalasHapuslawan kemalasanmu.
BalasHapusyang terakhir jangan lupa koment balik blogku.
BalasHapusiyaa maksihh yahh,,
BalasHapusiyaa vaa ,, aq pasti smngaat ko
BalasHapusalhmdllah ,, kemalasannku udahh tak lawann,, ko
BalasHapusAnto...lawan rasa malasmu yaahhh...
BalasHapusOia..jangan lupa komen balik blogkuhttp://ahmadmunir12.blogspot.com/2015/05/potensiku-belum-keluar-kawan.html
BalasHapusbaik, lanjutkan yah !!!
BalasHapusantoooo di perhatikan lagi mi huruf huruf yang masih kurang.
BalasHapusgood job for you....
keren mentong anak sulsel... keren sekali tulisan mu kur.. lanjutkan terus, jangan sampai disini saja, terus berkarya cong !!
BalasHapussipppp mantap cong!!! jangan berhenti
BalasHapusbagus banget,, , seakan membaca karya asma nadia. .
BalasHapusteruskan nto
BalasHapusSIAAAPP ...!!!!!
BalasHapusMkasihhh tmn2
Smgaa yahh aa .. tulisannku sma dngan asma nadia ...
BalasHapus