Selasa, 12 Mei 2015

psikologi islam dalam fitrah dan citra manusia



FITRAH DAN CITRA MANUSIA DALAM PSIKOLOGI ISLAM
A.      Citra Manusia Dalam Psikologi Barat Kontemporer
Pemahaman tentang citra manusia sangat beragam. Hal itu tergantung pada latar belakang dimana citra itu merumuskan, misalnya latar belakang agama, ideologis bangsa, cara pandang, pendekatan study, dan sebagainya. Dalam rentang sejarah perkembangan psikologi Barat kontemporer, selain memiliki keunggulan konsep-konsep dan teori-teorinya, terdapat juga sejumlah kritik dan catatan.

Aliran psiko-analisis adalah aliran psikologi yang menekangkan analisis struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap. Aliran ini dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) yang kemudian disempurnakan oleh putra mahkotanya Carl Gustav dan Erik H. Erikson. Ciri utama aliran ini adalah :
1.      Menentukan aktifitas manusia berdasarkan struktur jiwa yang terdiri atas id, ego dan super ego.
2.      Pergerak utama struktur manusia adalah libido, sedang libido yang terkuat adalah libido seksual.
3.      Tingkat kesadaran manusia terbagi atas tiga alam, yaitu alam pra-sadar, alam tak-sadar, dan alam sadar
Dalam urain diatas, Frued membagi aspek struktur kepribadian ke dalam tiga kategori, 1. Aspek biologis (struktur id), 2. Psikologis (struktur ego) dan 3. Sosiologis (struktur super ego). Dengan pembagian tiga aspek ini maka tingkatan tertinggi kepribadian manusia adalah moralitas dan sosialitas, dan tidak menyentuh pada aspek keagamaan. Lebih lanjut frued menyatakan bahwa tingkatan moralitas digambarkan sebagai tingkah laku yang irasional sebab tingkah laku ini hanya mengutamakan nilai-nilai luas, bukan nilai-nilai yang berada dalam kesadaran manusia sendiri.
Psiko-Behavioristik adalah aliran psikologi yang menekankan teorinya pada perubahan tingkah laku manusia. Aliran ini dipelopori oleh John Dollard, Skiner dan Neal E. Miller. Psiko-Behavioristik menolak struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap. Mereka berkeyakinan bahwa tingkah laku seseorang mudah berubah yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Manusia dilahirkan bukan ditentukan menurut hokum beterministik, yang di program seperti mesin atau robot, tetapi dilahrkan dalam kondisi kosong atau netral. Tugas psikolog adalah menciptakan atau mengkondisikan lingkungan yang kondusif untuk membentuk tingkah laku yang baik. Karena usaha kreatifnya, aliran ini banyak menyumbangkan dari teori-teori tingkah laku, termasuk teori belajar.
Psiko-Humanistik adalah aliran psikologi yang menekankan kekuatan dan keistimewaan manusia. Manusia lahir dengan citra dan atribut yang baik dan dipersiapkan untuk berbuat yang baik pula diantara citra yang baik itu adalah sifat-sifat dan kemampuan khusus manusia, seperti berfikir, berimajinasi, bertanggung jawab, berestetika, beretika, dan sebagainya. Orientasi aliran ini lebih menekankan pada pola-pola kemanusiaan, sehingga ia lebih dikenal sebagai aliran yang berpaham humanism. Aliran ini banyak mengutuk aliran-aliran yang muncul sebelumnya, yang sering mengesperimentasikan tingkah laku hewan untuk kemudian hasilnya digunakan memahami fenomena psikologis manusia. Upaya seperti itu boleh dibilang sebagai upaya dihumanisasi yang menafikkan citra unik manusia.
Aliran Psiko-Humanistik sangat menggantungkan teori strukturnya pada kekuatan manusia, sehingga hasil teorinya selangkah lagi menjadi ateisme. Aliran ini juga terkesan menganggap diri manusia berperan sebagai tuhan, karena manusia dalam menentukan segala-galanya.
B.   Hakikat Fitrah Dan Citra Manusia Dalam Psikologi Islam
Fitrah diungkap dalam al-quran sebanyak 20 kali yang tergelar didalam 17 surat. Diantara ayat yang memuat kata fitrah adalah Q.S ar-rum ayat 30 :

30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],



 Fitrah ini merupakan citra manusia yang penciptaannya tidak ada perubahan formal sebab jika berubah maka eksistensi manusia menjadi hilang. Keajegan fitrah sebagai pertanda agama yang lurus, walaupun hal itu tidak diketahui oleh manusia. Oleh karena itu untuk mengetahui citra manusia maka dapat ditelusuri hakikat fitrah.
1.             Makna fitrah
Dalam literature islam, istilah fitrah memiliki makna yang beragam. Hal itu disebabkan oleh pemilihan sudut makna. Fitrah yang dimaknai secara etimologi, terminology, bahkan makna nasabi. Masing-masing makna tersebut memiliki implikasi psikologis.
a.         Makna Secara etimologi
Fitrah berarti terbukanya sesuatu dan melahirkannya, seperti orang yang berbuka puasa. Dari makna dasar tersebut maka berkembang menjadi 2 makna  pokok, pertama, fitrah berarti Al-insyiqaq atau al-syaqq yang berarti al-inkisar (pecah atau belah). Kedua, fitrah berarti al-khilqah, al-ijad, atau al-ibda (penciptaan).
Kedua makna tersebut sebenarnya saling melengkapi. Makna al-insyqoq kendatipun digunakan untuk pemaknaan alam (al-kawn), namun sebenaarnya dapat dipergunakan untuk manusia. Manusia merupakan mikro kosmos (alam kecil) sedang kosmos adalah manusia makro (al-insan kawn shagir wa alkawn insan kabir). Manusia merupakan miniature alam yang kompleks. Fisiknya menggambarkan alam fisikal, sedang psikisnya menggambarkan alam kejiwaan. Segala proses takdir atau sunnah allah swt yang berlaku pada alam (al-kawn) sebenarnya juga berlaku pada manusia, seperti konsep penciptaan. Sedangkang fitrah berarrti penciptaan merupakan makna yang lazim dipakai dalam penciptaan manusia, baik penciptaan fisik maupun psikis.
b.        Makna Nasabi
Makna nasabi diambil dari pemahaman beberapa ayat dan hadist nabi dimana kata fitrah itu berada. Karena masing-masing ayat dan hadist memiliki konteks yang berbeda-beda maka pemaknaan fitrah juga mengalami keraguan.
Pertama, fitrah berarti suci (al-tubr). Menurut al-awzaiy, fitrah memiliki makna kesucian al-thubr. Pemaknaan ini didukung oleh hadist nabi yang artinya,
“setiap anak tidak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang tuanya menjadikan yahudi, nashrani, majusi, atau musyrik.”
Maksud dari hadist ini bukan berarti kosong atau netral (tidak memiliki kecenderungan baik-buruk) sebagaimana yang diteorikan oleh john locke atau psiko-Behavioristik, melainkan kesucian psikis yang terbebas dari dosa atau warisan atau penyakit rohaniah.
Kedua, fitrah berarti potensi ber-Islam. Pemaknaan semacam ini dikemukakan oleh abu hurairah bahwa fitrah berarti beragama islam. Pemaknaan tersebut menunjukkan bahwa penciptaan manusia adalah penyerahan kepada yang mutlak. Tanpa berislam berarti kehidupannya telah berpaling dari fitrah asalnya. Ber-Islam ditandai dengan penyerahan pada ayat-ayat qurani dan kauni Allah SWT.
Ketiga, fitrah berarti mengakui keesaan allah. Manusia lahir dengan membawa potensi tauhid, dan paling tidak, ia berkecenderungan untuk mengesahkan tuhan dan berusaha terus menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Keempat, fitrah berarti kondisi selamat dan kontinuitas. Pemakanaan ini dikemukakan oleh Abu Umar ibn Abd Al-bar. Hadist kudsi dikemukakan bahwa sesungguhnya aku (Allah) menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif (selamat). Maka setanlah yang menarik keburukan.
Kelima, fitrah berarti perasaan yang tulus. Manusia lahir dengan membawa sifat baik. Diantara sifat itu adalah ketulusan dan kemurnian dalam melakukan aktivitas. Pemaknaan tulus ini merupakan konsekuensi fitrah manusia yang harus berpotensi islam dan tauhid. Sebab dalam berislam berarti seseorang telah menghambakan diri kepada zat yang mutlak, yaitu Allah SWT., dan menghilangkan segala dominasi sesuatu yang temporal dan nisbi.
Keenam, fitrah berarti kesanggupan atau predisposisi untuk menerima kebenaran. Secara fitri manusia lahir cenderung berusaha mencari dan menerima kebenaran, walaupun pencarian itu masih masih tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam. Adakalanya manusia telah menemukan kebenaran itu, namun karena factor eksternal yang mempengaruinya, maka ia berpaling dari kebenaran itu. Firaun semasa hidupnya enggan mengakui kebenaran allah, tetapi ketika mulai tenggelam dan ajalnya sudah diambang kematian, ia mengakui adanya kebenaran tersebut.
Ketujuh, fitrah berarti potensi dasar manusia atau perasaan untuk beribadah dan makrifat kepada Allah. Dalam pemaknaan ini, aktifitas manusia merupakan tolak ukur pemaknaan fitrah. Manusia diperintahkan untuk beribadah agar dia mengenal allah swt. Pengenalan itu merupakan indicator pemaknaan fitrah.
Kedelapan, fitrah berarti ketetapan atau takdir asal manusia mengenai kebahagian dan kesengsaraan hidup. Pendapat ini dipegangi oleh ibnu abbas dan ahmad ibnu hambal. Manusia lahir dengan membawa ketetapan, apakah ia menjadi orang yang bahagia atau celaka. Semua ketetapan itu menurut fitrah asalnya
Kesembilan, fitrah berarti tabiat atau watak asli manusia. Watak dan tabiat menurut ikhwan al-shafa adalah daya dari daya nafs kulliyah yang menggerakkan jasad manusia. Makna inilah yang lebih tepat mengungkapkan pembagian natur dan aktifitas fitrah. Ibnu tamiah membedakan antara fitrah dan tabiat. Fitrah merupakan potensi bawaan yang berlebel islam dan berlaku untuk semua manusia. Sedangkang tabiat merupakan sesuatu yang ditentukan atau ditulis oleh Allah melalui ilmunya. Atau dengan kata lain, fitrah manusia itu pasti sama yaitu berislam tetapi tabiatnya berbeda. Fitrah lebih luas cakupannya daripada tabiat. Fitrah hanya memiliki satu natur sedangkan tabiat memiiki beberapa unsur.
Kesepuluh, fitrah berarti sifat-sifat Allah swt yang ditiupkan pada manusia sebelum lahir. Bentuk-bentuknya asmaul husna yang didlam al-quran berjumlah 99 nama-nama yang indah. Tugas manusia adalah mengaktualisasikan fitrah asmaul husna itu sebaik-baiknya, dengan cara transinternalisasi sifat-sifat itu kedalam kepribadiannya. Apabila allah swt.
c.       Makna terminology
            Berdasarkan makna etimonlogi dan nasabi maka dapat disimpulkan bahwa secara terminology fitrah adalah citra asli yang dinamis yang terdapat pada system-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk tingkah laku. Citra unik tersebut telah sejak awal penciptaannya.
2.        Fitrah dan citra manusia sebuah implikasi psikologi
Konsep fitrah yang sebagaimana tergambar pada uraian diatas menunjukkan citra unik manusia, yang mana citra unik manusia itu menjadi landasan bagi konstruksi psikologi islam. Citra unik manusia dalam psikologi islam dapat disederhanakan dalam beberapa point berikut ini :
1.      Manusia dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, berislam, bertauhid, ikhlas, mampu memikul amanah Allah swt untuk menjadi khalifah dan hambanya dimuka bumi dan menjadi potensi dan daya pilih.
2.      Selain jasad, manusia memiliki ruh yang berasal dari tuhan. Ruh menjadi esensi kehidupan manusia. Melalui fitrah ruhani maka, 1. Hakikat manusia tidak hanya dilihat dari aspek biologis namun juga dari aspek ruhaniyah. 2. Kebutuhan ruh yang paling utama adalah agama yang teraktualisasikan dalam bentuk ibadah.                               
                                                  
                       
  


           
 

2 komentar:

  1. Kayanya tulisan ini masih harus dilanjutkan...... ;)

    BalasHapus
  2. Yaa allah .. bkan dsnii kk tp yg dbawahnya lg

    Tp gk apa2lahh ... mkasiih yah kk

    BalasHapus