FITRAH DAN CITRA MANUSIA DALAM PSIKOLOGI ISLAM
A.
Citra
Manusia Dalam Psikologi Barat Kontemporer
Pemahaman
tentang citra manusia sangat beragam. Hal itu tergantung pada latar belakang
dimana citra itu merumuskan, misalnya latar belakang agama, ideologis bangsa,
cara pandang, pendekatan study, dan sebagainya. Dalam rentang sejarah
perkembangan psikologi Barat kontemporer, selain memiliki keunggulan
konsep-konsep dan teori-teorinya, terdapat juga sejumlah kritik dan catatan.
Aliran
psiko-analisis adalah aliran psikologi yang menekangkan analisis struktur
kejiwaan manusia yang relative stabil dan menetap. Aliran ini dipelopori oleh
Sigmund Freud (1856-1939) yang kemudian disempurnakan oleh putra mahkotanya Carl
Gustav dan Erik H. Erikson. Ciri utama aliran ini adalah :
1.
Menentukan
aktifitas manusia berdasarkan struktur jiwa yang terdiri atas id, ego dan
super ego.
2.
Pergerak
utama struktur manusia adalah libido, sedang libido yang terkuat
adalah libido seksual.
3.
Tingkat
kesadaran manusia terbagi atas tiga alam, yaitu alam pra-sadar, alam tak-sadar,
dan alam sadar
Dalam urain
diatas, Frued membagi aspek struktur kepribadian ke dalam tiga kategori, 1.
Aspek biologis (struktur id), 2. Psikologis (struktur ego) dan 3. Sosiologis
(struktur super ego). Dengan pembagian tiga aspek ini maka tingkatan tertinggi
kepribadian manusia adalah moralitas dan sosialitas, dan tidak menyentuh pada
aspek keagamaan. Lebih lanjut frued menyatakan bahwa tingkatan moralitas
digambarkan sebagai tingkah laku yang irasional sebab tingkah laku ini hanya
mengutamakan nilai-nilai luas, bukan nilai-nilai yang berada dalam kesadaran
manusia sendiri.
Psiko-Behavioristik
adalah aliran psikologi yang menekankan teorinya pada perubahan tingkah laku
manusia. Aliran ini dipelopori oleh John Dollard, Skiner dan Neal E. Miller.
Psiko-Behavioristik menolak struktur kejiwaan manusia yang relative stabil dan
menetap. Mereka berkeyakinan bahwa tingkah laku seseorang mudah berubah yang
dipengaruhi oleh lingkungan sekitarnya. Manusia dilahirkan bukan ditentukan
menurut hokum beterministik, yang di program seperti mesin atau robot, tetapi
dilahrkan dalam kondisi kosong atau netral. Tugas psikolog adalah menciptakan
atau mengkondisikan lingkungan yang kondusif untuk membentuk tingkah laku yang
baik. Karena usaha kreatifnya, aliran ini banyak menyumbangkan dari teori-teori
tingkah laku, termasuk teori belajar.
Psiko-Humanistik
adalah aliran psikologi yang menekankan kekuatan dan keistimewaan manusia.
Manusia lahir dengan citra dan atribut yang baik dan dipersiapkan untuk berbuat
yang baik pula diantara citra yang baik itu adalah sifat-sifat dan kemampuan
khusus manusia, seperti berfikir, berimajinasi, bertanggung jawab, berestetika,
beretika, dan sebagainya. Orientasi aliran ini lebih menekankan pada pola-pola
kemanusiaan, sehingga ia lebih dikenal sebagai aliran yang berpaham humanism.
Aliran ini banyak mengutuk aliran-aliran yang muncul sebelumnya, yang sering
mengesperimentasikan tingkah laku hewan untuk kemudian hasilnya digunakan
memahami fenomena psikologis manusia. Upaya seperti itu boleh dibilang sebagai
upaya dihumanisasi yang menafikkan citra unik manusia.
Aliran
Psiko-Humanistik sangat menggantungkan teori strukturnya pada kekuatan manusia,
sehingga hasil teorinya selangkah lagi menjadi ateisme. Aliran ini juga
terkesan menganggap diri manusia berperan sebagai tuhan, karena manusia dalam
menentukan segala-galanya.
B.
Hakikat Fitrah Dan Citra Manusia Dalam
Psikologi Islam
Fitrah diungkap
dalam al-quran sebanyak 20 kali yang tergelar didalam 17 surat. Diantara ayat
yang memuat kata fitrah adalah Q.S ar-rum ayat 30 :
30. Maka hadapkanlah wajahmu dengan
Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui[1168],
Fitrah ini merupakan citra manusia yang
penciptaannya tidak ada perubahan formal sebab jika berubah maka eksistensi
manusia menjadi hilang. Keajegan fitrah sebagai pertanda agama yang lurus,
walaupun hal itu tidak diketahui oleh manusia. Oleh karena itu untuk mengetahui
citra manusia maka dapat ditelusuri hakikat fitrah.
1.
Makna
fitrah
Dalam
literature islam, istilah fitrah memiliki makna yang beragam. Hal itu
disebabkan oleh pemilihan sudut makna. Fitrah yang dimaknai secara etimologi,
terminology, bahkan makna nasabi. Masing-masing makna tersebut memiliki
implikasi psikologis.
a.
Makna
Secara etimologi
Fitrah
berarti terbukanya sesuatu dan melahirkannya, seperti orang yang berbuka puasa.
Dari makna dasar tersebut maka berkembang menjadi 2 makna pokok, pertama, fitrah berarti Al-insyiqaq
atau al-syaqq yang berarti al-inkisar (pecah atau belah). Kedua, fitrah berarti
al-khilqah, al-ijad, atau al-ibda (penciptaan).
Kedua
makna tersebut sebenarnya saling melengkapi. Makna al-insyqoq kendatipun
digunakan untuk pemaknaan alam (al-kawn), namun sebenaarnya dapat dipergunakan
untuk manusia. Manusia merupakan mikro kosmos (alam kecil) sedang kosmos adalah
manusia makro (al-insan kawn shagir wa alkawn insan kabir). Manusia merupakan
miniature alam yang kompleks. Fisiknya menggambarkan alam fisikal, sedang
psikisnya menggambarkan alam kejiwaan. Segala proses takdir atau sunnah allah
swt yang berlaku pada alam (al-kawn) sebenarnya juga berlaku pada manusia,
seperti konsep penciptaan. Sedangkang fitrah berarrti penciptaan merupakan
makna yang lazim dipakai dalam penciptaan manusia, baik penciptaan fisik maupun
psikis.
b.
Makna
Nasabi
Makna
nasabi diambil dari pemahaman beberapa ayat dan hadist nabi dimana kata fitrah
itu berada. Karena masing-masing ayat dan hadist memiliki konteks yang
berbeda-beda maka pemaknaan fitrah juga mengalami keraguan.
Pertama,
fitrah berarti suci (al-tubr). Menurut al-awzaiy, fitrah memiliki makna
kesucian al-thubr. Pemaknaan ini didukung oleh hadist nabi yang artinya,
“setiap
anak tidak dilahirkan kecuali dalam keadaan fitrah (suci). Maka kedua orang
tuanya menjadikan yahudi, nashrani, majusi, atau musyrik.”
Maksud
dari hadist ini bukan berarti kosong atau netral (tidak memiliki kecenderungan
baik-buruk) sebagaimana yang diteorikan oleh john locke atau
psiko-Behavioristik, melainkan kesucian psikis yang terbebas dari dosa atau
warisan atau penyakit rohaniah.
Kedua,
fitrah berarti potensi ber-Islam. Pemaknaan semacam ini dikemukakan oleh abu
hurairah bahwa fitrah berarti beragama islam. Pemaknaan tersebut menunjukkan
bahwa penciptaan manusia adalah penyerahan kepada yang mutlak. Tanpa berislam
berarti kehidupannya telah berpaling dari fitrah asalnya. Ber-Islam ditandai
dengan penyerahan pada ayat-ayat qurani dan kauni Allah SWT.
Ketiga,
fitrah berarti mengakui keesaan allah. Manusia lahir dengan membawa potensi
tauhid, dan paling tidak, ia berkecenderungan untuk mengesahkan tuhan dan
berusaha terus menerus untuk mencari dan mencapai ketauhidan tersebut.
Keempat,
fitrah berarti kondisi selamat dan kontinuitas. Pemakanaan ini dikemukakan oleh
Abu Umar ibn Abd Al-bar. Hadist kudsi dikemukakan bahwa sesungguhnya aku
(Allah) menciptakan hamba-hambaku dalam keadaan hanif (selamat). Maka setanlah
yang menarik keburukan.
Kelima,
fitrah berarti perasaan yang tulus. Manusia lahir dengan membawa sifat baik.
Diantara sifat itu adalah ketulusan dan kemurnian dalam melakukan aktivitas.
Pemaknaan tulus ini merupakan konsekuensi fitrah manusia yang harus berpotensi
islam dan tauhid. Sebab dalam berislam berarti seseorang telah menghambakan
diri kepada zat yang mutlak, yaitu Allah SWT., dan menghilangkan segala
dominasi sesuatu yang temporal dan nisbi.
Keenam,
fitrah berarti kesanggupan atau predisposisi untuk menerima kebenaran. Secara
fitri manusia lahir cenderung berusaha mencari dan menerima kebenaran, walaupun
pencarian itu masih masih tersembunyi di dalam lubuk hati yang paling dalam.
Adakalanya manusia telah menemukan kebenaran itu, namun karena factor eksternal
yang mempengaruinya, maka ia berpaling dari kebenaran itu. Firaun semasa
hidupnya enggan mengakui kebenaran allah, tetapi ketika mulai tenggelam dan
ajalnya sudah diambang kematian, ia mengakui adanya kebenaran tersebut.
Ketujuh,
fitrah berarti potensi dasar manusia atau perasaan untuk beribadah dan makrifat
kepada Allah. Dalam pemaknaan ini, aktifitas manusia merupakan tolak ukur
pemaknaan fitrah. Manusia diperintahkan untuk beribadah agar dia mengenal allah
swt. Pengenalan itu merupakan indicator pemaknaan fitrah.
Kedelapan,
fitrah berarti ketetapan atau takdir asal manusia mengenai kebahagian dan
kesengsaraan hidup. Pendapat ini dipegangi oleh ibnu abbas dan ahmad ibnu
hambal. Manusia lahir dengan membawa ketetapan, apakah ia menjadi orang yang
bahagia atau celaka. Semua ketetapan itu menurut fitrah asalnya
Kesembilan,
fitrah berarti tabiat atau watak asli manusia. Watak dan tabiat menurut ikhwan
al-shafa adalah daya dari daya nafs kulliyah yang menggerakkan jasad manusia.
Makna inilah yang lebih tepat mengungkapkan pembagian natur dan aktifitas
fitrah. Ibnu tamiah membedakan antara fitrah dan tabiat. Fitrah merupakan
potensi bawaan yang berlebel islam dan berlaku untuk semua manusia. Sedangkang
tabiat merupakan sesuatu yang ditentukan atau ditulis oleh Allah melalui
ilmunya. Atau dengan kata lain, fitrah manusia itu pasti sama yaitu berislam
tetapi tabiatnya berbeda. Fitrah lebih luas cakupannya daripada tabiat. Fitrah
hanya memiliki satu natur sedangkan tabiat memiiki beberapa unsur.
Kesepuluh,
fitrah berarti sifat-sifat Allah swt yang ditiupkan pada manusia sebelum lahir.
Bentuk-bentuknya asmaul husna yang didlam al-quran berjumlah 99 nama-nama yang
indah. Tugas manusia adalah mengaktualisasikan fitrah asmaul husna itu
sebaik-baiknya, dengan cara transinternalisasi sifat-sifat itu kedalam
kepribadiannya. Apabila allah swt.
c.
Makna
terminology
Berdasarkan makna etimonlogi dan nasabi maka dapat disimpulkan bahwa
secara terminology fitrah adalah citra asli yang dinamis yang terdapat pada
system-sistem psikofisik manusia, dan dapat diaktualisasikan dalam bentuk
tingkah laku. Citra unik tersebut telah sejak awal penciptaannya.
2.
Fitrah
dan citra manusia sebuah implikasi psikologi
Konsep
fitrah yang sebagaimana tergambar pada uraian diatas menunjukkan citra unik
manusia, yang mana citra unik manusia itu menjadi landasan bagi konstruksi
psikologi islam. Citra unik manusia dalam psikologi islam dapat disederhanakan dalam
beberapa point berikut ini :
1.
Manusia
dilahirkan dengan citra yang baik, seperti membawa potensi suci, berislam,
bertauhid, ikhlas, mampu memikul amanah Allah swt untuk menjadi khalifah dan
hambanya dimuka bumi dan menjadi potensi dan daya pilih.
2.
Selain
jasad, manusia memiliki ruh yang berasal dari tuhan. Ruh menjadi esensi
kehidupan manusia. Melalui fitrah ruhani maka, 1. Hakikat manusia tidak hanya
dilihat dari aspek biologis namun juga dari aspek ruhaniyah. 2. Kebutuhan ruh
yang paling utama adalah agama yang teraktualisasikan dalam bentuk ibadah.
Kayanya tulisan ini masih harus dilanjutkan...... ;)
BalasHapusYaa allah .. bkan dsnii kk tp yg dbawahnya lg
BalasHapusTp gk apa2lahh ... mkasiih yah kk